Sekolah Pertama Yang didirikan oleh Syeikh Abdul Qadir Jailani


www.smatrensains.sch.id-Setelah mengikuti kegiatan pelatihan GSM (Gerakan Sekolah Menyenangkan) yang diadakan di Pesantren Tebuireng pada tanggal 20-22 Desember 2018,  membuat saya teringat kembali cerita tentang sekolah yang pernah didirikan oleh Syeikh Abdul Qadir Jailani.  Cerita ini disampaikan oleh Syeikh Fadhil Jailani (cucu ke 25 dari Syeikh Abdul Qadir Jailani) dalam acara Manaqib Kubro di Pesantren Raudhatul Ulum Kencong Pare Kediri tanggal 18 Desember 2018 lalu.

Ketika Syeikh Abdul Qadir Jailani diberi amanah sebuah sekolah atau madrasah qadiriyah, beliau membuat tiga aturan. Pertama, sekolah ini untuk semua orang muslim maupun non muslim. Kedua, sekolah ini gratis dan tidak dipungut biaya. Ketiga, semua orang non muslim bebas menjalankan agamanya dan tidak boleh dipaksa untuk masuk islam. Aturan ini menandakan bahwa sekolah yang didirikan oleh beliau adalah sekolah yang benar-benar mengedepankan toleransi dan sikap sebagai maincore pendidikannya. 

Awalnya, banyak orang yang mencibir sekolah yg didirikan oleh Syeikh Abdul Qadir Jailani,  danmencemohnya karena memang pada zaman tersebut sekolah ini termasuk antimainstream.
Pertama kali hanya ada tiga orang saja.  Namun berkat kegigihan beliau tetap meneruskan perjuangannya hingga seiring bertambahnya waktu bertambah menjadi 70.000 an orang. Sekolah tersebut menjadi sekolah maupun perguruan tinggi terbesar pada zaman itu dengan berbagai macam materi pelajaran agama dan umum yang diampu oleh seorang Grand Syeikh (profesor).

Diantara kurikulum yang diterapkan oleh Syeikh Abdul Qadir Jailani adalah kurikulum gabungan pelajaran agama dan pelajaran sains teknologi. Untuk pelajaran agama dilaksanakan pada waktu pagi hari hingga waktu dzuhur, serta diikuti oleh para siswa muslim. Pelajaran agama yang diberikan berkisar tentang ilmu tauhid,  fiqih,  tafsir,  hadits maupun akhlak tasawuf.  Sedangkan bagi para siswa non muslim,  mereka mendapat pelajaran sains dan teknologi ba'da dzuhur hingga sore hari. Pelajaran yang diberikan adalah astronomi,  ilmu ukur,  arsitektur dan sebagainya. 

Yang menarik dari sekolah ini adalah antara siswa muslim maupun non muslim hidup rukun berdampingan, tanpa ada yang saling mencaci maupun bertikai.  Diantara riwayat cerita yang terjadi,  suatu ketika ada salah seorang siswa non muslim yang menghadap kepada Sang Guru untuk bisa memeluk agama Islam,  kemudian oleh Sang Guru pun ditanya hal berikut ini,  "Adakah diantara murid2 muslim disini yang membayarmu untuk masuk agama Islam? “. Mereka menjawab dengan serentak "tidak ada wahai guru ". "Adakah diantara murid2 muslim disini yang memaksamu atau mengancammu untuk masuk Islam? ", tanya Sang Guru kemudian. " Tidak ada wahai guru ", tegas mereka.  Baru setelah jelas tidak ada sama sekali paksaan dan hal2 yg berkaitan dengannya, Syeikh Abdul Qadir Jailani berkenan untuk mensyahadatkan mereka.  

Dari peristiwa tersebut tampak jelas bahwa sistem pendidikan yang diterapkan oleh Syeikh Abdul Qadir adalah sistem pendidikan  berbasis hati dan toleransi tinggi, sehingga hasil yang diharapkan adalah keikhlasan tingkat tinggi dalam menjalankan agama maupun kehidupan ini.  Diantara ajaran beliau adalah untuk selalu menjaga prasangka baik kepada siapa pun yang ada.  Disamping itu selalu menjaga etika dan di akhlak yang baik dimana pun berada sesuai dengan tatanan dan adat istiadatnya. Seandainya sekolah zaman sekarang memiliki basis spirit pendidikan semacam ini,  semestinya etika dan karakter bangsa Indonesia bisa menjadi lebih baik lagi. Disamping itu tentunya murid dengan ruang gembira ke sekolah tanpa paksaan maupun keterpaksaan.

Hal yang patut direnungkan dari apa yang diterapkan oleh Syeikh Abdul Qadir Jailani sebagaimana tercantum dalam adagium bahasa Arab yg cukup dikenal di kalangan pesantren :
الطريقة أهم من المادة؛  والمدرس أهم من الطريقة؛  وروح المدرس أهم من المدرس نفسه.
Metode itu lebih penting daripada materi. Eksistensi guru lebih penting daripada metode. Jiwa spiritualitas sang guru lebih penting dari guru itu sendiri. 

Dapat dipahami bahwa apabila guru memiliki metode mendidik yang baik, maka materi pelajaran akan lebih mudah diterima oleh peserta didik. Metode maupun teknik mendidik yang baik akan muncul ketika sang guru pun berwawasan yang luas dan berkarakter kuat.  Semua karakter yang baik tersebut muncul apabila jiwa guru itu baik,  atau dengan kata lain guru itu memiliki keikhlasan mendidik yang tinggi.  Guru tidak akan bisa menjadi baik apabila jiwa nya tidak baik,  terlalu sering mendapat tekanan sehingga murid pun ikut tertekan. Yang diperlukan adalah proses yang panjang untuk bisa membentuk jiwa guru yang baik dan tidak cukup dengan pelatihan maupun tutorial yang cuma diadakan beberapa hari. Dengan demikian yang diperlukan adalah proses pendidikan bukan hanya pendidikan proses. Sehingga pendidikan akan lebih berasa dan berarti.

*) Penulis: Ust Hanif Fathoni (Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas)


TIGA SANTRI SMA TRENSAINS TEBUIRENG TEMBUS OSK 2019


www.smatrensains.sch.id-Beberapa santri SMA Trensains Tebuireng berhasil lolos Olimpiade Sains Kabupaten (OSK) tahun 2019. Mereka adalah  Ahmad Nailul Rosyad peringkat I bidang fisika, Firman Daniel peringkat III bidang kimia, dan Eris Girasto peringkat III bidang matematika. Dalam ajang tersebut, SMA Trensains Tebuireng mendelegasikan 29 peserta yang meliputi bidang matematika, fisika, kimia, biologi, geografi, kebumian, astronomi, dan komputer  yang berkompetisi pada 27 Februari 2019 yang lalu.

Untuk mempersiapkan ajang yang bergengsi tersebut, kandidat peserta olimpiade di SMA Trensains Tebuireng langsung dikomandoi oleh waka kesiswaan guna memastikan kesiapan para kandidat dalam mengadapi olimpiade kali ini. “Ketekunan oleh pembimbing dan peserta OSK, ketidakpuasan atas pengetahuan sehingga aktif untuk bertanya, dan doa yang dipanjatkan menjadi musyabab perolehan capaian mereka” Terang Ust. Umbaran sebagai waka kesiswaan yang mengemukakan pendapatnya berdasarkan proses yang ditempuh para peserta OSK.

Disisi yang lain, beragam tanggapan muncul dari pimpinan SMA Trensains Tebuireng atas capaian para siswa tersebut, ”Faktor pemenang adalah bibit bagus, proses yang bagus, waktu yang cukup, dan strategi yang bagus.” Ujar Ust. Tendika selaku waka kurikulum SMA Trensains Tebuireng. Lebih lanjut menurutnya, “Ini bukan pengalaman pertama bagi SMA Trensains Tebuireng. Pada OSK tahun 2016 enam murid SMA Trensains Tebuireng berhasil masuk ke dalam 10 besar. SMA Trensains Tebuireng mempersiapkan bibit unggulnya secara segi IQ dan psikologi. Para peserta kerap diberi saran dan motivasi agar tidak mudah menyerah dalam berjuang, sedangkan esensi perlombaan adalah sebagai sarana motivasi belajar.” Terang Bapak Tendika. “Perlombaan adalah bagaimana Anda hidup sebenarnya!” Imbuh Ust. Abdul Ghofur selaku waka sarana prasarana untuk memperkuat argumentasi bahwa olimpiade bukan merupakan satu-satunya tujuan, tetapi merupakan efek dari penyelenggaraan pendidikan yang baik.

