DAS SEIN, DAS SOLLEN DAN GENETIKA DALAM ISLAM


Dahulu, ketika penulis masih aktif mengikuti kuliah Prof. Dr. Siti Chamamah (seorang profesor bidang filologi UGM), beliau seringkali menginggung tentang das sein dan das sollen dalam menganalisa suatu fenomena. Kedua kata ini diambil dari bahasa Jerman “Das Sein” yang berarti keadaan yang sebenarnya pada waktu sekarang, sedangkan “Das Sollen” berarti apa yang dicita-citakan, apa yang diharapkan atau apa yang harus ada nanti.
Secara etimologi, istilah das sein dan das sollen sebenarnya berasal dari istilah hukum. Dalam istilah hukum, Das Sein berarti kenyataan penerapan hukum yang terjadi di dalam kehidupan. Biasa disebut juga Law in Action. Sedangkan Das Sollen adalah hukum yang ada didalam aturan-aturan yang telah dibuat (tertulis), yang terdapat dalam undang-undang dan peraturan hukum lainnya. Biasa disebut juga Hukum yang dipelajari atau Law in the book. Dua istilah ini sering dipakai diluar istilah hukum, dalam dunia intelektual Das Sein disebut juga fakta atau realita yang terjadi. Adapun Das Sollen adalah teori, prinsip maupun harapan yang seharusnya ada.
Ketika Das Sollen tidak sesuai dengan Das Sein maka timbullah masalah. Dalam tradisi intelektual ketika seorang peneliti yang akan meneliti suatu hal, maka ia harus memahami dahulu das sollen (teori yang sudah ada) untuk kemudian dibandingkan atau dipadankan dengan das sein (fakta atau realita yang ada). Apabila das sein tidak sesuai dengan das sollen berarti ada masalah yang harus diselidiki atau diteliti permasalahannya.
Kalau dihubungkan dalam kehidupan sosial maupun psikologis manusia, seringkali manusia terlalu berpedoman pada Das Sollen atau harapan yang diinginkan terhadap dirinya dalam bersosial. Dan ketika dia mendapati das sein (fakta yang ada) tidak sesuai dengan das sollen (harapan yang diinginkan) dalam dirinya, ia mengalami gejolak dalam dirinya sehingga menimbulkan depresi dari tingkat ringan hingga berat bergantung pada tingkatan ketidaksesuaian das sein dan das sollen yang ia alami. Sebagai contoh, seorang pemuda yang memiliki harapan cinta (baca mencintai) seorang pemudi lain dan berharap bisa mendapatkan cinta pemudi tersebut dengan melakukan berbagai macam upaya pendekatan kepada pemudi yang dituju, ketika ternyata (pada realitanya) pemudi tersebut tidak menyukai bahkan tidak mencintai pemuda tersebut maka timbullah gejolak dalam diri pemuda tersebut antara das sollen (harapannya untuk mendapatkan cinta pemudi) dan das sein (realita dimana pemudi tersebut tidak mencintainya atau menolaknya) yang menimbulkan depresi dalam diri pemuda tersebut. Contoh lainnya, seorang pemudi sebut saja N berharap segera bisa menikah karena memang sudah berumur namun dia belum mendapatkan seseorang yang cocok untuk bisa diajak menikah. Suatu saat ada seorang pemuda sebut saja M yang menurutnya baik dan cocok, ia berharap agar pemuda tersebut segera datang untuk menikahinya. Namun ternyata, pemuda tersebut masih belum bisa menetapkan keputusan yang pasti (karena faktor keluarga maupun target karir yang dihendaki si M), sehingga menimbulkan depresi dalam diri si N yang diakibatkan oleh ketidaksesuaian antara das sein (fakta yang terjadi) dengan das sollen (harapan si N untuk segera menikah).

Menurut para ahli psikologi, manusia yang sering menderita depresi berat atau bahkan mengalami komplikasi kejiwaan (complex personality) disamping karena faktor ketidaksesuaian antara das sein dan das sollen, biasanya juga karena peristiwa traumatic event yang dialami pada masa lalu. Saat beranjak dewasa, perasaan tertekan (depresi) ini semakin membesar hingga menyebabkan komplikasi kejiwaan (complex personality), bahkan dapat menimbulkan penyakit hingga kematian. Sebagai contoh, seorang pemuda yang pada masa kecilnya sering mendapatkan perlakuan yang kurang adil bahkan kekerasan dari orang tuanya, seringkali ketika dewasa menjadi seorang yang memiliki kepribadian yang antisosial, berwajah murung, mudah marah, banyak memiliki penyakit dan hingga akhirnya tidak sedikit yang bunuh diri. Menurut hemat penulis, fenomena semacam ini terjadi karena ketidaksesuaian antara das sein (realita yang didapati dari orangtua yang tidak adil) dengan das sollen (harapan kasih sayang dan keadilan dari orang tuanya) serta masih banyak contoh lainnya yang sering kita dapatkan di sekitar kita.
