Ketika Sains-Islam Merekonstruksi Peradaban Manusia

Ketika Sains-Islam Merekonstruksi Peradaban Manusia
(Tinjauan konsep SMA Trensains Tebuireng Jombang)
Saintis memerupakan paham falsafati yang meyakini kebenaran pernyataan bahwa pengetahuan manusia yang benar itu hanya dapat diperoleh melalui suatu metode – satu-satunya metode – yang disebut metode sains. Menurut paham ini, pengetahuan manusia itu baru boleh disebut benar (‘benar’ dalam arti true, dan bukan right) apabila memenuhi dua syarat pembuktian; yaitu masuk akal dan terdeteksi serta teridentifikasi secara indrawi. (Wignjosoebroto, 2012).
Paham saintisme inilah yang kemudian menginduksi paham positivisme yang memiliki cara pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains, sehingga berkembanglah sains positivistik. Para penganutnya meyakini bahwa hanya ada sedikit perbedaan (jika ada) antara ilmu sosial dan ilmu alam, karena masyarakat dan kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturan-aturan, demikian juga alam.
Selama beberapa abad hingga saat ini sains positivistik telah melahirkan berbagai teori dan teknologi yang dirasakan manfaatnya oleh umat manusia.Di sisi lain, manusia mulai merasakan ada pecahan puzzle yang hilang saat menyelami kedalaman sains. Bagai air laut, semakin diminum semakin menambah dahaga.Sains positivistik yang menjelma menjadi sains modern saat ini bahkan tidak mampu menjawab pertanyaan tentang hakikat kehidupan itu sendiri.
Beragam derivat yang lahir dari sains modern kini tak terelakkan lagi. Produk sains yang bernama teknologi pun mendatangkan tantangan baru bagi umat manusia. Fenomena alienasi, yaitu keterasingan dalam sosialita, pergaulan yang menerjang norma dan etika, hingga terkoneksinya dunia beserta pengaruh budayanya tanpa kendali dengan internet, adalah sebagian tantangan bagi generasi manusia saat ini.Munculnya sebutan “sex paradise” bagi negara Jepang, budaya seks bebasyang “lumrah” di negara-negara Eropa, Amerika, & mulai menjalar di Asia, hingga penyebaran narkoba yang didukung dengan teknologi maju melahirkan sebuah pertanyaan. Dimanakah peran sains-modern sebagai induk teknologi selama ini?
Bangunan sains-Islam selalu mensinergikan interaksi antara Manusia – Alam – Tuhan,sedangkan sains yang berkembang selama ini memutus salah satu interaksi, yaitu eksistensi Tuhan. Inilah bagian penting puzzle sains-modern yang belum terlengkapi. Sekularisasi inilah yang membangun sains-modern sehingga paham materialisme selalu melekat dalam perkembangannya hingga saat ini. Contoh yang cukup kontradiktif adalah pemahaman sains-modern  tentang energi yang bersifat absolut serta hukum konservasi massa, terhadap pemahaman Islam tentang Keabsolutan Tuhan. Karena telah disepakati oleh pakar sejak bertahun-tahun silam, kinipara siswa pun dituntut untuk mengikuti pemahaman sains-modern tersebut tanpa mencerna dengan sempurna tentang hakikat konsepnya.
Pesantren klasik (pondok pesantren/ ponpes) sebagai institusi pendidikan Islam selama ini mengajarkan materi atau ilmu Keislaman seperti aqidah, fiqih dan tasawwuf. Ponpes telah melahirkan ulama syariah atau hukum Islam. Pondok pesantren modern menggabungkan pengajaran pesantren klasik dan sekolah umum. Ponpes terakhir ini ke depannya diproyeksikan melahirkan sarjana muslim yang mempunyai wawasan keislaman yang memadai. Kedua model tersebut selama ini telah hadir dan turut mewarnai pendidikan Islam di negeri ini. Tetapi sisi konstruksi sains-modern yang sekular belum dikaji secara spesifik.
Berbekal dua pedoman sempurna, yaitu Al-Qur’an dan Al Hadist, tumbuhlah semangat untuk merekonstruksi sains dengan semangat baru bernama Trensains. Trensains adalah kependekan dari Pesantren Sains dan merupakan sintesis dari pesantren dan sekolah umum bidang sains. Gagasan ini semula dikemukakan oleh Dr.HC. Salahudin Wahid (Gus Sholah) Pengasuh Pesantren Tebuireng, bersama  Agus Purwanto, D.Sc., salah satu alumni Universitas Hiroshima yang kini aktif sebagai dosen di ITS. Trensains tidak menggabungkan materi pesantren dan ilmu  umum sebagaimana ponpes modern. Trensains mengambil kekhususan pada pemahaman Al-Quran, Al-hadits, sains kealaman (natural science) dan interaksinya. Poin terakhir, interaksi antara agama dan sains merupakan materi khas trensains dan tidak ada dalam ponpes modern.
Kemampuan bahasa Arab dan bahasa Inggris menjadi persyaratan dasar bagi para santri  semua ponpes modern. Bagi santri trensains, para santri juga dituntut mempunyai kemampuan nalar matematik dan filsafat yang memadai. Proyeksi ke depan bagi para alumni adalah lahirnya ilmuwan sains kealaman, teknolog, dan dokter yang mempunyai basis al-Quran yang kokoh.
Konsep Trensains ini kemudian bermetamorfosis menjadi lembaga setingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) agar lebih nyata perannya. Diantara pesantren yang mempelopori berdirinya SMA Trensains adalah Pesantren Tebuireng Jombang yang pada 2014 ini akan memulai gerakan baru rekonstruksi sains-Islam.
SMA Trensains Tebuireng merupakan tuangan gagasan dari sang negarawan dan sang ilmuwan yang mewujud dalam sebuah lembaga pendidikan. Di dalamnya sains akan dikaji dengan berangkat dari Al Qur’an, sebuah pedoman hidup sempurna yang tidak hanya berisi konsep-konsep aqidah, hukum, dan muamalah, tetapi juga konsep otentik tentang alam semesta karena kitab ini adalah Ucapan (firman) langsung dari Allah, Sang Maha Pencipta. SMA Trensains Tebuireng terletak di Desa Jombok, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, yang dibagun dengan luas  lahan 6 hektar dan direncanakan akan menghabiskan dana sebesar Rp. 59. 000.000,000, (Lima Puluh Sembilan Miliyar rupiah). Kurikulum yang digunakan adalah Kurikulum Semesta yaitu unifikasi dari Kurikulum Nasional, Internasional, dan Kearifan Pesantren Sains. Kurikulum tersebut menghendaki Al Qur'an sebagai basis epistemologi dalam pengembangan sains, dimana produknya akan melahirkan calon-calon ilmuwan yang memiliki kedalaman filosofis serta keluhuran akhlaq.
Demi menjaga mutu pendidikan, SMA Trensains Tebuireng juga bermitra dengan FMIPA UNESA untuk pengelolahan sekolah. Kegiatan kemitraan tersebut diwujudkan dalam program konsultasi, diskusi, asistensi, diklat peningkatan mutu guru, dan pengembangan kurikulum sekolah. Selain itu, UIN Malang dan ITS juga berkontribusi dalam pengembangan sekolah melalui kegiatan kemitraan yang telah dijalain. Melalui semua ikhtiar inidiharapkan muncul pelita baru lahirnya sains-Islam yang membangun kembali manusia masa depan lebih beradab, sebagaimana generasi keemasan Islam yang telah lampau.

Penulis,

TendikaSukmaningtyas R. & Abdul Ghofur