Jika dilihat  dari data OSK dibidang MIPA telah terjadi peningkatan prestasi dalam dua tahun terakhir.  Pada tahun 2018  terdapat dua siswa yang masuk tiga besar ditingkat kabupaten, sedangkan pada tahun 2019 terdapat  tiga orang  siswa yang berhasil masuk tiga besar tingkat Kabupaten. Oleh karena itu, mereka dapat melanjutkan kompetisi di tingkat provinsi. Sontak, hal ini menuai apresiasi yang positif dari para guru pembina OSK tahun ini.
Menurut beberapa guru pembina OSK, kunci keberhasilan ini disebabkan oleh adanya sumber belajar digunakan dalam mempersiapkan ajang olimpiade. “Biasanya yang digunakan adalah buku Halliday Resnick, Keppler, dan kumpulan-kumpulan soal OSK tahun lalu.” Terang ustd. Fina sebagai guru fisika SMA.

Adapun proses  yang dilalui peserta agar dapat mewakili SMA Trensains Tebuireng adalah tahap seleksi yang diadakan tiga bulan sebelum ajang OSK. Pada tahap seleksi terdapat elminasi untuk memilah kandidat yang diajukan untuk OSK.  Selanjutnya, santri yang lolos akan digembleng oleh guru-guru SMA Trensains Tebuireng yang sudah mengecap asam garam dibidangnya. Namun, untuk pembinaan OSK kimia sedikit berbeda pola pembinaannya dari bidang olmpiade yang lain. Pembinaan di bidang kimia diadakan sejak sebelum liburan awal tahun 2017/2018. “Saat puasa tetap diadakan pembinaan melalui Whatsapp.” Jelas Ustdh. Rachma Nur Kartika sebagai guru Kimia di SMA Trensains Tebuireng. Para kandidat terus meluangkan waktu untuk belajar yang tidak luput dengan iringan do’a yang dipanjatkan. Begitulah perjuangan para peserta untuk menuai hasil yang ingin digapai.

Pewarta    : Hayah & Ila
Publisher  : Admin


Perspektif Sains: Bukti Keberadaan Tuhan dalam Keterbatasan Alam Semesta


www.smatrensains.sch.id-Penggagas Trensains, Ust. Agus Purwanto, Dsc kembali sambangi santrinya (Trensains Tebuireng) pada sabtu 16 maret 2019 seusai membicarakan masa depan Trensains dengan pengasuh tebuireng KH. Sholahuddin Wahid. Kedatangannya kali ini tidak sekadar menyambangi tetapi juga ngaji sains bersama para santri. Beliau memaparkan tentang keterbatasan alam semesta dari segi ruang dan waktu sebagai jawaban pertanyaan sabtu 9/3 lalu yang dirangkum dalam kuliah umum bertajuk “rahasia malam”,
“tidak lengkap rasanya bila saya sudah di jombang tanpa harus mengunjungi kalian. Sudah saya siapkan materi sebagai jawaban pertanyaan seorang santri sabtu lalu terkait pandangan ibn sina yang berdasar sifat Allah SWT, mukhalafatu lilhawadits maka Allah SWT bersifat qadim menurut perspektif sains. Dengan tema Rahasia Malam, materi yang kurang pas disampaikan disiang hari sebenarnya, berhubung saya datangnya di siang hari dan tidak bersabar menunggu petang datang untuk mengungkap rahasia malam yang banyak sekali bersama kalian.”

Lebih lanjut beliau memaparkan, merujuk QS As-Saffat ayat 37, ‘dan di waktu malam, apakah kamu tidak memikirkan?’. Muncullah pertanyaan “mengapa ada malam?” Lazimnya orang akan menjawab “karena ada siang”. Jikalau dibalik “mengapa ada siang?”, jawaban pastinya “Karena ada malam”. Secara umum fenomena tersebut terjadi karena pengaruh rotasi bumi pada porosnya sehingga permukaaan bumi yang menghadap matahari mengalami siang. Namun, terdapat kondisi khusus langit malam tetap gelap meskipun langit terkena pancaran sinar matahari dan ruang angkasa selalu gelap dikarenakan temperatur rata-rata ruang angkasa ialah 3°K atau setara dengan -270°C.

Menurutnya, apabila pengamat mengamati ruang angkasa dengan bantuan teropong, terlihat titik kecil yaitu bintang yang merupakan sumber panas dan memancarkan cahaya. Intensitas cahaya (daya yang dipancarkan) bintang terbatas karena terpaut jarak yang jauh, sehingga hal tersebut hanya dapat menerangi daerah tertentu dan tampak sebagai titik putih kecil dari bumi. Ini berarti ruang angkasa tersebut dingin dan gelap.

Disisi yang lain, apabila alam tak terbatas bumi mendapat intensitas cahaya yang tak terbatas dengan jumlah bintang yang tak terhingga sehingga bumia akan mengalami kondisi siang terus menerus (QS Al-Qashas 28:72). Fenomena malam-siang menunjukkan keterbatas alam dari segi ruang (bervolume tertentu) dan waktu (berawal-berakhir). Alam semesta senantiasa berubah dan bahkan pernah lahir (berawal) sehingga pasti juga akan berakhir. Hal ini, membuktikan bahwa alam semesta benar-benar diciptakan oleh Allah SWT dan tidak terbentuk secara sendirinya sebagaimana anggapan kaum atheis.

Kuliah umum kali ini memunculkan berbagai pertanyaan dari kalangan para santri. salah satunya terkait teka-teki alam semesta,
“yang diciptakan pertama kali oleh Allah SWT adalah Nur Muhammad, dari Nur Muhammad tersebut, lalu diciptakan segala sesuatu. berarti alam semesta diciptakan dari cahaya?” tanya salah seorang santri.

Pertanyaan tersebut dijawab sang penggagas yang akrab disapa Gus Pur, “Terserah apabila Big Crunch (Big Bang) dimaknai sebagai cahaya karena pemaknaan tersebut bergantung pada perspektif tiap individu. Akan tetapi, yang perlu ditekankan ialah tujuan dari trensains, mengilmiahkan tradisi kuno Islam baik yang bersumber dari Alquran maupun Sunnah Nabi Muhammad SAW.”