Disamping dari yang penulis paparkan, ada juga yang mengatakan bahwa komplikasi kejiwaan (complex personality) ini disebabkan karena faktor turunan atau gen yang dibawa orang tuanya. Seringkali kita dapatkan seorang anak yang mudah terkena penyakit, karena orangtuanya juga mudah terserang penyakit. Begitu pula dalam hal sifat maupun sikap, seorang anak yang memiliki sikap pemarah, biasanya dinisbatkan kepada orangtuanya yang juga memiliki sikap temperamental. Dalam bahasa Arab, adagium yang cukup terkenal adalah: alwaladu sirru abihi (seorang anak itu bagai suatu rahasia orangtuanya), apa yang terjadi pada anak demikian pula yang terjadi pada orangtuanya.
Di Indonesia sendiri, terdapat adagium yang terkenal “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” yang memiliki arti sifat anak tidak jauh berbeda dengan ayah atau ibunya. Dengan kata lain sesuatu yang ada pada anak pasti akan ada kemiripannya dengan orang tuanya. Senada pula dengan ini, adagium bahasa Jawa yang berbunyi “anak polah bopo kepradah”, yaitu tentang kenakalan anak yang mengakibatkan orang tuanya mengalami kesulitan (ikut menanggung akibatnya). Beberapa adagium tersebut muncul tentunya bukan karena tanpa sebab, tetapi justru karena pengaruh kondisi fakta yang terjadi. Seakan mengatakan bahwa apa yang terjadi pada anak, dinisbahkan atau disandarkan pada orang tuanya. Seakan pula mengatakan bahwa apa yang terjadi pada anak adalah hasil cerminan apa yang dilakukan orang tuanya. Dengan kata lain, anak adalah gudang sumber informasi rahasia dari orang tuanya.

Gen dan Saklar Gen
Apabila penisbatan (penyandaran) ini kita dasarkan pada ilmu biologi, maka kita akan dapatkan kaitan yang logis, diantaranya dalam ilmu genetika, atau ilmu yang mempelajari gen, pewarisan sifat, dan keanekaragaman organisme hidup. Istilah “genetika” sendiri merupakan kata serapan dari bahasa Belanda genetica, yang diadaptasi dari bahasa Inggris genetics, yang berasal dari bahasa Yunani Kuno γενετικός (genetikos) yang berarti “tempat” yang berasal dari kata dasar γένεσις (genesis) yang berarti “asal”. Adapun “gen” dalam kamus Cambridge Advance Learners’ Dictionary berarti information about a particular subject (informasi tentang objek tertentu), sehingga “gen” adalah suatu informasi asal yang ada pada suatu objek. Dengan kata lain, genetika berusaha menjelaskan material pembawa informasi untuk diwariskan (bahan genetik), bagaimana informasi itu diekspresikan (ekspresi genetik), dan bagaimana informasi itu dipindahkan dari satu individu ke individu lain (pewarisan genetik).
