Perkembangan Pendidikan di Pesantren Tebuireng


Perkembangan Pendidikan di  Pesantren Tebuireng
Oleh: Abdul Ghofur

Pada tahun 1899 M  KH. Hasyim Asy’ari  mendirikan  Pesantren Tebuireng  dan menerapkan  sorogan dan bandongan sebagai sistem pembelajaran saat itu. Pada tahun 1916 dimulailah perintisan pendidikan madrasah dengan sistim  klasikal dengan metode perjenjangan kelas perjenjangan dimulai dari sifir awal dan sifir tsani yaitu sekolah persiapan menuju jenjang lima tahun berikutnya. Pada tahun 1919 M ditambahkan mata pelajaran umum seperti  bahasa Indonesia, matematika, ilmu bumi, dan bahasa belanda pada struktur kurikulumnya.
Pada perkembangan selanjutnya,  lahirlah konsep Madrasah Nizhamiyah yang digagas oleh KH. Wahid Hasyim (Menteri Agama RI pertama) pada tahun 1934 M. Madrasah  Nizhamiyah adalah konsep pendidikan pesantren yang mengolaborasikan antara ilmu agama dengan ilmu umum dalam struktur kurikulumnya. Dalam hal ini presentase ilmu umum lebih besar dari pada ilmu agama. Selain mengajarkan bahasa arab dan belanda, madrasah ini mengajarkan bahasa inggris dan ketrampilan mengetik. Meskipun begitu, konsep madrasah  ini tidak mengubah sistem pengajian kitab kuning dan sistem musyawarah yang menjadi ciri khas pesantren.
Konsep Madrasah  Nizhamiyah merupakan konsep reformasi dan terobosan yang paling baik, konsep tersebut disesuaikan dengan perkembangan zaman pada saat itu. Kemudian pada masa kepemimpinan  KH. A. Wahid Hasyim, KH. Abdul Karim Hasyim, KH. Achmad Baidhawi, dan KH. Abdul Kholiq Hasyim dilakukan formalisasi madrasah sesuai dengan sistim sekolah nasional, yakni dibentuknya Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, dan Mualimin. Pada masa ini kegiatan musyawarah masih dipertahankan dan diberdayakan sama seperti pada masa KH. Hasyim Asy’ari.
Pada masa KH. Yusuf Hasyim  tahun  1965 sampai 2006, didirikannya universitas  Hasyim Asy'ari sebagai bentuk pengembangan pendidikan tinggi dan didirikannya Mahad Aly sebagai institut keislaman khusus mendalami ilmu-ilmu keislaman klasik serta kajian mendalam keislaman kontemporer dengan beasiswa.
Periode tahun 2006 sampai sekarang adalah masa kepemimpinan Dr. (HC.). Ir.  KH. Salahuddin Wahid, pada masa ini dikenal sebagai masa pembagunan. Selain gedung-gedung pondok pesantren, gedung-gedung sekolah pun tidak luput dari perbaikan dan pembagunan. Selain pembaharuan  fisik bagunan,  KH. Salahuddin Wahid telah menggagas konsep pendidikan baru bersama ilmuwan fisika teori yaitu Agus Purwanto, D.Sc. 
Konsep pendidikan baru tersebut dikenal dengan dengan istilah “Pesantren Sains” atau Trensains yang menjadikan al Qur’an sebagai basis epistemologi dalam pengembangan sains dan Al Qur’an  digunakan sebagai basis informasi dalam pembelajaran sains kealaman. Konsep pendidikan ini bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang dapat diproyeksikan menjadi  ilmuwan, teknolog, dan dokter yang memiliki kedalaman filosifis serta keluhuran akhlaq. Selain itu diharapkan para lulusannya dapat diproyeksikan menjadi ulama sains kealaman yang dapat melahirkan teori-teori dalam ilmu pengetahuan berbasis informasi-informasi yang ada di dalam al Qur’an.