Pewarta: Nadia Salma & Nila Muhaimatul A.
Editor    : Admin

TRENSAINS UNGKAP HIDDEN HISTORY OF SCIENCE MELALUI KULIAH UMUM


www.smatrensains.sch.id-Bapak Trensains Indonesia, Ust. Agus Purwanto, D.Sc yang juga seorang ilmuwan dalam bidang fisika teori kembali menyambangi para santrinya pada (9/3/2019) untuk memberikan pengajian bertema “A More Complete Story of Science” yang dikemas dalam acara Studium General A Complete Story of Science di gedung balai Pusdiklat Pesantren Tebuireng. Sebagai pembuka beliau memaparkan terkait krisis dunia islam,
“biasanya kontribusi ilmuwan muslim dalam aspek teknis diabaikan oleh dunia barat. Maka kini saatnya explore the possibilities keilmuwan muslim. Sejarah Peradaban keilmuan dimulai dari Yunani Kuno berlanjut ke Renaissance (kebangkitan eropa), diantara peradaban tersebut terdapat peradaban yang sengaja disembunyikan atau sering disebut Dark Ages atau Hidden History.”
Dark ages merupakan Golden Ages peradaban muslim yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan peradaban modern. Golden Ages bermula pada abad ke-7M ditandai dengan dimulainya arab sciention tradition oleh Jabir Ibn Hayyan, Al Khawarismi, Ibn Sina, Ibn Rusyd, dll. Ilmuwan muslim mengeksplore, mengembangkan ilmu pengetahuan berdasarkan wahyu yang memunculkan ilmu pengetahuan dari ide yang diberi Allah SWT melalui Malaikat Jibril. Hal inilah yang menjadi dasar dari epistemologi sains islam, diraihnya ilmu pengetahuan melalui alquran dan tradisi islam tanpa mengesampingkan keberadaan Allah SWT.
Trensains merupakan lembaga pendidikan pertama yang berani merubah sudut pandang kelimuwan dengan menggabungkan sains dan agama hal tresebut ditandai dengan penggunaan konstanta planck (ħ) sebagai identitas lembaga. Konstanta planck wujud revolusi pemikiran ilmuwan sains mengenai gelombang dan partikel. Civitas berharap dengan penggunaan  ħ dalam logo SMA Trensains Tebuireng para santri trensains juga memiliki pemikiran dan keberanian mendalami serta mengembangkan sains islam.
Selain itu, Trensains merupakan wujud revolusi pesantren yang telah ada sebelummnya, dimana mata pelajaran filsafat sains masuk dalam kajian utama ketrensains-nan sehingga mampu memperkokoh kedalaman pemikiran santri.
Pelaksanaan kuliah umum diikuti oleh seluruh santri trensains dengan penuh antusias. Seperti yang disampaikan salah satu santri kelas akhir, Azza Sanina
“Materi kuliah umum kali ini unik, kami dikenalkan sejarah peradaban islam dan materi ketrensainsan selain hitungan. Selain itu, keluasan materi yang disampaikan menambah wawasan dari apa yang telah kami pelajari dikelas.”

Pewarta : Nila, Salma
Publisher: Admin

DAS SEIN, DAS SOLLEN DAN GENETIKA DALAM ISLAM


Dahulu, ketika penulis masih aktif mengikuti kuliah Prof. Dr. Siti Chamamah (seorang profesor bidang filologi UGM), beliau seringkali menginggung tentang das sein dan das sollen dalam menganalisa suatu fenomena. Kedua kata ini diambil dari bahasa Jerman “Das Sein” yang berarti keadaan yang sebenarnya pada waktu sekarang, sedangkan “Das Sollen” berarti apa yang dicita-citakan, apa yang diharapkan atau apa yang harus ada nanti.
Secara etimologi, istilah das sein dan das sollen sebenarnya berasal dari istilah hukum. Dalam istilah hukum, Das Sein berarti kenyataan penerapan hukum yang terjadi di dalam kehidupan. Biasa disebut juga Law in Action. Sedangkan Das Sollen adalah hukum yang ada didalam aturan-aturan yang telah dibuat (tertulis), yang terdapat dalam undang-undang dan peraturan hukum lainnya. Biasa disebut juga Hukum yang dipelajari atau Law in the book. Dua istilah ini sering dipakai diluar istilah hukum, dalam dunia intelektual Das Sein disebut juga fakta atau realita yang terjadi. Adapun Das Sollen adalah teori, prinsip maupun harapan yang seharusnya ada.
Ketika Das Sollen tidak sesuai dengan Das Sein maka timbullah masalah. Dalam tradisi intelektual ketika seorang peneliti yang akan meneliti suatu hal, maka ia harus memahami dahulu das sollen (teori yang sudah ada) untuk kemudian dibandingkan atau dipadankan dengan das sein (fakta atau realita yang ada). Apabila das sein tidak sesuai dengan das sollen berarti ada masalah yang harus diselidiki atau diteliti permasalahannya.
Kalau dihubungkan dalam kehidupan sosial maupun psikologis manusia, seringkali manusia terlalu berpedoman pada Das Sollen atau harapan yang diinginkan terhadap dirinya dalam bersosial. Dan ketika dia mendapati das sein (fakta yang ada) tidak sesuai dengan das sollen (harapan yang diinginkan) dalam dirinya, ia mengalami gejolak dalam dirinya sehingga menimbulkan depresi dari tingkat ringan hingga berat bergantung pada tingkatan ketidaksesuaian das sein dan das sollen yang ia alami. Sebagai contoh, seorang pemuda yang memiliki harapan cinta (baca mencintai) seorang pemudi lain dan berharap bisa mendapatkan cinta pemudi tersebut dengan melakukan berbagai macam upaya pendekatan kepada pemudi yang dituju, ketika ternyata (pada realitanya) pemudi tersebut tidak menyukai bahkan tidak mencintai pemuda tersebut maka timbullah gejolak dalam diri pemuda tersebut antara das sollen (harapannya untuk mendapatkan cinta pemudi) dan das sein (realita dimana pemudi tersebut tidak mencintainya atau menolaknya) yang menimbulkan depresi dalam diri pemuda tersebut. Contoh lainnya, seorang pemudi sebut saja N berharap segera bisa menikah karena memang sudah berumur namun dia belum mendapatkan seseorang yang cocok untuk bisa diajak menikah. Suatu saat ada seorang pemuda sebut saja M yang menurutnya baik dan cocok, ia berharap agar pemuda tersebut segera datang untuk menikahinya. Namun ternyata, pemuda tersebut masih belum bisa menetapkan keputusan yang pasti (karena faktor keluarga maupun target karir yang dihendaki si M), sehingga menimbulkan depresi dalam diri si N yang diakibatkan oleh ketidaksesuaian antara das sein (fakta yang terjadi) dengan das sollen (harapan si N untuk segera menikah).

Menurut para ahli psikologi, manusia yang sering menderita depresi berat atau bahkan mengalami komplikasi kejiwaan (complex personality) disamping karena faktor ketidaksesuaian antara das sein dan das sollen, biasanya juga karena peristiwa traumatic event yang dialami pada masa lalu. Saat beranjak dewasa, perasaan tertekan (depresi) ini semakin membesar hingga menyebabkan komplikasi kejiwaan (complex personality), bahkan dapat menimbulkan penyakit hingga kematian. Sebagai contoh, seorang pemuda yang pada masa kecilnya sering mendapatkan perlakuan yang kurang adil bahkan kekerasan dari orang tuanya, seringkali ketika dewasa menjadi seorang yang memiliki kepribadian yang antisosial, berwajah murung, mudah marah, banyak memiliki penyakit dan hingga akhirnya tidak sedikit yang bunuh diri. Menurut hemat penulis, fenomena semacam ini terjadi karena ketidaksesuaian antara das sein (realita yang didapati dari orangtua yang tidak adil) dengan das sollen (harapan kasih sayang dan keadilan dari orang tuanya) serta masih banyak contoh lainnya yang sering kita dapatkan di sekitar kita.
Disamping dari yang penulis paparkan, ada juga yang mengatakan bahwa komplikasi kejiwaan (complex personality) ini disebabkan karena faktor turunan atau gen yang dibawa orang tuanya. Seringkali kita dapatkan seorang anak yang mudah terkena penyakit, karena orangtuanya juga mudah terserang penyakit. Begitu pula dalam hal sifat maupun sikap, seorang anak yang memiliki sikap pemarah, biasanya dinisbatkan kepada orangtuanya yang juga memiliki sikap temperamental. Dalam bahasa Arab, adagium yang cukup terkenal adalah: alwaladu sirru abihi (seorang anak itu bagai suatu rahasia orangtuanya), apa yang terjadi pada anak demikian pula yang terjadi pada orangtuanya.
Di Indonesia sendiri, terdapat adagium yang terkenal “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” yang memiliki arti sifat anak tidak jauh berbeda dengan ayah atau ibunya. Dengan kata lain sesuatu yang ada pada anak pasti akan ada kemiripannya dengan orang tuanya. Senada pula dengan ini, adagium bahasa Jawa yang berbunyi “anak polah bopo kepradah”, yaitu tentang kenakalan anak yang mengakibatkan orang tuanya mengalami kesulitan (ikut menanggung akibatnya). Beberapa adagium tersebut muncul tentunya bukan karena tanpa sebab, tetapi justru karena pengaruh kondisi fakta yang terjadi. Seakan mengatakan bahwa apa yang terjadi pada anak, dinisbahkan atau disandarkan pada orang tuanya. Seakan pula mengatakan bahwa apa yang terjadi pada anak adalah hasil cerminan apa yang dilakukan orang tuanya. Dengan kata lain, anak adalah gudang sumber informasi rahasia dari orang tuanya.