Mengenai konsep pewarisan genetik ini, pertama kali dikemukakan oleh Gregor Mendel (1865), seorang ilmuwan dan biarawan dari Jerman yang terkenal sebagai peletak dasar ilmu genetika modern. Mendel mengetahui bahwa pada semua organisme hidup terdapat “unit dasar” yang pada masa kini disebut gen yang secara khusus diturunkan oleh orang tua kepada anak-anaknya. Sebenarnya jauh-jauh hari sebelum Mendel, Nabi Muhammad pernah mengemukakan tentang ini 14 abad yang lalu dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (no. 5305) dan Imam Muslim (no. 1500) dari Abu Hurairah sebagai berikut ini:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ قَزَعَةَ حَدَّثَنَا مَالِكٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وُلِدَ لِى غُلاَمٌ أَسْوَدُ. فَقَالَ « هَلْ لَكَ مِنْ إِبِلٍ ». قَالَ نَعَمْ. قَالَ « مَا أَلْوَانُهَا ». قَالَ حُمْرٌ. قَالَ « هَلْ فِيهَا مِنْ أَوْرَقَ ». قَالَ نَعَمْ .قَالَ « فَأَنَّى ذَلِكَ ». قَالَ لَعَلَّهُ نَزَعَهُ عِرْقٌ. قَالَ « فَلَعَلَّ ابْنَكَ هَذَا نَزَعَهُ»
Dalam hadits tersebut diceritakan, ada seorang Arab Badui mendatangi Nabi. Ia berkata, “Istriku melahirkan seorang anak yang berkulit hitam dan aku mengingkarinya”. Rasulullah lantas bertanya kepadanya, ”Apa kau memiliki unta?”. “Ya” jawabnya. Beliau kembali bertanya, “Apa saja warnanya?”. Ia menjawab, “Merah”. Tanya Rasulullah lagi,“Adakah pada unta itu bintik-bintik hitam?”. Ia menjawab, “Ya, pada tubuhnya terdapat satu bintik hitam.” Beliau bertanya, “Darimana datangnya warna itu?”. Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, itu adalah tanda lahir.” Maka beliau bersabda, “Mungkin (hitamnya anakmu) itu adalah tanda lahir (yang berasal dari nenek moyang terdahulu)”. Dalam hadits ini, Nabi mengisyaratkan konsep pewarisan genetik dan tidak membolehkan orang Arab Badui tersebut mengingkari anak keturunannya sendiri walau ia kelihatan berbeda kulit dari dirinya. Dalam kitab Shahih-nya, Muslim juga meriwayatkan dari Aisyah dalam hadits (no. 314) tentang seorang perempuan yang bertanya kepada Rasulullah sebagai berikut:
أن امرأة قالت لرسول الله صلى الله عليه و سلم هل تغتسل المرأة إذا احتلمت وأبصرت الماء ؟ فقال نعم فقالت لها عائشة تربت يداك وألت قالت فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم دعيها وهل يكون الشبه إلا من قبل ذلك إذا علا ماؤها ماء الرجل أشبه الولد أخواله وإذا علا ماء الرجل ماءها أشبه أعمامه.
 “Apakah seorang perempuan wajib mandi ketika bermimpi dan melihat cairan?”, Beliau menjawab, “Ya”. Lalu Aisyah berkata kepada perempuan itu, “Beruntunglah kamu!” Lalu beliau bersabda, “Biarkan ia. Bukankah kemiripan anak itu terjadi dari (cairan) itu? Jika air perempuan lebih dominan dari laki-laki, maka anaknya akan mirip dengan saudara-saudari dari pihak ibu, dan jika air laki-laki lebih dominan dari air perempuan, maka anaknya akan mirip dengan saudara-saudari bapaknya”.
Sekali lagi, hadits di atas menegaskan hadits sebelumnya tentang adanya konsep pewarisan genetika dari induk ke turunannya. Pewarisan genetik atau dalam istilah Inggris disebut genetic transmisional ini dapat berupa sifat fisik maupun non-fisik dalam suatu kumpulan gen atau biasa disebut kromosom. Setiap manusia memiliki 46 kromosom, dan setiap kromosom membawa sejumlah gen. Tentu saja kromosom setiap orang berbeda dengan kromosom lainnya. Kromosom pada manusia atau makhluk hidup lainnya yang berkembang biak secara seksual dapat dibedakan menjadi dua, yaitu a). autosom, adalah kromosom yang mengatur sifat-sifat tubuh selain jenis kelamin, b). gonosom atau kromosom seks, yaitu kromosom yang khusus menentukan jenis kelamin. Kromosom seks manusia biasanya berjumlah sepasang (disimbolkan XY dan XX). Seorang laki-laki mempunyai kromosom XY, sedangkan seorang wanita mempunyai kromosom XX. Apabila ditautkan dengan konsep ajaran Islam tentang nabi Adam as, maka seluruh kromosom dan gen ini ada pada diri Adam dan kemudian menyebar ke seluruh keturunannya. Masalah ini ditegaskan dalam al-Quran surat Al-An’am ayat 98:
وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ فَمُسْتَقَرٌّ وَمُسْتَوْدَعٌ ۗ قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَفْقَهُونَ
“Dan Dia-lah yang menciptakan kamu dari seorang diri, maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada orang-orang yang mengetahui”. Yang dimaksudkan “من نفس واحدة“ ini menurut ath-Thabari berdasarkan riwayat para sahabat dan ilmuwan Muslim lainnya adalah Adam as.
