Pemikiran Agus Purwanto Dalam Wacana Perkembangan Ilmu Kontenporer

Pemikiran Agus Purwanto Dalam Wacana Perkembangan Ilmu Kontenporer
Oleh: Abdul Ghofur, S.Pd.
Pengembang Kurikulum SMA Trensains Tebuireng

Ayat-Ayat Semesta dan Nalar Ayat-Ayat Semesta adalah dua buku yang membahas ayat-ayat kauniah yang didalamnya digunakan sebagai sumber ilmu pengetahuan. Ayat-ayat al Qur’an digunakan sebagai sumber ilmu pengetahuan untuk melahirkan teori dalam ilmu pengetahuan. Ayat-ayat al Qur’an digunakan sebagai sumber ilmu pengetahuan atau yang biasa disebut sebagai epistemologi ilmu.
Nalar Ayat-Ayat Semesta banyak menjelaskan tentang teori ilmu pengetahuan modern yang kemudian diuraikan melalui pendekatan wahyu. Sebagian lain ada yang menguraikan ayat-ayat kauniah yang digunakan sebagai sumber inspirasi atau sebagai epistemologi yang lahir dari wahyu. Seperti dalam surah Az Zumar yang membahas tentang delapan pasang hewan ternak yang diturunkan dari langit. Apa maksud hewan turun dari langit? Mengapa diturunkan, langit yang mana? Apakah dari bintang, bulan atau benda langit mana? Dari inspirasi tersebut menurut Agus Purwanto dapat lahir teori baru atau muncul bidang ilmu baru yang bisa disebut dengan ilmu astrogenetika atau astrobiologi. Dari sini ilmuwan para ilmuwan biologi dan para astronom bisa bekerja sama untuk melakukan penelitian dengan menggunakan surah Az Zumar sebagai pijakan. Al Qur’an sebagai hudaan linnas.
Al Qur’an menyuruh manusia mempelajari sistem skema penciptaan, keajaiban-keajaiban alam, sebab dan akibat seluruh benda-benda yang ada, kondisi organisme yang hidup, seluruh tanda-tanda kuasaan Tuhan  yang ada di alam eksternal manusia dan kedalaman-kedalaman batin jiwa manusia. Al Qur’an menyuruh berpikir dan merenungkan seluruh aspek-aspek penciptaan dan menyuruh manusia menggunakan nalar dan fakultas-fakultas lainnya untuk menemukan rahasia alam.
Perkembangan pemikiran Agus Purwanto di bidang islamisasi ilmu jika dirunut dengan pendahulunya,  ia tidak lagi membahas landasan dasar filsafat ilmu itu sendiri, tetapi turunan dari pemikiran itu sendiri  untuk menjadikan al Qur’an sebagai sumber ilmu. Jika Al Attas dengan konsep islamisasi ilmu adalah landasan filosofisnya, maka Agus Purwanto mencoba menurunkan filosofi tersebut kerana teoritik yang kemudian dilanjutkan pada ranah praktik. Gagasan utama Agus Purwanto dalam kedua bukunya adalah analisis teks, diharapkan para ilmuwan mampu melahirkan teori dari analisis teks tersebut. Tetapi ia juga menyatakan untuk melahirkan sebuah teori masih perlu perjalanan panjang seperti penelitian, pengamatan, dan perkembangan ilmu pengetahuan dari waktu ke waktu dan diperlukan lembaga pendidikan sebagai wujud dari aplikasi dari tuangan gagasan tersebut.

KONSEP PESANTREN SAINS

KONSEP "PESANTREN SAINS" SEBAGAI KONSEP BARU DALAM PENDIDIKAN
OLEH : ABDUL GHOFUR
SMA Trensains digagas dan dipelopori oleh Dr.H.C. Ir. K.H. Salahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng dan Agus Purwanto D.SC., salah satu dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Konsep pendidikan yang diterapkan oleh SMA Trensains Tebuireng adalah konsep “Pesantren Sains”.
Konsep pesantren sains atau Trensains merupakan implementasi dari pemikiran Agus Purwanto dalam wacana perkembangan islamisasi ilmu kontemporer.  Melalui dua buku  yang ditulisnya  yaitu Ayat-Ayat Semesta (AAS)  dan Nalar Ayat-Ayat Semesta (NAAS), digunakan sebagai pijakan oleh Trensains untuk melahirkan teori dalam ilmu pengetahuan. Sementara ayat-ayat al Qur’an digunakan sebagai sumber ilmu pengetahuan (epistemologi ilmu).
Sebagai konsep baru dalam pendidikan, fokus  kajian Trensains adalah  bahasa arab,  filsafat dasar, dan ilmu alam (fisika, kimia, biologi, matematika, dan astronomi) dengan menekankan pada pemahaman Al Qur’an dalam setiap aktivitas pembelajarannya.
Trensains (Pesantren Sains) adalah konsep pendidikan yang tidak menggabungkan materi Pesantren dengan ilmu umum sebagaimana pesantren modern. Trensains mengambil kekhususan pada pemahaman Al Qur'an, Al Hadist dan Sains kealaman (natural science) dan interaksinya. Poin terakhir, interaksi antara agama dan sains merupakan materi khas Trensains yang tidak ada pada pesantren modern.
Trensains memiliki tujuan : 1) meningkatkan wawasan para santri  melalui pengkajian yang mendalam, penelitian ilmiah, dan percobaan-percobaan  ilmiah. 2) meningkatkan ketrampilan para santri dalam bidang bahasa, pemanfaatan ilmu fisika, kimia, biologi, astronomi, dan sebagaimnya, dalam rangka memahami dan membuka rahasia-rahasia alam semesta. 3) meneguhkan sikap akan kemaharajaan Allah SWT yang telah menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya melalui pendekatan fisika, kimia, biologi dan ilmu pengetahuan lainnya.
Kurikulum Trensains dirancang sedemikian rupa sehingga santri diharapkan mampu menguasai tool ilmu dasar seperti Bahasa Arab, Ulumul Qur’an, Ulumul Hadist, Filsafat dasar. Adapun fungsi Trensains yaitu menyiapkan tenaga peneliti ilmiah profesinal dengan berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan, menyiapkan tenaga peneliti ilmiah professional sebagai wahana untuk mengungkap rahasia yang ada dalam ayat-ayat kauniyah, mengembangkan bidang penelitian ilmiah.
Sehingga konsep pendidikan Trensains merupakan konsep baru dalam pendidikan yang  mereformasi konsep pendidikan pesantren yang telah ada sebelumnya, dengan konsep utamanya yaitu menjadikan al Qur’an sebagai sumber kajian utama dalam pembelajaran dan menjadikan al Qur’an sebagai epistemologi pengembangan sains. Kedepan konsep pendidikan Trensains diharapkan dapat melahirkan ilmuwan sains kealaman, teknolog, dan dokter yang memiliki kedalaman filosofis serta keluhuran akhlaq.