Gen dan Saklar Gen
Apabila penisbatan (penyandaran) ini kita dasarkan pada ilmu biologi, maka kita akan dapatkan kaitan yang logis, diantaranya dalam ilmu genetika, atau ilmu yang mempelajari gen, pewarisan sifat, dan keanekaragaman organisme hidup. Istilah “genetika” sendiri merupakan kata serapan dari bahasa Belanda genetica, yang diadaptasi dari bahasa Inggris genetics, yang berasal dari bahasa Yunani Kuno γενετικός (genetikos) yang berarti “tempat” yang berasal dari kata dasar γένεσις (genesis) yang berarti “asal”. Adapun “gen” dalam kamus Cambridge Advance Learners’ Dictionary berarti information about a particular subject (informasi tentang objek tertentu), sehingga “gen” adalah suatu informasi asal yang ada pada suatu objek. Dengan kata lain, genetika berusaha menjelaskan material pembawa informasi untuk diwariskan (bahan genetik), bagaimana informasi itu diekspresikan (ekspresi genetik), dan bagaimana informasi itu dipindahkan dari satu individu ke individu lain (pewarisan genetik).
Mengenai konsep pewarisan genetik ini, pertama kali dikemukakan oleh Gregor Mendel (1865), seorang ilmuwan dan biarawan dari Jerman yang terkenal sebagai peletak dasar ilmu genetika modern. Mendel mengetahui bahwa pada semua organisme hidup terdapat “unit dasar” yang pada masa kini disebut gen yang secara khusus diturunkan oleh orang tua kepada anak-anaknya. Sebenarnya jauh-jauh hari sebelum Mendel, Nabi Muhammad pernah mengemukakan tentang ini 14 abad yang lalu dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (no. 5305) dan Imam Muslim (no. 1500) dari Abu Hurairah sebagai berikut ini:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ قَزَعَةَ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وُلِدَ لِى غُلاَمٌ أَسْوَدُ. فَقَالَ « هَلْ لَكَ مِنْ إِبِلٍ ». قَالَ نَعَمْ. قَالَ « مَا أَلْوَانُهَا ». قَالَ حُمْرٌ. قَالَ « هَلْ فِيهَا مِنْ أَوْرَقَ ». قَالَ نَعَمْ .قَالَ « فَأَنَّى ذَلِكَ ». قَالَ لَعَلَّهُ نَزَعَهُ عِرْقٌ. قَالَ « فَلَعَلَّ ابْنَكَ هَذَا نَزَعَهُ»
Dalam hadits tersebut diceritakan, ada seorang Arab Badui mendatangi Nabi. Ia berkata, “Istriku melahirkan seorang anak yang berkulit hitam dan aku mengingkarinya”. Rasulullah lantas bertanya kepadanya, ”Apa kau memiliki unta?”. “Ya” jawabnya. Beliau kembali bertanya, “Apa saja warnanya?”. Ia menjawab, “Merah”. Tanya Rasulullah lagi,“Adakah pada unta itu bintik-bintik hitam?”. Ia menjawab, “Ya, pada tubuhnya terdapat satu bintik hitam.” Beliau bertanya, “Darimana datangnya warna itu?”. Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, itu adalah tanda lahir.” Maka beliau bersabda, “Mungkin (hitamnya anakmu) itu adalah tanda lahir (yang berasal dari nenek moyang terdahulu)”. Dalam hadits ini, Nabi mengisyaratkan konsep pewarisan genetik dan tidak membolehkan orang Arab Badui tersebut mengingkari anak keturunannya sendiri walau ia kelihatan berbeda kulit dari dirinya. Dalam kitab Shahih-nya, Muslim juga meriwayatkan dari Aisyah dalam hadits (no. 314) tentang seorang perempuan yang bertanya kepada Rasulullah sebagai berikut:
أن امرأة قالت لرسول الله صلى الله عليه و سلم هل تغتسل المرأة إذا احتلمت وأبصرت الماء ؟ فقال نعم فقالت لها عائشة تربت يداك وألت قالت فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم دعيها وهل يكون الشبه إلا من قبل ذلك إذا علا ماؤها ماء الرجل أشبه الولد أخواله وإذا علا ماء الرجل ماءها أشبه أعمامه.
 “Apakah seorang perempuan wajib mandi ketika bermimpi dan melihat cairan?”, Beliau menjawab, “Ya”. Lalu Aisyah berkata kepada perempuan itu, “Beruntunglah kamu!” Lalu beliau bersabda, “Biarkan ia. Bukankah kemiripan anak itu terjadi dari (cairan) itu? Jika air perempuan lebih dominan dari laki-laki, maka anaknya akan mirip dengan saudara-saudari dari pihak ibu, dan jika air laki-laki lebih dominan dari air perempuan, maka anaknya akan mirip dengan saudara-saudari bapaknya”.
Sekali lagi, hadits di atas menegaskan hadits sebelumnya tentang adanya konsep pewarisan genetika dari induk ke turunannya. Pewarisan genetik atau dalam istilah Inggris disebut genetic transmisional ini dapat berupa sifat fisik maupun non-fisik dalam suatu kumpulan gen atau biasa disebut kromosom. Setiap manusia memiliki 46 kromosom, dan setiap kromosom membawa sejumlah gen. Tentu saja kromosom setiap orang berbeda dengan kromosom lainnya. Kromosom pada manusia atau makhluk hidup lainnya yang berkembang biak secara seksual dapat dibedakan menjadi dua, yaitu a). autosom, adalah kromosom yang mengatur sifat-sifat tubuh selain jenis kelamin, b). gonosom atau kromosom seks, yaitu kromosom yang khusus menentukan jenis kelamin. Kromosom seks manusia biasanya berjumlah sepasang (disimbolkan XY dan XX). Seorang laki-laki mempunyai kromosom XY, sedangkan seorang wanita mempunyai kromosom XX. Apabila ditautkan dengan konsep ajaran Islam tentang nabi Adam as, maka seluruh kromosom dan gen ini ada pada diri Adam dan kemudian menyebar ke seluruh keturunannya. Masalah ini ditegaskan dalam al-Quran surat Al-An’am ayat 98:
وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ فَمُسْتَقَرٌّ وَمُسْتَوْدَعٌ ۗ قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَفْقَهُونَ
“Dan Dia-lah yang menciptakan kamu dari seorang diri, maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui”. Yang dimaksudkan “من نفس واحدة“ ini menurut ath-Thabari berdasarkan riwayat para sahabat dan ilmuwan Muslim lainnya adalah Adam as.
Dalam ilmu biologi, “gen” adalah bagian dari kromosom atau satu kesatuan kimia dalam kromosom yang mengendalikan ciri genetis suatu makhluk hidup. Gen memiliki sifat menurun dari induk kepada anaknya, dari orangtua kepada turunannya. Istilah “gen” pertama kali dikemukakan oleh Wilhelm Johannsen (1919) seorang ilmuwan Botani dan ahli genetika dari Denmark.  Ia dikenal sebagai orang yang pertama kali menunjukkan bahwa variasi penampilan (fenotipe) tidak hanya disebabkan oleh gen tetapi juga karena pengaruh lingkungan. Adapun fungsi gen menurut Kazuo Murakami (seorang professor di Fakultas Biologi Terapan Universitas Tsukuba yang telah meneliti di bidang genetika selama 20 tahun lebih) antara lain sebagai berikut: a). menyampaikan informasi genetik dari satu generasi ke generasi berikutnya, b). untuk menjaga keberlangsungan hidup dengan memproduksi protein.
Fungsi yang pertama ditunjukkan dengan sel-sel dalam tubuh yang terus menggandakan diri dengan menggunakan fungsi fotokopi dari DNA. DNA (deoxyribonucleic acid) atau disebut pula asam deoksiribonukleat merupakan suatu asam nukleat yang menyimpan segala informasi tentang genetika atau dapat dikatakan pula merupakan gambar rancangan kehidupan yang tertulis dalam DNA sel sebagai “kode” unik yang berisi sumber informasi kehidupan yang sangat luas. DNA inilah yang menentukan jenis rambut, warna kulit dan sifat-sifat khusus dari manusia. Tampaknya peranan DNA inilah yang memunculkan kesan bahwa “gen” itu tetap dan tidak berubah. Artinya, dengan membuat sel yang sama seperti sebelumnya di dalam tubuh, sel tersebut meneruskan sifat dan karakter dari induk ke anak, dari anak ke cucu, tanpa perubahan. Dari sinilah muncul kesimpulan bahwa sifat konstan (tetap) inilah yang memberikan kesan bahwa gen adalah sesuatu yang telah ditetapkan sebelumnya dan tidak akan berubah. Sehingga cukup wajar pula apabila muncul beberapa adagium-adagium yang sudah penulis sebutkan dahulu (alwaladu sirru abihi, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” dan sebagainya). Namun menurut Kazuo Murakami dalam bukunya “SWITCH” (2012), fungsi gen yang kedua sebagai pembuat protein, sama sekali tidak konstan. Yang dimaksudkan dengan fungsi “gen” yang kedua di sini adalah informasi tentang pembuatan protein, yang merupakan salah satu bagian dari miliaran informasi genetic (disebut genom) yang termuat dalam DNA di inti sel.
Seperti yang telah diketahui, protein adalah bahan paling penting dalam pembentukan bagian tubuh makhluk hidup seperti tulang, otot kulit, dan organ dalam. Dengan demikian, informasi perintah pembuatan protein ini berlangsung terus menerus dan pembuatannya tanpa henti terjadi dalam tubuh makhluk hidup untuk menjaga keberlangsungan hidupnya. Apabila perintah tersebut tersendat, maka keberlangsungan hidup makhluk hidup tersebut akan terancam. Singkat kata, selain memiliki sifat konstan dari pewarisan sifat, gen juga memiliki sifat kinerja dinamis yang tent uterus menerus berubah demi menjalani kehidupan pada saat ini. Dengan kata lain, gen bukanlah bawaan lahir yang kaku dan seumur hidup tidak akan berubah. Sebagai contoh, bakteri Escherichia Coli atau biasa disingkat E.Coli, merupakan bakteri yang pada umumnya hidup di dalam usus besar manusia, kebanyakan dari bakteri E.Coli tidak berbahaya bahkan keberadaannya bisa dibilang menguntungkan. Bakteri ini normalnya hidup dengan memakan fruktosa, meskipun ia diberi bahan yang berbeda seperti misalnya laktosa, dia tak akan bisa mengubahnya menjadi energi. Tetapi apabila bakteri ini tidak diberi bahan lain, dan terus-menerus hanya diberi laktosa, lama-kelamaan ia bisa mengubah laktosa menjadi energi. Inilah yang (menurut istilah Murakami) disebut perubahan genetika karena perlakuan ilmiah.
Secara ringkas, perlakuan ilmiah ini penulis sebut faktor eksternal atau lingkungan di mana jika bakteri itu tidak bisa mengubah laktosa menjadi energi maka ia akan mati. Kondisi (factor eksternal) inilah yang menjadikan bakteri tersebut bisa berubah atau mengalami mutasi genetika. Perubahan ini menurut Murakami disebabkan karena gen memiliki fitur “saklar” (Switch) yang berfungsi untuk mengendalikan kinerja gen tersebut antara “on” dan “off”. Fitur inilah yang disebut sebagai pemicu proses munculnya makhluk hidup, evolusi dan segala kegiatannya serta menjadi dasar dari suatu kehidupan. Tentu saja, hal serupa dapat pula terjadi pada gen manusia.
Apabila penelitian ini dikaitkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Masaru Emoto pada tahun 1994 lalu dalam bukunya The Miracle of Water dan beberapa karya lainnya, maka akan terdapat hubungan yang cukup signifikan. Dalam penelitiannya, Emoto menyatakan bahwa ada hubungan antara bentuk molekul kristal air yang dibekukan dengan pemberian kata-kata yang bagus, memainkan musik yang indah, dan doa. Apabila air merupakan komponen tubuh paling banyak dalam tubuh manusia (sekitar 70-80 % molekul air dalam tubuh manusia), maka manusia memiliki pengaruh yang besar terhadap hal-hal tersebut (pemberian kata-kata yang bagus, memainkan musik yang indah, dan doa). Artinya manusia dan segenap komponen tubuhnya (baik fisik maupun psikis) bereaksi terhadap factor yang terjadi diluar manusia. Begitu pula factor-faktor tersebut dalam mempengaruhi manusia, sehingga dapat pula dikatakan ada kaitan antara gen manusia dan hal-hal yang berhubungan dengan perasaan manusia seperti bahagia, syukur, dan doa.
Dari beberapa paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa gen memiliki fleksibilitas, pada saat-saat tertentu ia dapat berubah sesuai dengan factor eksternal (lingkungan) dan factor internal (keadaan hati manusia, psikis dan lain-lain). Pendek kata, ada hal yang menyebabkan kinerja gen menjadi dinamis dan tidak konstan. Hal ini kalau disebabkan menurut Murakami karena adanya “fitur saklar” dalam gen. Fitur inilah yang memicu proses munculnya perubahan evolusi dan segala kegiatannya serta menjadi dasar dari suatu dinamisasi kehidupan. Pertanyaan yang timbul kemudian adalah “apakah hal yang menyalakan atau mematikan saklar gen tersebut?”. Yang dapat mematikan dan menyalakan saklar tersebut adalah “lingkungan” dan “diri” manusia tersebut. Lingkungan atau penulis sebut dengan factor eksternal, misalnya adalah factor fisik seperti panas, tekanan, tegangan, latihan, gerakan, cahaya, dan sebagainya. Selain itu juga factor makanan dan bahan kimiawi seperti alcohol, rokok, hormon dan sebagainya. Adapun “diri” atau factor internal, diantaranya adalah faktor psikologis seperti syok, trauma, kegirangan, cinta, haru, kekhawatiran, doa dan sebagainya. Ketika saklar dalam gen ini dinyalakan atau dalam mode “on”, akan muncul kemampuan-kemampuan tersembunyi di dalamnya dan bisa dikatakan kemampuan gen yang tak terhingga.
Ilustrasinya sering kita dapatkan dalam kehidupan sehari-hari, di mana ada seorang anak difabel (cacat) yang memiliki kemampuan luar biasa yang tak bisa disangka. Seperti halnya Abdul Khalim, pemuda berusia 19 tahun asal Rembang, Jawa Tengah yang memiliki cacat ditangannya, kini menjadi kepala teknisi di Pusat Pendidikan Komputer Perusahaan Informasi Teknologi (IT) Bandung, Jawa Barat. Ada juga bocah bernama Jiang Tianjin yang meski memiliki kekurangan pada tubuhnya (tidak punya tangan), tapi ia telah berhasil menyelesaikan ujiannya dengan hasil yang baik di sebuah sekolah dasar di Shehong, Sichuan, Tiongkok. Yang lebih mencengangkan lagi adalah Nick Vujicic yang berasal dari Australia, seorang motivator yang mengidap tetra-amelia syndrome sejak lahir. Tetra-amelia syndrome adalah gangguan langka yang ditandai dengan tidak adanya keempat anggota badan. Meski begitu ia melakukan banyak hal yang biasa dilakukan oleh orang-orang normal, ia sekolah, berenang, belanja ke mal, bahkan juga menulis buku berjudul Life Without Limits. Dan masih banyak lagi contoh lainnya, yang menunjukkan bangkitnya gen atau hidupnya gen dalam hidup mereka.
Murakami menambahkan, diantara cara untuk membangkitkan gen ini adalah dengan cara hidup demi sebuah “misi”, bukan untuk menggapai “visi”. Visi dalam Bahasa Inggris disebut vision, dalam kamus Merriam-Webster online diartikan dengan “something seen in a dream, trance, or ecstasy (especially:  a supernatural appearance that conveys a revelation), a thought, concept, or object formed by the imagination”. Yang dimaksud dengan “visi” adalah sesuatu yang ditulis sendiri, karenanya kekuatan untuk menggapai itu pula harus dihimpun sendiri. Visi diartikan sebagai target-target pribadi, cita-cita atau apa yang seharusnya digapai. Sedangkan misi (dalam Bahasa Inggris disebut mission) dalam kamus Merriam-Webster online diartikan sebagai “a body of persons sent to perform a service or carry on an activity” atau sekelompok orang yang ditugaskan untuk melakukan suatu pengabdian, atau melaksanakan suatu kegiatan. Singkat kata menurut Murakami, misi berarti suatu tugas yang datang dari atas (Tuhan), sehingga kekuatan untuk melakukannya juga datang dari atas (Tuhan).
Inti cara membangkitkan gen adalah dengan mengubah cara hidup dari “mencari-mencari dan berharap” menjadi “menerima dan merelakan” kemudian muncul kesyukuran akan kehidupan, sehingga memunculkan pikiran-pikiran yang positif yang penuh optimisme dari sebelumnya berupa pikirian-pikiran negatif yang gelap dan penuh pesimisme. Dalam al-Quran surat Ali Imran ayat 135 dikatakan:       
   وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun (beristighfar) terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” Ayat di atas diperkuat dengan hadits nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad yang berbunyi:
مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا ، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا ، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa tekun beristighfar, nescaya Allah mengadakan baginya jalan keluar dari tiap-tiap kesempitan dan kelapangan dari tiap-tiap kesedihan serta diberi rezeki dari arah yang tidak di sangka-sangka.”
           