Dalam ilmu biologi, “gen” adalah bagian dari kromosom atau satu kesatuan kimia dalam kromosom yang mengendalikan ciri genetis suatu makhluk hidup. Gen memiliki sifat menurun dari induk kepada anaknya, dari orangtua kepada turunannya. Istilah “gen” pertama kali dikemukakan oleh Wilhelm Johannsen (1919) seorang ilmuwan Botani dan ahli genetika dari Denmark.  Ia dikenal sebagai orang yang pertama kali menunjukkan bahwa variasi penampilan (fenotipe) tidak hanya disebabkan oleh gen tetapi juga karena pengaruh lingkungan. Adapun fungsi gen menurut Kazuo Murakami (seorang professor di Fakultas Biologi Terapan Universitas Tsukuba yang telah meneliti di bidang genetika selama 20 tahun lebih) antara lain sebagai berikut: a). menyampaikan informasi genetik dari satu generasi ke generasi berikutnya, b). untuk menjaga keberlangsungan hidup dengan memproduksi protein.
Fungsi yang pertama ditunjukkan dengan sel-sel dalam tubuh yang terus menggandakan diri dengan menggunakan fungsi fotokopi dari DNA. DNA (deoxyribonucleic acid) atau disebut pula asam deoksiribonukleat merupakan suatu asam nukleat yang menyimpan segala informasi tentang genetika atau dapat dikatakan pula merupakan gambar rancangan kehidupan yang tertulis dalam DNA sel sebagai “kode” unik yang berisi sumber informasi kehidupan yang sangat luas. DNA inilah yang menentukan jenis rambut, warna kulit dan sifat-sifat khusus dari manusia. Tampaknya peranan DNA inilah yang memunculkan kesan bahwa “gen” itu tetap dan tidak berubah. Artinya, dengan membuat sel yang sama seperti sebelumnya di dalam tubuh, sel tersebut meneruskan sifat dan karakter dari induk ke anak, dari anak ke cucu, tanpa perubahan. Dari sinilah muncul kesimpulan bahwa sifat konstan (tetap) inilah yang memberikan kesan bahwa gen adalah sesuatu yang telah ditetapkan sebelumnya dan tidak akan berubah. Sehingga cukup wajar pula apabila muncul beberapa adagium-adagium yang sudah penulis sebutkan dahulu (alwaladu sirru abihi, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” dan sebagainya). Namun menurut Kazuo Murakami dalam bukunya “SWITCH” (2012), fungsi gen yang kedua sebagai pembuat protein, sama sekali tidak konstan. Yang dimaksudkan dengan fungsi “gen” yang kedua di sini adalah informasi tentang pembuatan protein, yang merupakan salah satu bagian dari miliaran informasi genetic (disebut genom) yang termuat dalam DNA di inti sel.
Seperti yang telah diketahui, protein adalah bahan paling penting dalam pembentukan bagian tubuh makhluk hidup seperti tulang, otot kulit, dan organ dalam. Dengan demikian, informasi perintah pembuatan protein ini berlangsung terus menerus dan pembuatannya tanpa henti terjadi dalam tubuh makhluk hidup untuk menjaga keberlangsungan hidupnya. Apabila perintah tersebut tersendat, maka keberlangsungan hidup makhluk hidup tersebut akan terancam. Singkat kata, selain memiliki sifat konstan dari pewarisan sifat, gen juga memiliki sifat kinerja dinamis yang tent uterus menerus berubah demi menjalani kehidupan pada saat ini. Dengan kata lain, gen bukanlah bawaan lahir yang kaku dan seumur hidup tidak akan berubah. Sebagai contoh, bakteri Escherichia Coli atau biasa disingkat E.Coli, merupakan bakteri yang pada umumnya hidup di dalam usus besar manusia, kebanyakan dari bakteri E.Coli tidak berbahaya bahkan keberadaannya bisa dibilang menguntungkan. Bakteri ini normalnya hidup dengan memakan fruktosa, meskipun ia diberi bahan yang berbeda seperti misalnya laktosa, dia tak akan bisa mengubahnya menjadi energi. Tetapi apabila bakteri ini tidak diberi bahan lain, dan terus-menerus hanya diberi laktosa, lama-kelamaan ia bisa mengubah laktosa menjadi energi. Inilah yang (menurut istilah Murakami) disebut perubahan genetika karena perlakuan ilmiah.
