Jombang, NU Online
Pesantren Tebuireng Jombang terus mengembangkan sayap dalam dunia pendidikan. Kali ini pesantren yang dipimpin KH Shalahudin Wahid ini membuka pendidikan SMA Trensains yang dipusatkan di Desa Jombok Kecamatan Ngoro Jombang.

Di bawah naungan Pesantren Tebuireng II, SMA trensains didirikan diatas lahan seluas 4 hektar, pada tahun ajaran baru 2014 ini telah menerima sebanyak 120 siswa.

"Di Indonesia baru ada dua, dan yang disini siswa yang masuk sebanyak 120 siswa. Yakni 70 siswa putri dan 50 putra," ujar Agus Purwanto Penggagas SMA Trensain disela sela peresmian yang dihadiri langsung Menteri Agama RI, Lukman Hakim, Sabtu (22/8).

SMA trensains sendiri lanjutnya merupakan penggabungan sistem pendidikan agama dan sains yang selama ini masih belum ada. Trensains didesain khusus dan berkonsentrasi pada sains dengan berbasis pemahaman dan nalar ayat ayat semesta.

"Seperti disebutkan dalam Al quran mengapa ada surat yang diberi An Naml (semut) ini siswa harus mempelajari ayat ayat dalam surat ini, sehingga bisa mengetahui apa yang tersirat dalam surat Semut ini," ujar dosen ITS ini dalam sambutannya.

Agus menambahkan, SMA Trensains mengambil kekhususan pada pemahaman Alqur'an dan hadist kealaman dan interaksinya." Yakni Interaksi antara agama dan sains merupakan materi khas SMA trensains yang berbeda dengan sekolah di kalangan pondok modern lain,"tandasnya.

Agus menambahkan, para siswa atau santri trensains dibimbing untuk mempunyahi kemampuan nalar matematik dan filsafat yang memadai. Konsep dasar limit, diferensial dan integral perlu diperkenalkan sebagai alat analisi dan memahami fisika." Proyeksi kedepan, lahir ilmuwan sains kealaman, rkayasa dan dokter yang mempunyai basis lquran yang kokoh," pungkasnya. 

KH Salahudin Wahid mengatakan, SMA trensains merupakan paduan antara ilmu agama dan sains. Model pendidikan ini dikatakannya mengembangkan apa yang telah dilakukan ayahnya KH Wahid Hasyim yang juga berusaha menggabungkan pendidikan umum dengan memberi materi agama untuk pendidikan umum dan juga pendidikan pesantren dengan materi umum yang sempat ditolak para ulama dan kiai.

"Pada dasarnya kita melanjutkan apa yang telah dilakukan KH Wahid Hasyim dulu, dan tebuireng kini mengembangkan itu," tuturnya seraya mengatakan hingga saat ini belum ada pesantren atau sekolah Islam yang mengambil khusus untuk memperdalam Sains. (Muslim Abdurrahman/Anam)