Dalam psikologi, para ahli ilmu jiwa menyimpulkan bahwa tindakan mengakui kesalahan ini bisa dikatakan termasuk dari penerimaan diri (self acceptance), sehingga dapat menjernihkan jiwa dan menyembuhkan penyakit. Kedokteran modern menamakan ini dengan istilah psychoanalysis therapy, yaitu sebuah terapi dengan cara memunculkan pengakuan-pengakuan diri seorang pasien tentang masalah-masalah yang dialaminya dihadapan seorang dokter maupun psikiater.
            Secara ringkas dari apa yang sudah dipaparkan di atas, adalah dalam memandang kehidupan ini, hendaknya tidak terlalu berlebihan mengacu pada visi, pendek kata terlalu mengacu pada das sollen atau harapan serta cita-cita yang diinginkan, kemudian melupakan misi atau disebut das sein atau fakta yang sebenarnya terjadi. Ketika terjadi ketidaksesuaian antara das sein (realita) dan das sollen (harapan), maka hendaknya mengambil keputusan untuk menerima das sein tersebut dengan penuh keoptimisan, menjalankan misi kehidupan yang telah ditugaskan dan memasrahkan semuanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Tidak terpengaruh oleh faktor eksternal (lingkungan) dan faktor internal (diri) yang membawa ke arah negatif, seperti situasi panas, alkohol, rokok, trauma, syok, kesedihan dan sebagainya. Agar saklar yang terdapat dalam gen bisa bangkit dan bangun, harus dinyalakan dengan berpikir positif terhadap semua das sein atau realita yang ada. Sehingga kemudian muncul das sollen dari kinerja gen yang telah termutasikan menjadi baru untuk bisa mengatasi problema yang ada. Singkat kata, penerimaan terhadap das sein dan perubahan yang terjadi pada das sollen dengan pandangan hidup yang lebih positif akan membuat saklar gen bermutasi kearah yang lebih positif pula, sehingga potensi-potensi kemampuan yang terkandung di dalamnya akan muncul lebih besar dari sebelumnya. Pada akhirnya, akan bermutasi menjadi manusia paripurna atau dalam konsep Islam disebut insan kamil (manusia yang sempurna).

