Kuliah Umum: Mengupas Sains Kisah Lama Dan Pandangan Dunia Mekanik Bersama Sang Penggagas Sma Trensains


Trensains Online.  Setelah bulan Agustus  lalu, sukses mengadakan Kuliah Umum  yang menghadirkan Prof. Dr. Muhammad D. Al Amri dari King Abdul Aziz City for Tecnology and Science  Saudi Arabia, yang mengupas tuntas tentang Cryptogarphy. Kemarin (8/1/17), di Aula lembaga diklat Pesantren Tebuireng, SMA Trensains Tebuireng  kembali mengadakan acara yang sama dengan tema “Sains Kisah Lama dan Pandangan Dunia Mekanik” yang disampaikan oleh penggagas Pesantren Sains (Trensains) dan sekaligus pendiri SMA Trensains bersama Pengasuh Pesantren Tebuireng, beliau adalah KH. Agus Purwanto, D.Sc yang akrab dipanggil Guspur.
Kuliah umum kali ini diikuti oleh seluruh santri SMA Trensains, dewan pembina dan asatidz. Seperti biasanya acara kuliah umum diawali dengan memotivasi para santri, namun kali ini beliau memiliki cara yang jitu untuk membangkitkan semangat dan motivasi  para santri, pasalnya kali ini para santri diajak berpikir secara kratif terkait banyaknya peluang penelitian dengan memanfaatkan objek lingkungan sekitar.
Menurut beliau, Indonesia memiliki banyak fenomena alam yang layak dikaji secara ilmiah, para santri dapat meneliti fenomena tersebut untuk menghasilkan teori baru dalam  ilmu pengetahuan. Fenomena  tersebut antara lain adalah fenomena kadar oksigen terbaik  di dunia yang berada di pulau Madura dan fenomena rumah semut (musamus) di Merauke.
 Dalam paparannya, dijelaskan bahwa rumah semut atau musamus (sebutan masyarakat lokal) ternyata bukan rumah semut seperti kebayakan, akan tetapi berupa  rumah dari koloni rayap yang tingginya bisa mencapai empat meter. Berkaitan dengan hal tersebut, para santri pun diajak berimanjinasi untuk membandingkan  ukuran tubuh rayap dengan rumah yang dibagunnya, andai kata manusia yang membangunnya maka bangunan tersebut dapat mencapai jarak teleskop Hublle yang mengorbit diangkasa terhadap bumi. Disisi lain jika  ditinjau dari material bangunan, Hal tersebut dapat memberikan peluang yang sangat bagus  bagi para biologiawan dan fisikawan untuk dapat melahirkan teori baru dalam sains kealaman, tentu fenomena ini layak bahkan harus diteliti sebelum ilmuwann asing berbondong datang meneliti.
Selanjutnya, untuk membagkitkan motivasi dan kecintaan santri terhadap ilmu pengetahuan, beliau memaparkan tentang teori ilmu jiwa menurut Ibnu Sina. Menurutnya, Ibnu Sina menggunakan tiga argumen untuk membuktikan keberadaan jiwa yaitu al-istimrar (keberlangsungan), aththabi'i (alamiah) dan manusia terbang. Pada dalil dan argumen kedua, Ibnu Sina bertumpu pada konsep gerak Aristoteles yakni gerak spontan dan gerak terpaksa. Gerak spontan merupakan gerak yang terjadi akibat hukum alam, misalkan batu yang kita pegang jika dilepas akan (spontan) bergerak jatuh, dan gerak terpaksa terjadi karena ada dorongan luar misalnya batu dapat bergerak ke atas jika dilemparkan. Akan tetapi  seekor merpati yang digenggam kemudian dilepas (tidak jatuh) akan terbang tinggi (padahal tidak dilempar) berarti ada sesuatu pada burung dan tidak ada pada batu dan sesuatu itu adalah jiwa, burung mempunyai jiwa, itulah dalil aththabi'iy dari Ibnu Sina tentang eksistensi jiwa.
Dalam gurauannya, teori eksistensi jiwa Ibnu Sina tersebut dapat dipakai untuk menjelaskan fenomena naiknya biaya STNK dan BPKB di negeri ini, “karena STNK dan BPKB di Indonesia bisa naik tanpa dinaikkan oleh pihak yang berwenang untuk menaikkan, alias STNK dan BPKB naik sendiri berarti STNK dan BPKB di Indonesia berjiwa” gurauan analogi tersebut serentak membuat para hadirin tertawa dan memberikan applause kepada sang penggagas Trensains.
Pada acara inti, beliau banyak mengupas tentang teori-teori sains kaitannya dengan pandangan dunia mekanik.  Menurutnya, teori-teori tersebut  merupakan teori yang cacat karena akan menuntun kita kepada gagasan kepensiunan tuhan, tuhan tidak lagi berperan sejak alam semesta ini diciptakan, layaknya sebuah jam yang berjalan sendiri dengan hukum mekaniknya dan jam tersebut akan rusak dengan sendirinya.  Lanjut pungkasnya, tentu hal ini perlu dikritisi oleh santri Trensains karena tidak sejalan dengan prinsip-prinsip akidah, gagasan kepensiunan tuhan tersebut  disebut deisme  yang mengisi pikiran manusia modern dan membawa manusia pada aneka krisis kemanusiaan.

 Di akhir presentasi beliau berpesan bahwa tugas para santri Trensains kedepan adalah membangun pandangan dunia holistik agar  para santri menjadi ilmuwan sejati, ilmuwan dengan al Qur’an dan filsafat yang kokoh  sebagimana visi besar konsep Pesantren Sains (Trensains)  yang digagasnya dan visi misi pendirian lembaga pendidikan setingkat SMA yang diberi nama  SMA Trensains. Sebagai penutup acara, sesi Tanya jawab pun dibuka, diluar dugaan  para santri  pun mengajukan pertanyaan yang mengejutkan, sehingga hal ini memberikan kebahagian tersendiri bagi Kyai Agus selaku penggagas Trensains, sebab  semakin hari perkembangan dan kekritisan para santri juga semakin meningkat. (Abdul Ghofur).