TRENSAINS, Jalan Sunyi Pecinta al-Quran dan Sains (bagian 3)

Al-Quran dan Akal
Membicarakan sains sejatinya membicarakan hasil olah pikir dan aktivitas akal manusia, sehingga ada baiknya terlebih dahulu meninjau piranti dasarnya yakni akal. Terdapat fakta menarik tentang akal yaitu terdapat 49 kata (dasar) akal di dalam al-Quran. Menariknya, semua kata dimunculkan dalam kata kerja (fi’il) bukan kata benda (isim). Hal ini seolah mengisyaratkan bahwa akal bukan monumen untuk dipandangi, dipuja apalagi diberhalakan melainkan aktivitas yang harus dilakukan.
Lebih jauh, dari 49 kata akal dalam bentuk kata kerja ini, 48 dalam bentuk kata kerja sedang/akan atau imperfektum  fi’il mudhori’.dan hanya satu kata kerja lampau fiil madhi. Fakta ini seolah menyatakan bahwa pemikiran sebagai sejarah sala lalu memang boleh tetapi yang lebih penting adalah sekarang dan masa depan dengan berfikir dan terus berfikir. Klasifikasi kasar menampilkan akal dengan pola: ya’qiluun يعقلون  22 kali, ta’qiluun تعقلون  24 kali dan na’qiluنعقلya’qilu    يعقل ,  ’aqaluu  عقلوا   masing-masing satu kali. Masing-masing pola mempunyai karakeristik pesan tersendiri.
Beberapa catatan dapat diberikan pada dua pola utama yakni pola ta’qiluun dan pola ya’qiluunTa’qiluun adalah fi’il mudhari’ untuk pihak kedua, engkau atau kalian (banyak). Orang yang sedang membaca al-Quran dapat dipandang sebagai peristiwa dialog dengan al-Quran sebagai pihak pertama dan pembaca sebagai pihak kedua.
Al-Quran memberi pesan khas kepada setiap mitranya melalui redaksional ta’qiluun, yakni pesan moralitas, peringatan. Kita sebagai mitra berdialog al-Quran diingatkan bahwa manusia sering lalai dan tidak mau merenung. Manusia sering mementingkan hal remeh dan mengabaikan hal utama. Redaksi ta’qilunn juga menyampaikan bahwa al-Quran memuat etika dan petunjuk dalam berteman serta mencapai kemuliaan .
Al-Quran tidak meminta semua manusia memperhatikan kejadian atau fenomena alam kecuali fenomena yang memang setiap orang mengalamainya yaitu peristiwa kematian dan kelahiran, serta pertukaran siang menjadi malam dan sebaliknya. Karena kenyataannya banyak manusia yang abai dan lalai terhadap peristiwa tersebut.
Hidup dan mati, pertukaran siang dan malam bukan sekedar peristiwa mekanis yang rutin. Dalam peristiwa kematian terdapat sesuatu yang hilang dari jasad fisik, tubuh yang semula bisa bergerak kemudian menjadi onggokan yang disebut jenazah atau mayat. Sesuatu yang hilang tersebut mulanya berada di mananya manusia dan ketika mati menghilang ke mana.
Ketika menyaksikan kelahiran, manusia dapat bertanya bagaimana mungkin tetesan mani seorang lelaki yang bertemu dengan sel telur perempuan dapat menjadi titik noktah sangat kecil kemudian terus membesar bahkan bisa hidup. Bagaimana tetesan sederhana berkembang menjadi organyang sangat kompleks dan rumit? Dari manakah sesuatu yang menghidupkan tersebut dan kemudian bersemayam di bagian mana dari tubuh manusia? Tetapi sayang manusia akibat kemalasan berfikirnya sering mengabaikan peristiwa tersebut bahkan tidak jarang kemudian menganggap peristiwa itu dapat berlangsung dengan sendirinya.
Selain pesan moral dan etis, pesan yang perlu kita perhatikan dengan lebih serius adalah bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi al-Quran dengan kita yakni bahasa Arab

