TRENSAINS, Jalan Sunyi Pecinta al-Quran dan Sains (bagian 2)

Al-Quran dan Alam
Ada dua kenyataan yang dapat kita tangkap dari uraian di depan. Produk teknologi telah memenuhi dan mengepung kehidupan kita. Sayangnya, semua produk teknologi tersebut hampir tidak ada yang keluaran atau produksi dari negeri muslim. Kenyataan ini memunculkan pertanyaan bagaimana sebenarnya hubungan antara Islam dan sains sehingga umat Islam saat ini tidak banyak terlibat dan memberi kontribusi. Bagaimana Islam sebagai agama langit memandang sains sebagai produk manusia?
Knowledge is power, ilmu pengetahuan adalah kekuatan. Diktum ini secara sederhana meniscayakan seseorang atau komunitas untuk menguasai sains jika ingin eksis. Masalahnya, sains seperti apa yang harus dipelajari dan dikembangkan agar tidak muncul hasil samping berupa nestapa masyarakat modern sebagaimana diuraikan di depan.
Sains yang dibahas di depan adalah sains yang menjadi pondasi teknologi yakni sains kealaman, natural science, bukan sains humaniora. Sains kealaman adalah sains dengan alam sebagai obyek kajiannya yang secara formal terbagi dalam bidang-bidang sains astronomi, biologi, fisika, kimia, geologi, farmasi dan kedokteran maupun terapan teknologinya.
Karena itu, langkah paling mudah dan praktis untuk mendapatkan gambaran atau pandangan tentang sains kealaman dari al-Quran adalah mengidentifikasi semua ayat yang menyinggung bagian-bagian alam dengan berbagai fenomenanya. Sebagai contoh, ayat kauniyah jika memuat kata air, awan, besi, bintang, burung, cahaya, darah, emas, jahe, kapal, kilat, langit dan zarrah. Perhitungan langsung menghasilkan 1108 ayat dimaksud dan masih bersifat umum. Pemilahan dengan batasan makna atau pesan lebih spesifik menyisakan 800 ayat.
Dua ayat yang memuat kata langit السماء- السموات dan Bumi الارض berikut dapat dijadikan contoh. Pertama,
¼çms9 $tB Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# $tBur Îû ÇÚöF{$# ( uqèdur Í?yèø9$# ãLìÏàyèø9$# ÇÍÈ
Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di Bumi. dan Dialah yang Mahatinggi lagi Mahabesar. (QS asy-Syuuraa 42:4)

Informasi yang diberikan ayat ini bersifat sangat umum dan tidak secara langsung menuntun pada konsep khusus tentang Bumi dan langit meskipun memuat kedua kata tersebut. Di dalam pandangan dunia tauhid realitas terdiri dari dua yaitu khaaliq خالق dan makhluq مخلوق , pencipta dan yang dicipta. Pencipta hanya satu Allah swt, selain Allah Sang Pencipta adalah makhluk ciptaan sekaligus milik-Nya. Ciptaan ada yang bersifat material dan imaterial; yang bersifat material adalah langit, Bumi dan isinya.
Kedua,

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan perintah-Nya ....  (QS ar-Ruum 30:25)

Ayat ini memuat informasi spesifik, langit dan Bumi berdiri tegak karena perintah-Nya. Pertanyaan yang dapat diajukan adalah bagaimana, kapan, berapa kali dan seberapa kuat perintah Allah diberikan untuk berdirinya langit dan Bumi. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini dapat membawa pada konsep atau teori penciptaan langit dan Bumi atau jagat raya. 
Ada juga ayat yang bercerita keadaan setelah kiamat yang juga dikelompokkan sebagai ayat-ayat (alam) semesta. Contohnya,

Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas minuman yang bercampur jahe. (QS al-Insaan 76:17)

Ayat ini sebenarnya memberi informasi tentang hal yang masih gaib, surga. Masalahnya, penghuni surga akan diberi minuman dan minuman itu dicampur dengan tanaman yang banyak ditemukan di Bumi yaitu zanjabiila زنجبيلا jahe. Pertanyaan sederhananya adalah mengapa jahe bukan kopi, teh hangat atau es kelapa muda atau jus alpukat.  Jawaban atas pertanyaan ini juga akan membawa pada sains tentang tanaman khususnya jahe.
Informasi al-Qur’an tentang alam dapat diklasifikasi menjadi tiga kelompok besar. Pertama adalah informasi secara langsung secara tekstual sehingga tidak memerlukan penafsiran atau pemahaman lebih lanjut. Contoh pola ini adalah informasi tentang keistimewaan cairan dari perut lebah (QS 16:69). Kedua, informasi secara implisit dan memerlukan penafsiran lebih lengkap atas redaksional yang digunakan oleh ayat seperti rahasa semut (QS 27:18). Ketiga, informasi secara simbolik yakni oleh bentuk atau susunan huruf seeperti dalam kasus orbit benda langit (QS 36:40).