Perkembangan Pendidikan di Pesantren Tebuireng


Perkembangan Pendidikan di  Pesantren Tebuireng
Oleh: Abdul Ghofur

Pada tahun 1899 M  KH. Hasyim Asy’ari  mendirikan  Pesantren Tebuireng  dan menerapkan  sorogan dan bandongan sebagai sistem pembelajaran saat itu. Pada tahun 1916 dimulailah perintisan pendidikan madrasah dengan sistim  klasikal dengan metode perjenjangan kelas perjenjangan dimulai dari sifir awal dan sifir tsani yaitu sekolah persiapan menuju jenjang lima tahun berikutnya. Pada tahun 1919 M ditambahkan mata pelajaran umum seperti  bahasa Indonesia, matematika, ilmu bumi, dan bahasa belanda pada struktur kurikulumnya.
Pada perkembangan selanjutnya,  lahirlah konsep Madrasah Nizhamiyah yang digagas oleh KH. Wahid Hasyim (Menteri Agama RI pertama) pada tahun 1934 M. Madrasah  Nizhamiyah adalah konsep pendidikan pesantren yang mengolaborasikan antara ilmu agama dengan ilmu umum dalam struktur kurikulumnya. Dalam hal ini presentase ilmu umum lebih besar dari pada ilmu agama. Selain mengajarkan bahasa arab dan belanda, madrasah ini mengajarkan bahasa inggris dan ketrampilan mengetik. Meskipun begitu, konsep madrasah  ini tidak mengubah sistem pengajian kitab kuning dan sistem musyawarah yang menjadi ciri khas pesantren.
Konsep Madrasah  Nizhamiyah merupakan konsep reformasi dan terobosan yang paling baik, konsep tersebut disesuaikan dengan perkembangan zaman pada saat itu. Kemudian pada masa kepemimpinan  KH. A. Wahid Hasyim, KH. Abdul Karim Hasyim, KH. Achmad Baidhawi, dan KH. Abdul Kholiq Hasyim dilakukan formalisasi madrasah sesuai dengan sistim sekolah nasional, yakni dibentuknya Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, dan Mualimin. Pada masa ini kegiatan musyawarah masih dipertahankan dan diberdayakan sama seperti pada masa KH. Hasyim Asy’ari.
Pada masa KH. Yusuf Hasyim  tahun  1965 sampai 2006, didirikannya universitas  Hasyim Asy'ari sebagai bentuk pengembangan pendidikan tinggi dan didirikannya Mahad Aly sebagai institut keislaman khusus mendalami ilmu-ilmu keislaman klasik serta kajian mendalam keislaman kontemporer dengan beasiswa.
Periode tahun 2006 sampai sekarang adalah masa kepemimpinan Dr. (HC.). Ir.  KH. Salahuddin Wahid, pada masa ini dikenal sebagai masa pembagunan. Selain gedung-gedung pondok pesantren, gedung-gedung sekolah pun tidak luput dari perbaikan dan pembagunan. Selain pembaharuan  fisik bagunan,  KH. Salahuddin Wahid telah menggagas konsep pendidikan baru bersama ilmuwan fisika teori yaitu Agus Purwanto, D.Sc. 
Konsep pendidikan baru tersebut dikenal dengan dengan istilah “Pesantren Sains” atau Trensains yang menjadikan al Qur’an sebagai basis epistemologi dalam pengembangan sains dan Al Qur’an  digunakan sebagai basis informasi dalam pembelajaran sains kealaman. Konsep pendidikan ini bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang dapat diproyeksikan menjadi  ilmuwan, teknolog, dan dokter yang memiliki kedalaman filosifis serta keluhuran akhlaq. Selain itu diharapkan para lulusannya dapat diproyeksikan menjadi ulama sains kealaman yang dapat melahirkan teori-teori dalam ilmu pengetahuan berbasis informasi-informasi yang ada di dalam al Qur’an.