Sesungguhnya Kami menurunkan al-Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. (QS Yusuf 12: 2)

Sesungguhnya Kami menjadikan al-Quran dalam bahasa Arab supaya kamu berfikir. (QS az-Zukhruf 43: 3)

Umat Islam diminta untuk berfikir dan memahami seluk beluk bahasa Arab sebagai bahasa al-Quran. Setiap kalimat pasti tersusun dari sejumlah kata. Setiap pilihan kata demi kata di dalam al-Quran harus diperhatikan dengan cermat karena pesan memang disampaikan secara cermat, mempunyai tujuan tertentu dan tidak main-main atau trial-error.
Pola lain, ya’qiluun merupakan kata kerja sedang dan akan (fi’il mudhari’) dengan subyek oramg ketiga jamak. Komunikasi pola ini berarti al-Quran bercerita tentang pihak ketiga kepada pembacanya. Isi pesan yang disampaikan oleh ayat dengan muatan redaksi ya’qiluun mempunyai dua pola. Pertama, berkisah sekelompok manusia yang enggan menerima kebenaran dan hal baru, tidak beretika, bebal bagai hewan ternak, suka membuat kedustaan dan omong kosong, serta suka mengejek orang bersembahyang.
Orang-orang yang tidak mau berfikir ini meskipun berkelompok tetapi hati mereka sejatinya tercerai berai tidak bersatu. Mereka kadang mendengar omongan orang saleh tetapi mereka tidak mengerti. Orang-orang jahil ini suka panjang angan, ingin hidup lebih lama di muka Bumi. Akhirnya, mereka yang tidak mau berfikir ini, dilabel sebagai makhluk terburuk di sisi Allah.
Orang-orang yang tidak berfikir disebut dengan beberapa istilah yang berbeda, stetapi orang-orang yang berfikir disebut hanya dengan satu istilah qaumun ya’qiluun, kaum atau sekelompok orang yang berfikir dan suka merenung. Kelompok ini digambarkan sebagai orang mempunyai hati mau memahami sesuatu yang di dengar dan dilihatnya serta suka  memperhatikan apa saja tatkala melakukan perjalanan.
Al-Quran bercerita tentang orang-orang yang merenungkan kejadian langit dan bumi, tergelitik pada kapal laut yang berlayar dan mengangkut banyak sekali barang berat, maupun aneka hewan (QS 2: 164). Kaum ini juga memikirkan dengan serius bagian-bagian yang berdampingan di Bumi dan pohon bercabang serta yang tidak bercabang (QS 13: 4). Pohon dan buah kurma serta anggur yang dapat dijadikan minuman juga diteliti (QS16: 67). Pergantian siang dan malam, serta orientasi arah angin yang disebabkannya dianalisa dan dikaji juga (QS 45:5). Kilat dan hujan tidak luput dari perhatian para ilmuwan ini (QS 30: 24). Sebagian lainnya mengamati dan memikirkan benda-benda langit seperti matahari yang menyinari Bumi di siang hari, bulan dan bintang yang muncul di malam hari (QS 16: 12).
Kaum yang berfikir selain diungkapkan dengan istilah qaumun ya’qiluun juga dengan istilah qaumun yatafakkaruunقوم يتفكرون  dengan pengertian yang sama yakni perenung fenomena alam. Fenomena yang diamati dan dipikirkan seperti air hujan yang menyuburkan dan tumbuhan yang terserang hama (QS 10: 24), air hujan yang menumbuhkan zaitun,  kurma dan anggur (QS 16:11). Khasiat madu menjadi bahan perhatian (QS 16:99), juga buah yang berpasangan, Bumi yang terbentang, gunung dan sungai (QS 13:3). Pada dasarnya, obyek di langit dan di Bumi mengikuti kaidah yang dapat dipahami mereka yang mau memikirkannya (QS 45: 13).
Perbedaannya dibanding qaumun ya’qiluunqaumun yatafakkaruun juga untuk perenungan fenomena nonfisik yakni jiwa. Pertama, jiwa yang mengikat pernikahan (QS 30:21). Kedua, jiwa orang mati, tidur dan hidup bebas (QS 39: 42). Menariknya, al-Quran menyandingkan kata yadzkuruun يذكرون , berdzikir dengan yatafakkaruun. Orang-orang yang berdzikir mengingat Allah dalam setiap keadaan ini sekaligus merenungkan penciptaan langit dan Bumi (QS 3: 191).
Dari pola dialog antara al-Quran dan para pembacanya dapat diperoleh gambaran berikut. Setiap orang, setiap kita diberi pesan agar kita mempunyai pemahaman moral dan merealisainya dalam interaksi antar manusia. Kita juga diperintah untuk merenungkan diri kita sendiri, asal usul, proses kejadian sampai akhir perjalanan hidup kita. Ahli hikmah menyatakaan
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ عَرَفَ رَبَّهُ
”Barangsiapa mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya”

