Meneladani Jejak Teladan Hadhratussyaikh Hasyim Asy'ari




www.smatrensains.sch.id-Ringkasan dari Buku Pedoman Wali Santri (Bimbingan untuk wali santri agar putra-putrinya sukses dalam menuntut ilmu dunia akhirat. 

1. Hendaknya memulai dengan menata niat yang benar.

 Nasehat para leluhur "Yen Siro mondok kudu dibarengi Kanti niat cengkir (kencenge pikir)", kalau kamu menuntut ilmu harus diniati dengan niat yang tulus ikhlas. Menurut Hadratusyeikh Hasyim Asy'ari ketika ada wali santri yang sowan, beliau selalu berpesan kepadanya agar senantiasa memiliki niat menuntut ilmu semata-mata untuk mendapatkan Ridha Allah SWT, menjernihkan hati hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bukan untuk meraih kepentingan duniawi (pangkat, harta dsb) semata. 

2. Hendaknya selalu menyadari bahwa orang tua dan guru adalah figur tauladan bagi anak-anak.

Bila orang tua selalu rindu atau kangen kepada anaknya di pondok, maka anaknya yang di pondok juga tidak akan tenang karena teringat pula dengan orang tuanya dirumah (istilah biasanya "nyetrum"). 

Seringkali fakta membuktikan bahwa ketika ada santri yang bermasalah di pondok, ternyata banyak terpengaruhi oleh faktor orang tua yang juga bermasalah. 

3. Bersikap "pasrah" dan berbaik sangka (huanudzon) terhadap sistem pendidikan pesantren.

Ketika Hadratusyeikh Hasyim Asy'ari dahulu nyantri kepada Syaikhona Kholil di Bangkalan Madura, beliau seringkali disuruh melakukan berbagai tugas Khidmah pengabdian (menggembala, membersihkan kandang, roan dsb) namun beliau tidak pernah NGERSULO (mengeluh). Hal ini dilakukan sebagai wujud ta'dzim serta khidmat beliau kepada guru, dengan maksud untuk mendapat keridhoan dan doa dari sang Guru. Karena bagaimanapun juga, menuntut ilmu dalam pendidikan pesantren akan menjadi semakin berkah dari buah keikhlasan dan doa para guru dan orang tua. Keberhasilan menutut ilmu di pesantren tidak hanya bisa diukur dengan nilai prestasi raport maupun ijazah semata, namun diukur bagaimana seorang santri mampu mengamalkan ilmunya bagi dirinya dan orang lain. 

Masalah kurangnya fasilitas atau apapun bentuk hal yg kurang di pesantren hendaknya diterima sebagai wujud kepasrahan mutlak agar hati terlatih untuk bisa ikhlas dan jernih dalam mengabdikan diri kepada Allah. 

4. Membekali anak dengan Rizki yg halalan thoyyiban (halal dan baik)

Hadratusyeikh Hasyim Asy'ari seringkali berpesan agar semua santri bersikap wara' (menjauhi perkara syubhat) dan berhati-hati dalam mencari bekal yang digunakan untuk biaya menuntut ilmu selama di pesantren. Seseorang yang ingin memiliki kejernihan hati harus memperhatikan makanannya. Makanan yang haram akan membentuk jiwa yang kasar dan tidak religius. Ibarat setitik tinta hitam yang jatuh diatas kertas putih. Sedikit demi sedikit, Semakin lama akan semakin membuat hitam semuanya. 

5. Agar berkah hendaknya senantiasa menjaga tawadhu (kerendahan hati) serta mencari Ridha dari Guru.

Suatu hari, Kyai Hasyim melihat Syaikhona Kholil sedih karena cincin istri beliau terjatuh ke lubang WC. Melihat hal tersebut, Kiai Hasyim segera meminta izin untuk membantu mencarikan cincin yang jatuh tersebut. Setelah dikuras semua, dan badan Kiai Hasyim penuh dengan kotoran, akhirnya cincin tersebut berhasil ditemukan. 

Betapa riang sang Guru melihatnya berhasil menemukan cincin itu, sampai berucap doa "Aku ridho padamu wahai Hasyim, aku doakan dengan pengabdianmu dan ketulusanmu, derajatmu ditinggikan serta engkau menjadi orang besar, tokoh panutan, dan semua orang cinta padamu". 

6. Jangan meninggalkan riyadhoh "tirakat" demi kesuksesan anak.

Hadratusyeikh Hasyim Asy'ari ketika belajar di Makkah, beliau sering melakukan riyadhoh di gua Hiro untuk menghafalkan hadits serta beliau sering melakukan Puasa sunnah. Bahkan ketika istri beliau mengandung KH Abdul Wahid Hasyim, beliau selalu riyadhoh memohon doa kepada Allah agar anak beliau dijadikan anak yang sholih. 

Tidak dapat dipungkiri bahwa sangat banyak orang-orang sukses di dunia ini lantaran keberkahan doa yang dilakukan guru dan kedua orang tuanya. Ketika orang tua dan guru senantiasa melakukan riyadhoh dan mendoakan anaknya dan anak juga senantiasa berbakti dan mohon ridho kepada orang tua dan gurunya, sehingga terciptalah ikatan emosional dan spiritual antara semuanya. Dan terbentuklah SISTEM PENDIDIKAN ANAK LAHIR BATIN. 


Diedit oleh, Ust Hanif Fathoni, S.Pd.I (Wakil Kepala Sekolah Bidang Humasy)

Semoga bermanfaat, aamiin.