 Wallahu a’lamu bishowab.

*) Penulis: Ust Hanif Fathoni (Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas)

Mahasiswa PBA dan Dosen UNIDA Gontor: Studi Ketrensainan dan Pengajaran Bahasa Arab


smatrensains.sch.id- Pihak SMA Trensains Tebuireng menyambut hangat silaturahmi mahasiswa semester 4 serta dosen  Pendidikan Bahasa Arab Universitas Darusalam (UNIDA), Gontor Ponorogo, di balai diklat Tebuireng, Rabu (6/3/19).
Selain mengunjungi Tebuireng (Trensains dan Ma’had Aly), rombongan juga mengunjungi Lamongan, Kediri, dan Malang. Kunjungan kali ini dalam rangka PKL (Pengayaan Kuliah Lapangan).
Pada kesempatan kali ini mahasiswa Unida berdiskusi terkait pengembangan pendidikan dunia pesantren. Penyampaian mengenai ketrensainsan dan pembelajaran bahasa Arab di SMA Trensains Tebuireng disampaikan oleh Ustadz Abdul Ghofur.
“Trensains sendiri menggunakan 3 kurikulum, yaitu nasional, internasional (cambridge), kearifan pesantren sains yang disebut kurikulum semesta. Dalam kurikulum kearifan pesantren sains terdapat mata pelajaran bahasa asing yaitu bahasa Arab,” ungkapnya.
Menurutnya, bahasa Arab dipelajari melalui kitab Jurumiyah, Tashrif, Imriti, Balaghoh, Qowaidul Fiqhiyah, Ulumul Quran, dan Hadist, Tafsir ayat-ayat kauniyah selain kajian tersebut, ilmu Falak, Astrofisika, Al-Quran dan Sains, Filsafat turut mendukung kedalaman praktik bahasa dan tidak lupa  percakapan sehari-hari (A-UP dan E-UP).
Selain itu model bahasa Arab yang khusus diajarkan pada murid Trensains dan berkenaan langsung pada penginteraksian Al-Quran dan Sains, melalui buku Ayat-Ayat Semesta dan Nalar Ayat-Ayat Semesta yang di susun oleh penggagas Trensains, Agus Purwanto, D.Sc. serta sumber pendukung lainnya yang dikaji dalam mata pelajaran ketrensainsan (Al-Quran dan Sains) dan kuliah umum setiap bulannya dan pengamatan (sains observation).
Ustadz Abdul Ghofur menjelaskan bahwa proses pengkajian tersebut menuntut santri mendalami makna Al-Quran secara implisit maupun eksplisit dengan sudut pandang Islam dan Sains kealaman dengan terlebih dahulu mengetahui tata kebahasaan bahasa Arab (Nahwu, Shorof, dan Balaghoh) serta Sains kealaman.
“Berdasarkan sains Islam yang tidak melepaskan esensi tuhan dalam gejala alam masa ini,” tandasnya.


PENDIDIKAN BERBASIS KARAKTER ALA KH. HASYIM ASY'ARI


www.smatrensains.sch.id-Wujud keterkaguman saya pribadi terhadap kitab yg ditulis KH. Hasyim Asy'ari. Terutama kitab Adabul Alim wal muta'allim, yg sungguh kalau boleh saya berkomentar, kitab itu merupakan masterpiece ilmiah secara penulisan, terutama tentang bagaimana harusnya pendidikan sekolah. Terutama setelah kita dapati beberapa kasus yang terjadi di negeri kita ini, baik berupa tindak pidana yg dilakukan oleh maupun terhadap guru di beberapa sekolah akhir-akhir ini. Ada diantara bait dalam Kitab KH. Hasyim tersebut yg cukup membuat saya termenung diantara adalah:
وقال بعضهم التوحيد يوجب الإيمان، فمن لا إيمان له لا توحيد له، والإيمان يوجب الشريعة ، فمن لا شريعة له لا إيمان ولا توحيد له، والسريعة توجب الأدب ، فمن لا أدب له لا شريعة له ولا إيمان له ولا توحيد له.
Sebagian ulama berpendapat bahwa tauhid itu mengharuskan adanya suatu keimanan. Barangsiapa yang tidak beriman, maka berarti ia tidak bertauhid.Iman juga mengharuskan adanya syari’at. Barang siapa yang tidak bersyari’at, maka berarti ia tidak beriman dan juga tidak bertauhid.Syari’at juga mengharuskan adanya budi pekerti budi pekerti. Barang siapa yang tidak mempunyai budi pekerti, maka ia tidak bersyari’at, tidak beriman dan tidak bertauhid (kepada Allah SWT).