Al-Quran pun tidak meminta setiap pembacanya untuk memperhatikan dan memahami aneka fenomena alam. Hanya dua fenomena alam yang dipesankan untuk direnungkan yaitu pergantian siang-malam dan waktu malam itu sendiri. Kedua fenomena ini merupakan fenomena rutin yang meliputi dan karenanya dialami serta dirasakan semua orang normal. Akibatnya, peristiwa ini berlalu begitu saja bagi orang kebanyakan tanpa kesan, tanpa renungan mengapa, bagaimana dan siapa di balik keduanya.
Al-Quran menyadari kemampuan dan minat setiap orang karena itu al-Quran tidak menganjurkan setiap mitra dialognya untuk memperhatikan dan memikirkan aneka fenomena alam yang spesifik. Fenomena seperti kapal ribuan ton dapat berjalan di air tanpa tenggelam, hujan yang diiringi sambaran kilat, gerak angin yang mampu mendorong perahu melaut serta angin yang mampu membawa putik tanaman, pohon yang bercabang dan tanpa cabang, dan lainnya hanya dipelajari oleh komunitas tertentu yang mempunyai kekuatan akal lebih, qaumun ya’qiluun komunitas ilmuwan.
Para pemikir sejak trio Thales, Anaximandros dan Anaximenes dari Malta, pemikir mistis dari pulau Samos Pythagoras sampai Archimedes dan Ptolomeus di Alexandria dapat dipandang sebagai qaumun ya’qiluun karena mereka memikirkan fenomena alam. Demikian pula dengan Aristhoteles dan Ptolomeus yang mempelopori gagasan bumi sebagai pusat alam semesta atau geosentris. Ptolomeus dan perenung sebelumnya yang lahir dan muncul sebelum al-Quran turun seperti mewakili tokoh Hayy Ibn Yaqzan dalam karya Abu Bakar Ibn Thufail. Hayy Ibn Yaqzan adalah sosok yang sejak orok diasuh seekor rusa. Ia memikirkan alam sekitarnya dengan kemampuan indera, hati dan akal pikirannya tanpa bimbingan manusia lain maupun wahyu dalam kitab suci.

Al-Quran memberi sebutan istimewa bagi pemerhati dan perenung alam dan isinya yaitu sebutan ulul albab (QS 3:190). Mereka menjadi pribadi yang berilmu, sosok yang alim dan disebut juga sebagai ulama. Para ulama ini merupakan sosok yang sangat hati-hati dalam laku dan kata karena sadar bahwa semua harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt. Mereka sangat takut pada Allah (QS Faathir 35: 28). Ulama di dalam ayat ini selain diidentifikasi sebagai sosok yang membaca kitab, menegakkah shalat dan menafkahkan sebagian rezeki (QS Faathir 35:29) juga perhatian pada fenomena hujan dan tanaman yang ditumbuhkannya serta fenomena di gunung-gunung (QS Faathir 35:27) . Ulama memperhatikan dan memahami fenomena alam.