MEMBUKA APLIKASI ISLAMISASI SAINS ALA ILMUWAN ITS SURABAYA

MEMBUKA APLIKASI ISLAMISASI SAINS ALA ILMUWAN ITS SURABAYA
oleh: Abdul Ghofur
Gus Pur itulah panggilan akrab Ustadz Agus Purwanto, D.S.c  Ilmuwan asal  ITS Surabaya alumni Universitas Hirosima Jepang, beliau adalah penggagas berdirinya Trensains (baca: Pesantren Sains). Trensains merupakan suatu gagasan peradaban dan gagasan pemikiran islamisasi sains, Trensains lahir ditengah-tengah tumbuh suburnya paham liberalisme, atheisme, dan komunisme pada pandangan global, tak terkecuali pengembangan sains modern yang tidak bisa lepas dari pengaruh paham-paham tersebut.
Infeksi  paham liberalisme, atheisme, dan komunisme ternyata telah memisahkan konsep-konsep Al Qur’an dengan dunia Sains. Sains seakan-akan tidak ada hubungannya dengan Al Qur’an begitu pula Al Qur’an seakan-akan tidak ada interaksinya dengan Sains. Pengembangan sains nyaris telah memisahkan sendi-sendi kehidupan, masyarakat modern yang terlahir dari pengembangan sains telah memiliki madzab baru yaitu mazdab Saintifik yang telah memisahkan hubungan harmonis antara agama dan sains.
Al Qur’an yang terdiri dari 113 surah dan 6666 ayat ternyata lebih dari 800 ayat yang membicarakan tentang Sains, jumlah ini justru lebih besar dari pada ayat yang membicarakan tentang Fiqih yang berjumlah tidak sampai mencapai 200 ayat. Jika para ilmuwan sains menganggap konsep agama itu terpisah dengan sains, maka anggapan ini perlu kita pertanyakan. Karena jumlah tersebut sudah menggambarkan adanya pola interaksi antara Al Qur’an dengan sains itu sendiri.
Lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia pada umumnya hanya menerima dan mengajarkan sains apa adanya, rumusan-rumusan Kompetensi Dasar (KD) dalam kurikulum belum mengambarkan pola-pola interaksi dengan agama/Al-Qur’an. Hal ini juga terjadi pada lembaga-lembaga  pendidikan islam dan Pondok Pesantren. Hukum kekalan energi yang mengatakan bahwa energi itu kekal tidak dicipta dan tidak dapat dimusnahkan disampaikan begitu saja tanpa ada penjelasan lebih lanjut pada  lembaga-lembaga  pendidikan islam dan Pondok Pesantren, lalu bagaimana dengan konsep rukun iman kita?
Sudah saatnya lembaga-lembaga  pendidikan islam dan Pondok Pesantren kembali kepada sains islam, sains yang tidak dipisahkan dengan Al Qur’an, karena sudah terbukti infeksi liberalisme, atheisme, dan komunisme dalam dunia sains telah membawa petaka, kerusakan, dan tragedi kemanusiaan yang sangat besar.
Aplikasi Islamisasi sains (Trensains) harus terinstall dengan baik pada lembaga-lembaga  pendidikan islam dan Pondok Pesantren. Sains harus dikembangkan dengan konsep ontologi, epistemologi, dan aksiologi  islam yang mengacu pada Al Qur’an.
Ontologi sains Islam memandang bahwa realitas bukan hanya materi (QS. Al-Haqqah ayat 38-39), aksiologi sains islam telah menjadikan manusia semakin tunduk, dekat, dan takut kepada Allah, serta semakin takjub dengan pola-pola ciptaannya (QS. Fathir ayat 27-28), sedangkan epistemologi islam mengatakan bahwa ada tiga piranti manusia yang dapat digunakan untuk memperoleh pengetahuan (QS. Al- Nahl ayat 16), bukan sekedar metode ilmiah yang digunakan dalam dunia sains tetapi juga Fuad sebagai salah satu pirantinya. Dengan demikian gagasan trensains harus mampu mengikis habis infeksi paham liberalisme, atheisme, dan komunisme dalam pengembangan sains kedepan.