Menyitir dr bait yg dikatakan ulama diatas, KH. Hasyim begitu menitik beratkan pentingnya adab atau character building, bukan sekedar nilai maupun pemahaman materi pelajaran belaka. Hal ini dapat kita simpulkan dr beberapa analisa lafadz yg ada didalamnya yaitu iman (secara materi menyangkut pengetahuan tentang ketuhanan, prinsip2 keimanan dan konsepnya), yang tidaklah cukup hanya sekedar materi pengetahuan keimanan saja tapi harus berimplikasi terhadap munculnya sikap men tauhid kan Allah (secara aplikasi mengakui dan mengesakan Allah tanpa ada celah untuk menyekutukan Nya, secara lahir batin). Konsep materi keimanan yg berbuahkan ketauhidan ini pun tak cukup, mestinya dibuktikan secara implementasi melalui praktek syariat Islam yg baik, (baik secara keilmuan maupun praktek dalam totalitas kehidupan) yang semuanya akan berbuah atau terlihat melalui perilaku, karakter, sikap maupun tingkah laku yang disebut adab. Poin penting dr semuanya adalah adab merupakan wujud implementasi nyata dari apa yang dipahami dr prinsip keimanan, ketauhidan dan keagamaan.

Apabila kita telaah istilah adab, dalam bahasa Arab memiliki beberapa pengertian diantaranya
  تدل على رياضة النفس على ما يستحسن من سيرة وخلق،
 Adab bermakna pencapaian olah jiwa dalam suatu hal yang baik secara perilaku maupun budi pekerti. Dalam bahasa Inggris disebut ethics atau good manner dan behaviour. Kalau dihubungkan dengan empat pilar pendidikan menurut UNESCO yang meliputi; 1. Learning to know (belajar menngetahui), 2. Learning to do (belajar melakukan sesuatu), 3. Learning to be (belajar menjadi sesuatu), 4. Learning to live together (belajar hidup bersama).

Semua pilar itu sudah ada dalam konsep pendidikan pesantren seperti yang dikemukakan KH. Hasyim Asy'ari diatas. Dan di pesantren, yang menjadi tolak ukur adalah adab.
Karena sebenarnya adab sudah mencakup semuanya. Dengan demikian, konsep pendidikan yang disampaikan K.H. Hasyim Asy'ari bisa dijadikan rujukan atau referensi utama untuk melengkapi kekurangan dalam kurikulum pendidikan selama ini baik KTSP maupun K13.  Oleh karenanya, perlu kita jadikan pilot projek dan rundown nyata dalam sekolah kita, bukan sebagai bahan bacaan saja, tapi sebagai konsep dan sistem pendidikan di sekolah.

 *) Penulis : Ust. Hanif Fathoni (Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas)

URGENSI SANAD DALAM KAJIAN ILMU


smatrensains.sch.id-Perkembangan teknologi informasi yang pesat belakangan ini, semakin memudahkan orang untuk mendapatkan berbagai ilmu pengetahuan baik ilmu agama maupun ilmu umum. Disatu sisi keberadaan teknologi informasi baik internet, aplikasi media sosial dan sebagainya dapat mempermudah pencarian informasi maupun mendapatkannya namun disisi lain juga dapat menjerumuskan orang bila tidak dengan bijaksana mencerna dan mengolah informasi atau ilmu yang didapatkan. Sehingga memunculkan "orang-orang pintar" baru yang sesungguhnya tidak memahami ilmu yang didapatkan.

Fenomena semacam ini pernah diwanti-wantikan atau diperingatkan oleh Hadhrotusyeikh KH. Hasyim Asy'ari dalam kitab beliau Risaalatu Ahli as Sunnah wal Jama'ah dimana beliau berkata: "Hendaknya berhati-hati dalam mengambil suatu ilmu (informasi), dan seyogyanya untuk tidak mengambil ilmu dari orang yang bukan ahlinya." (1418: 17)
Kemudian Syeikh Hasyim Asy'ari menegaskan hal tersebut dengan menukil perkataan Imam Malik r.a. sebagai berikut:
لا تحمل العلم عن أهل البدع، ولا تحمله عمن لا يعرف بالطلب، ولا عمن يكذب في حديث الناس وإن كان لا يكذب في حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم.
"Jangan mengambil ilmu dari orang ahli bid’ah, serta janganlah menukilnya dari orang yang tak diketahui darimana ia mendapatkannya, dan tidak pula dari siapapun yang dalam perkataannya ada kebohongan, meskipun ia tidak berbohong dalam menyebutkan hadits Rasulullah saw."

Dalam beberapa kajian hadits maupun fiqih pun disebutkan tentang pentingnya sanad kelimuan. Diantaranya adalah anjuran Nabi Muhammad saw agar umatnya mengikuti ilmu yang bersanad: Dari Abdullah ibn Mas’ud ra., Rasulullah saw bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di zamanku, kemudian orang-orang setelahnya, kemudian orang-orang setelahnya”. (HR. Bukhari, No. 2652, Muslim, No. 6635). Dalam riwayat lain beliau juga bersabda, “Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri (tanpa guru) dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan.” (HR. Ahmad). Senada seperti hal diatas, disebutkan dalam riwayat Ibnu ‘Abbas r.a. bahwa Rasulullah saw juga bersabda, “Di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (HR. ath-Thabrani). Mengenai hal ini, Ibnu al-Mubarak berkata: ”Sanad merupakan bagian dari agama, kalaulah bukan karena sanad, maka pasti akan bisa berkata siapa saja yang mau dengan apa saja yang diinginkannya.” (H.R. Imam Muslim dalam Muqoddimah kitab Shahihnya 1/47 No. 32)

Meskipun sudah cukup jelas tentang pentingnya sanad dalam memahami ilmu, namun beberapa orang memandang tidak terlalu penting hal tersebut. Di Indonesia sendiri sanad dalam kajian ilmu sangat diperhatikan sejak awal berdirinya pesantren di Indonesia. Diantaranya kajian hadits Sahih Bukhori di Pesantren Tebuireng yang dahulunya diampu oleh Hadrotusy Syeikh KH. Hasyim Asy'ari, kemudian dilanjutkan oleh santri-santri beliau yang memiliki legalitas sanad dari beliau seperti KH. Idris Kamali, KH. Syansuri Badawi dan selainnya hingga sekarang diasuh oleh KH. Habib Ahmad. Pada umumnya, setelah khataman kitab diberikan semacam surat atau kertas ijazah berisi sanad darimana sang guru mendapatkan keterangan kitab tersebut hingga tersambung keotentikannya sampai sang penulis kitab. Metode semacam ini tidak hanya ada di pesantren Tebuireng saja namun banyak pesantren tradisional lainnya yang masih memegang teguh tradisi ini. Namun bagi orang yang tidak terlalu mementingkan kertas ijazah sanad tersebut, seperti halnya penulis juga pada awalnya tidak terlalu memperhatikan pentingnya ijazah sanad tersebut karena dianggap hanya berupa kertas biasa saja.

Sebenarnya, yang dapat dipahami dari model pemberian ijazah sanad semacam ini adalah agar terhindar dari taqlid buta sehingga benar-benar tahu darimana ilmu tersebut diambil. Apabila dianalogikan dalam istilah Ushul fiqh, taqlid buta atau mengikuti tanpa tahu dasar landasan keotentikan dalam mempelajari ilmu terutama ilmu agama merupakan hal yang tidak diperkenankan. Adapun ittiba' atau mengikuti suatu ilmu dan tahu darimana ilmu tersebut diambil sangatlah dianjurkan terlebih berijtihad atau berusaha menggalinya dari sumber asli dan memahami konteks dasar sumber asli tersebut dengan menggunakan metodologi yang tepat. Dengan kata lain, istilah sanad menurut hemat penulis adalah dasar landasan keotentikan suatu ilmu dari asal sumber ilmu itu berasal, sehingga dapat diperoleh ilmu dengan pemahaman yang otentik dan orisinil.
Selain beberapa hal tersebut diatas, ada hal lain yang semakin membuat penulis sadar akan pentingnya sanad keilmuan, terlebih ketika beberapa waktu yang lalu ada seorang Syeikh dari Mesir yang berkunjung ke Indonesia untuk mengajarkan beberapa kitab bersanad, yaitu Syeikh Yusri Rusydi Sayyid Jabr al-Hasani seorang guru pengajar kitab-kitab hadits bersanad (kutubus sittah dan kitab2 hadits lainnya), fiqih bersanad (kitab-kitab fiqh madzhab Syafi'i) dan tasawwuf (al-Hikam dan sebagainya).