Secara ringkas, perlakuan ilmiah ini penulis sebut faktor eksternal atau lingkungan di mana jika bakteri itu tidak bisa mengubah laktosa menjadi energi maka ia akan mati. Kondisi (factor eksternal) inilah yang menjadikan bakteri tersebut bisa berubah atau mengalami mutasi genetika. Perubahan ini menurut Murakami disebabkan karena gen memiliki fitur “saklar” (Switch) yang berfungsi untuk mengendalikan kinerja gen tersebut antara “on” dan “off”. Fitur inilah yang disebut sebagai pemicu proses munculnya makhluk hidup, evolusi dan segala kegiatannya serta menjadi dasar dari suatu kehidupan. Tentu saja, hal serupa dapat pula terjadi pada gen manusia.
Apabila penelitian ini dikaitkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Masaru Emoto pada tahun 1994 lalu dalam bukunya The Miracle of Water dan beberapa karya lainnya, maka akan terdapat hubungan yang cukup signifikan. Dalam penelitiannya, Emoto menyatakan bahwa ada hubungan antara bentuk molekul kristal air yang dibekukan dengan pemberian kata-kata yang bagus, memainkan musik yang indah, dan doa. Apabila air merupakan komponen tubuh paling banyak dalam tubuh manusia (sekitar 70-80 % molekul air dalam tubuh manusia), maka manusia memiliki pengaruh yang besar terhadap hal-hal tersebut (pemberian kata-kata yang bagus, memainkan musik yang indah, dan doa). Artinya manusia dan segenap komponen tubuhnya (baik fisik maupun psikis) bereaksi terhadap factor yang terjadi diluar manusia. Begitu pula factor-faktor tersebut dalam mempengaruhi manusia, sehingga dapat pula dikatakan ada kaitan antara gen manusia dan hal-hal yang berhubungan dengan perasaan manusia seperti bahagia, syukur, dan doa.
Dari beberapa paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa gen memiliki fleksibilitas, pada saat-saat tertentu ia dapat berubah sesuai dengan factor eksternal (lingkungan) dan factor internal (keadaan hati manusia, psikis dan lain-lain). Pendek kata, ada hal yang menyebabkan kinerja gen menjadi dinamis dan tidak konstan. Hal ini kalau disebabkan menurut Murakami karena adanya “fitur saklar” dalam gen. Fitur inilah yang memicu proses munculnya perubahan evolusi dan segala kegiatannya serta menjadi dasar dari suatu dinamisasi kehidupan. Pertanyaan yang timbul kemudian adalah “apakah hal yang menyalakan atau mematikan saklar gen tersebut?”. Yang dapat mematikan dan menyalakan saklar tersebut adalah “lingkungan” dan “diri” manusia tersebut. Lingkungan atau penulis sebut dengan factor eksternal, misalnya adalah factor fisik seperti panas, tekanan, tegangan, latihan, gerakan, cahaya, dan sebagainya. Selain itu juga factor makanan dan bahan kimiawi seperti alcohol, rokok, hormon dan sebagainya. Adapun “diri” atau factor internal, diantaranya adalah faktor psikologis seperti syok, trauma, kegirangan, cinta, haru, kekhawatiran, doa dan sebagainya. Ketika saklar dalam gen ini dinyalakan atau dalam mode “on”, akan muncul kemampuan-kemampuan tersembunyi di dalamnya dan bisa dikatakan kemampuan gen yang tak terhingga.
Ilustrasinya sering kita dapatkan dalam kehidupan sehari-hari, di mana ada seorang anak difabel (cacat) yang memiliki kemampuan luar biasa yang tak bisa disangka. Seperti halnya Abdul Khalim, pemuda berusia 19 tahun asal Rembang, Jawa Tengah yang memiliki cacat ditangannya, kini menjadi kepala teknisi di Pusat Pendidikan Komputer Perusahaan Informasi Teknologi (IT) Bandung, Jawa Barat. Ada juga bocah bernama Jiang Tianjin yang meski memiliki kekurangan pada tubuhnya (tidak punya tangan), tapi ia telah berhasil menyelesaikan ujiannya dengan hasil yang baik di sebuah sekolah dasar di Shehong, Sichuan, Tiongkok. Yang lebih mencengangkan lagi adalah Nick Vujicic yang berasal dari Australia, seorang motivator yang mengidap tetra-amelia syndrome sejak lahir. Tetra-amelia syndrome adalah gangguan langka yang ditandai dengan tidak adanya keempat anggota badan. Meski begitu ia melakukan banyak hal yang biasa dilakukan oleh orang-orang normal, ia sekolah, berenang, belanja ke mal, bahkan juga menulis buku berjudul Life Without Limits. Dan masih banyak lagi contoh lainnya, yang menunjukkan bangkitnya gen atau hidupnya gen dalam hidup mereka.
