Perspektif Sains: Bukti Keberadaan Tuhan dalam Keterbatasan Alam Semesta


www.smatrensains.sch.id-Penggagas Trensains, Ust. Agus Purwanto, Dsc kembali sambangi santrinya (Trensains Tebuireng) pada sabtu 16 maret 2019 seusai membicarakan masa depan Trensains dengan pengasuh tebuireng KH. Sholahuddin Wahid. Kedatangannya kali ini tidak sekadar menyambangi tetapi juga ngaji sains bersama para santri. Beliau memaparkan tentang keterbatasan alam semesta dari segi ruang dan waktu sebagai jawaban pertanyaan sabtu 9/3 lalu yang dirangkum dalam kuliah umum bertajuk “rahasia malam”,
“tidak lengkap rasanya bila saya sudah di jombang tanpa harus mengunjungi kalian. Sudah saya siapkan materi sebagai jawaban pertanyaan seorang santri sabtu lalu terkait pandangan ibn sina yang berdasar sifat Allah SWT, mukhalafatu lilhawadits maka Allah SWT bersifat qadim menurut perspektif sains. Dengan tema Rahasia Malam, materi yang kurang pas disampaikan disiang hari sebenarnya, berhubung saya datangnya di siang hari dan tidak bersabar menunggu petang datang untuk mengungkap rahasia malam yang banyak sekali bersama kalian.”

Lebih lanjut beliau memaparkan, merujuk QS As-Saffat ayat 37, ‘dan di waktu malam, apakah kamu tidak memikirkan?’. Muncullah pertanyaan “mengapa ada malam?” Lazimnya orang akan menjawab “karena ada siang”. Jikalau dibalik “mengapa ada siang?”, jawaban pastinya “Karena ada malam”. Secara umum fenomena tersebut terjadi karena pengaruh rotasi bumi pada porosnya sehingga permukaaan bumi yang menghadap matahari mengalami siang. Namun, terdapat kondisi khusus langit malam tetap gelap meskipun langit terkena pancaran sinar matahari dan ruang angkasa selalu gelap dikarenakan temperatur rata-rata ruang angkasa ialah 3°K atau setara dengan -270°C.

Menurutnya, apabila pengamat mengamati ruang angkasa dengan bantuan teropong, terlihat titik kecil yaitu bintang yang merupakan sumber panas dan memancarkan cahaya. Intensitas cahaya (daya yang dipancarkan) bintang terbatas karena terpaut jarak yang jauh, sehingga hal tersebut hanya dapat menerangi daerah tertentu dan tampak sebagai titik putih kecil dari bumi. Ini berarti ruang angkasa tersebut dingin dan gelap.

Disisi yang lain, apabila alam tak terbatas bumi mendapat intensitas cahaya yang tak terbatas dengan jumlah bintang yang tak terhingga sehingga bumia akan mengalami kondisi siang terus menerus (QS Al-Qashas 28:72). Fenomena malam-siang menunjukkan keterbatas alam dari segi ruang (bervolume tertentu) dan waktu (berawal-berakhir). Alam semesta senantiasa berubah dan bahkan pernah lahir (berawal) sehingga pasti juga akan berakhir. Hal ini, membuktikan bahwa alam semesta benar-benar diciptakan oleh Allah SWT dan tidak terbentuk secara sendirinya sebagaimana anggapan kaum atheis.

Kuliah umum kali ini memunculkan berbagai pertanyaan dari kalangan para santri. salah satunya terkait teka-teki alam semesta,
“yang diciptakan pertama kali oleh Allah SWT adalah Nur Muhammad, dari Nur Muhammad tersebut, lalu diciptakan segala sesuatu. berarti alam semesta diciptakan dari cahaya?” tanya salah seorang santri.

Pertanyaan tersebut dijawab sang penggagas yang akrab disapa Gus Pur, “Terserah apabila Big Crunch (Big Bang) dimaknai sebagai cahaya karena pemaknaan tersebut bergantung pada perspektif tiap individu. Akan tetapi, yang perlu ditekankan ialah tujuan dari trensains, mengilmiahkan tradisi kuno Islam baik yang bersumber dari Alquran maupun Sunnah Nabi Muhammad SAW.”

Pewarta: Nadia Salma & Nila Muhaimatul A.
Editor    : Admin