Dalam beberapa halaqah yang penulis ikuti, beliau menyebutkan pentingnya sanad keilmuwan dalam mempelajari suatu ilmu secara riwayah (tekstual) dan dirayah (kontekstual). Disamping itu dalam kesempatan lain, Syeikh Ali Jum'ah grand mufti dari Universitas al-Azhar Kairo pernah berkata: "Permasalahan terbesar dari para penuntut ilmu saat ini adalah keinginan mereka untuk mencari ilmu secara instan". Mencari ilmu secara instan berarti tidak melalui metode yang semestinya dalam mencarinya, berarti pula pemahaman yang didapatkan juga pemahaman instan. Padahal dalam proses pencarian ilmu ada tahapan-tahapan yang dengannya metode berpikir sang pencari ilmu terbentuk. Sebagai contoh, dalam kajian membaca Al-Quran, apabila al-Quran dianggap sebagai sumber ilmu, maka dalam membacanya pun hendaknya melalui sanad membaca yang benar. Sebagaimana diceritakan oleh Syeikh Ali Jum'ah tentang dua guru beliau yang merupakan ahli Qur’an dan Qiro’at di Al-Azhar, Syaikh al-Hamadani dan Syaikh al-Zayyat, keduanya adalah murid Syeikh al-Janaini. Syeikh al-Hamadani mengajar dan menyimak Qur’an di Masjid Azhar setiap hari, dari jam 7 pagi hingga jam 7 malam. Ketika Universitas Al-Azhar mendirikan Ma’had(institusi) khusus al-Qur’an dan Qiro’at, Syaikh al-Hamadani mengajukan diri untuk menjadi pengajar, namun sayangnya beliau ditolak karena satu alasan saja yaitu beliau tidak punya sanad ijazah tertulis dari guru beliau, Syaikh al-Janaini, padahal tidak ada satupun orang yang meragukan kemampuan Syekh al-Hamadani, dan semuanya tahu bahwa beliau murid utama Syaikh al-Janaini.Setelah Syaikh al-Hamadani mendapatkan ijazah sanad dari teman seperjuangan dan seperguruan beliau sendiri yaitu Syekh al-Zayyat, barulah beliau mendapat legalitas untuk mengajar di Ma’had baru tersebut. Ini membuktikan bagaimana lembaga keislaman sekaliber dunia dan sudah berabad-abad berdirinya masih sangat memperhatikan legalitas keotentikan suatu ilmu.

Di Indonesia sendiri, beberapa pesantren tahfidz sangat ketat dalam memberikan ijazah sanad membaca al-Quran, seperti halnya di Madrasatul Quran Tebuireng maupun pesantren tahfidz yang lainnya dalam pemberian ijazah sanad qiraah seorang pencari sanad diharapkan harus hafal al-Quran dahulu dan merepetisi hafalannya selama beberapa kali untuk kemudian menghadap sang penguji dalam suatu waktu tanpa ada salah sedikitpun, barulah ia bisa mendapatkan sanad ijazah tersebut. Sekali lagi hal ini dimaksudkan agar keotentikan ilmu tersebut minimalnya secara tekstual tidak ada yang salah.

Begitu halnya dalam mempelajari hadits-hadits Nabi Muhammad saw, kajian sanad suatu matan hadits (isi kandungan hadits) secara riwayah dan dirayah haruslah benar. Merujuk pada apa yang dilakukan generasi terdahulu dalam mempelajari suatu hadits, diantaranya para sahabat dan tabi’in, setelah terjadinya peristiwa besar atas terbunuhnya Khalifah Utsman, mengambil sikap hati-hati dalam meriwayatkan sebuah hadits. Mereka tidak menerima selain apa yang diketahui jalurnya dan merasa yakin dengan ke-tsiqah-an (keterpercayaan) dan keadilan (karakteristik kebenaran) para perawinya, yaitu melalui jalur sanad. Imam Muslim salah seorang pioner dalam studi hadits meriwayatkan di dalam pendahuluan Shahih Muslim-nya, beliau menukil dari Ibn Sirin rahimahullah yang berkata, “Dulu mereka tidak pernah mempertanyakan tentang sanad, namun tatkala terjadi fitnah, mereka mengatakan, ‘Tolong sebutkan kepada kami para perawi kalian!’ Lalu dilihatlah riwayat Ahlussunnah lantas diterima hadits mereka. Kemudian, dilihatlah riwayat Ahli Bid’ah, lalu ditolak hadits mereka.” Demikian pula para muhaditsin (Ilmuwan Hadits) ketika mendengar sebuah hadits, tidak langsung menerimanya. Mereka terlebih dulu menguji kebenaran hadits itu dengan melihat dan mempelajari matan (isi) dan sanad–nya sekaligus. Berdasarkan metode inilah kemudian mereka menilai apakah sebuah hadits itu otentik dan akurat, atau tidak.

Bertolak dari poin diatas, kajian kelimuan secara sanad riwayah (tekstual) cukup penting, agar teks yang dikaji tidak ada tahrifat (penyelewengan teks) baik berupa pemalsuan teks maupun kesalahan tulisan yang akan berimplikasi terhadap kesalahan makna dan arti teks yang tertulis. Begitu pula kajian kelimuwan berlandaskan sanad dirayah (kontekstual) juga penting, agar tidak terjadi kesalahan pemahaman dalam mengkaji suatu teks keilmuan. Sebagai contoh, dalam memahami hadits yang berisi tentang bagaimana sikap, perangai dan seluruh hal-hal yang berkaitan dengan Rasulullah seperti dalam kitab Syamaail Al Muhammadiyah karya Imam Turmudzi tidaklah cukup dari keterangan tertulis maupun terjemah yang dicantumkan saja namun butuh kejelasan kontekstual baik secara verbal maupun nonverbal dari penulis kitab maupun pensyarahnya minimalnya dari orang yang memiliki dasar dan landasan pemahaman tekstual dan kontekstual dari penulis asli sehingga jelas bagaimana sikap dan perangai Rasulullah saw.

Begitu pula dalam ilmu lain, contohnya Ilmu aljabar, yang berasal dari nama kitab Al Khawarizmi yang berjudul al-Jabr wal Muqobalah. Pada awalnya aljabar berawal dari keingintahuan Al Khawarizmi tentang ayat-ayat mirots dalam al-Quran yang berisi pecahan-pecahan unik sehingga membuat beliau tertarik untuk mengkajinya. Semisal pula dengan aljabar, ilmu ukur yang dalam bahasa Arab disebut ilmu hisab juga berlandaskan beberapa kajian yang mendalam dari ayat-ayat maupun hadits-hadits tentang falak dan seterusnya. Setidaknya dengan mengetahui darimana ilmu tersebut diambil, akan menambah pemahaman tekstual maupun kontekstual suatu ilmu terlebih ilmu agama. Sehingga suatu ilmu yang dipelajari menjadi utuh dan tidak menyeleweng dari pemahaman yang sebenarnya dari sumber asli teks tersebut (pengarang) dari semenjak teks tersebut dituliskan pada generasi awalnya, hingga kepada generasi-generasi setelahnya. Harapannya pula agar generasi sekarang maupun setelahnya mendapat ilmu secara tekstual dan kontekstual yang utuh dan benar serta tidak memunculkan pemahaman-pemahaman yang dangkal dan parsial dalam mempelajari suatu ilmu. Walaupun tidak semua ilmu harus didasarkan atas sanad, minimalnya dengan memahami dasar landasan ilmu tersebut akan dapat dipahami secara lebih utuh, menyeluruh, otentik dan orisinil.

wallahu a'lamu bishowab


Penulis: Ust.
Hanif Fathoni (Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas)