SMA Trensains Tebuireng mendapat kunjungan studi banding dari MAN Insan Cendekia (MAN IC) Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat


www.smatrensains.sch.id. - SMA Trensains Tebuireng mendapat kunjungan studi banding dari  MAN Insan Cendekia  (MAN IC) Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, berjumlah 90 siswa dan sekitar 10 orang asatidz pada Rabu (13/11/2019). Kunjungan ini bertujuan untuk mengetahui lebih lanjut tentang program sekolah dan manajemen yang ada  di SMA Trensains Tebuireng beserta kurikulum semesta yang menjadi pedoman SMA Trensains Tebuireng.

Berdasarkan penuturan Ustadz Rofiq selaku Kepala Sekolah dalam sambutannya, bahwa  SMA Trensains Tebuireng diharapkan mampu menghasilkan generasi yang dapat mengembangkan sains, terutama natural science secara islami, sehingga generasi yang dihasilkan tetap harus mencintai Al-Qur’an. Konsep pendidikan di SMA Trensains  sendiri yaitu, menghapuskan sekat antara sains dan agama, sehingga sains dapat berkembang dengan Al-Qur’an  sebagai epistemologinya.

“Semua ilmu itu milik Allah.” Tutur Ustadz Tendika. Beliau juga menjelaskan mengenai sains yang hanya dipandang dari satu sisi. Dimana tidak ada sangkutannya antara agama dan sains itu sendiri. Seperti yang telah dicontohkan oleh ustadz Tendika mengenai teori kekekalan massa yang menjelaskan bahwa, “Massa sebelum dan setelah reaksi pasti sama.” Dari sini dapat disimpulkan bahwa massa dianggap kekal, jadi  dianggap tidak adanya penciptaan.

Berdasarkan kacamata islam, teori ini sangat bertentangan dengan ajaran islam. Dimana Allah SWT. tidak memiliki peran dalam hal penciptaan massa tersebut, sedangkan dalam islam bahwa semua makhluk adalah ciptaan Allah SWT termasuk massa itu sendiri. “Dengan demikian hukum kekekalan massa tersebut kita perlu kritisi lebih lanjut” tutur Ustadz Tendika.

Dari penjelasan selayang pandang yang disampaikan ustadz Tendika membuat sejumlah siswa MAN IC Lombok Timur mengajukan beberapa pertanyaan. Seperti pertanyaan yang disampaikan oleh Wahyu, siswa kelas XI MAN IC Lombok Timur. “Bagaimana SMA Trensains Tebuireng menunjukkan pamornya, sehingga dipercaya oleh Universitas Cambridge dan dapat menjalin kerja sama dengan SMA Trensains Tebuireng?  Lalu, bagaimana SMA Trensains Tebuireng menggabungkan 3 kurikulum yang berbeda?”.

“Tebuireng itu modal utama kita, jadi kita memanfaatkan itu, agar Trensains mudah dikenal khalayak umum, termasuk mendapat kepercayaan dari Universitas Cambridge untuk dapat bekerja sama. SMA Trensains Tebuireng memiliki konsultan pendidikan yakni Prof.Dr.Suyono,M.Pd. selaku guru besar FMIPA di UNESA. Beliau menjadi penasihat di bidang kurikulum, sehingga kita dapat menyesuaikan 3 kurikulum yang berbeda tersebut, menjadi kurikulum khas SMA Trensains Tebuireng yang dikenal dengan kurikulum semesta.” Jelas kepala SMA Trensains Tebuireng.

Beliau juga menjelaskan bahwa kurikulum semesta adalah unifikasi dari kurikulum Nasional, kurikulum Internasional, dan kurikulum Kearifan Pesantren Sains.  Jadi dalam pembelajaran terdapat perluasan kompetensi dasar pada sejumlah mata pelajaran yang selalu diinteraksikan dengan ayat-ayat kauniyah yang terdapat dalam Al-qur’an, sedangkan dalam penerapan kurikulum Internasional (Cambridge) kegiatan pembelajaran dilaksanakan pada hari Sabtu.

Selanjutnya jawaban tersebut diperjelas ustad Ghofur “ Trensains sendiri adalah bentuk ijtihad baru. Trensains  bukan pesantren salaf ataupun pesantren modern, tetapi Trensains berada diantara keduanya. Trensains mengusung konsep baru yang disebut Pesantren Sains (Trensains), yang mengambil kekhususan pada pemahaman Al-Quran (ayat kauniyah), sains, dan dialektikanya. Dialektika pada konsep Pesantren Sains bukan sekedar saintifikasi ataupun islamisasi ilmu pengetahuan, tetapi sains pada masa yang akan datang dikembangkan berdasarkan wahyu sebagai  basis ontology, epistemology, dan aksiology yang bertujuan untuk melahirkan generasi yang berkompeten  dibidangnya dan dapat mendorong lahirnya ulama dan ilmuan-ilmuan sains kealaman. Dengan demikian, konsep Pesantren Sains berbeda dengan konsep yang ada pada pesantren salaf maupun modern.” Begitulah ringkasan penjelasan dari pertanyaan tersebut.

Kemudian, kegiatan siswa MAN IC dilanjutkan dengan berkeliling ke asrama. Siswa didampingi oleh Ustadz Umbaran sedangkan siswi didampingi oleh Ustadzah Syabibah, Mahdiah, Hani, dan Hawa. Setelah selesai berkeliling asrama, dilanjutkan dengan agenda tukar cinderamata antara kepala SMA Trensains Tebuireng dengan Kepala MAN IC Lombok Timur. Lalu mereka kembali melajutkan perjalanan ke Malang, pekalongan, dan Yogyakarta.

…………………………………………………
Pewarta   : Ila dan Mahdiah
Publisher : Admin