Murakami menambahkan, diantara cara untuk membangkitkan gen ini adalah dengan cara hidup demi sebuah “misi”, bukan untuk menggapai “visi”. Visi dalam Bahasa Inggris disebut vision, dalam kamus Merriam-Webster online diartikan dengan “something seen in a dream, trance, or ecstasy (especially:  a supernatural appearance that conveys a revelation), a thought, concept, or object formed by the imagination”. Yang dimaksud dengan “visi” adalah sesuatu yang ditulis sendiri, karenanya kekuatan untuk menggapai itu pula harus dihimpun sendiri. Visi diartikan sebagai target-target pribadi, cita-cita atau apa yang seharusnya digapai. Sedangkan misi (dalam Bahasa Inggris disebut mission) dalam kamus Merriam-Webster online diartikan sebagai “a body of persons sent to perform a service or carry on an activity” atau sekelompok orang yang ditugaskan untuk melakukan suatu pengabdian, atau melaksanakan suatu kegiatan. Singkat kata menurut Murakami, misi berarti suatu tugas yang datang dari atas (Tuhan), sehingga kekuatan untuk melakukannya juga datang dari atas (Tuhan).
Inti cara membangkitkan gen adalah dengan mengubah cara hidup dari “mencari-mencari dan berharap” menjadi “menerima dan merelakan” kemudian muncul kesyukuran akan kehidupan, sehingga memunculkan pikiran-pikiran yang positif yang penuh optimisme dari sebelumnya berupa pikirian-pikiran negatif yang gelap dan penuh pesimisme. Dalam al-Quran surat Ali Imran ayat 135 dikatakan:       
   وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun (beristighfar) terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” Ayat di atas diperkuat dengan hadits nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad yang berbunyi:
مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا ، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا ، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa tekun beristighfar, nescaya Allah mengadakan baginya jalan keluar dari tiap-tiap kesempitan dan kelapangan dari tiap-tiap kesedihan serta diberi rezeki dari arah yang tidak di sangka-sangka.”
           
Dalam psikologi, para ahli ilmu jiwa menyimpulkan bahwa tindakan mengakui kesalahan ini bisa dikatakan termasuk dari penerimaan diri (self acceptance), sehingga dapat menjernihkan jiwa dan menyembuhkan penyakit. Kedokteran modern menamakan ini dengan istilah psychoanalysis therapy, yaitu sebuah terapi dengan cara memunculkan pengakuan-pengakuan diri seorang pasien tentang masalah-masalah yang dialaminya dihadapan seorang dokter maupun psikiater.
            Secara ringkas dari apa yang sudah dipaparkan di atas, adalah dalam memandang kehidupan ini, hendaknya tidak terlalu berlebihan mengacu pada visi, pendek kata terlalu mengacu pada das sollen atau harapan serta cita-cita yang diinginkan, kemudian melupakan misi atau disebut das sein atau fakta yang sebenarnya terjadi. Ketika terjadi ketidaksesuaian antara das sein (realita) dan das sollen (harapan), maka hendaknya mengambil keputusan untuk menerima das sein tersebut dengan penuh keoptimisan, menjalankan misi kehidupan yang telah ditugaskan dan memasrahkan semuanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Tidak terpengaruh oleh faktor eksternal (lingkungan) dan faktor internal (diri) yang membawa ke arah negatif, seperti situasi panas, alkohol, rokok, trauma, syok, kesedihan dan sebagainya. Agar saklar yang terdapat dalam gen bisa bangkit dan bangun, harus dinyalakan dengan berpikir positif terhadap semua das sein atau realita yang ada. Sehingga kemudian muncul das sollen dari kinerja gen yang telah termutasikan menjadi baru untuk bisa mengatasi problema yang ada. Singkat kata, penerimaan terhadap das sein dan perubahan yang terjadi pada das sollen dengan pandangan hidup yang lebih positif akan membuat saklar gen bermutasi kearah yang lebih positif pula, sehingga potensi-potensi kemampuan yang terkandung di dalamnya akan muncul lebih besar dari sebelumnya. Pada akhirnya, akan bermutasi menjadi manusia paripurna atau dalam konsep Islam disebut insan kamil (manusia yang sempurna).

 Wallahu a’lamu bishowab.

*) Penulis: Ust Hanif Fathoni (Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas)