Resume Pengajian Kitab Adabul Alim Wa Al Muta'allim Dalam Rangka Peringatan Hari Santri Nasional

 

Resume Pengajian Kitab Adabul Alim Wa Al Muta'allim Tanggal 22 Oktober 2020
Oleh: 1) KH. Abdul Hakim Mahfudz, 2) Dr. KH. Mustain Syafi'i, M.Ag



1. Dalam pembacaan kita ini, maka yang kita perlu ketahui adalah semua ini adalah dari Allah SWT, maka salah satu sifat Allah, Maha Pemberi Ilmulah yang akan menjelaskan tentang hal ini. Maka seorang santri harus mendownload ini semua dari Sang Pemberi Ilmu.

2. Kitab Adabul Alim Wa Al Muta'allim adalah karya yg bisa di buktikan secara outentik bahwa ini adalah karangan Hadrotus Syaikh, dan bukan plagiasi.

3. Irsadus Syari adalah kumpulan kitab-kitab Hadrotus Syaikh, bukan karangan Hadrotus Syaikh, sehingga para akademisi yang meneliti tentang kitabnya Hadrotus Syaikh, tidak di perkenankan menggunakan rujukan Irsadus Syarii. Yang boleh adalah kitab yang ada didalam kumpulan Irsadus Syari.

4. Dalam kitab ini, yang dibahas dahulu adalah tentang etika/adab guru terlebih dahulu. Karena gurulah yang menjadi cerminan untuk mendidik para murid-muridnya.

5. Etika yang didahulukan, barulah ilmu.

6. Orang terdahulu itu, klo mencari adab/etika itu menghabiskan beberapa tahun dulu, sebelum menimba ilmu. Dalam kitab Adabul Alim wa al Muta'allim disebut assiniina tsumma assiniina. Di kitab lain (Kitabnya Ibnu al Jama'ah) di jelaskan : bukan Assiniina, tetapi Assanataini tsumma Siniina : orang belajar adab itu minimal 2 tahun, kalau kurang di tambah lagi bertahun-tahun. Gus Ishom mengutip redaksi lain, assanataini tsumma tsanatain, belajar adab itu 2 tahun minimal kalau kurang nambah lagi 2 tahun.

7. Dikalangan keilmuan di negeri ini sejarah-sejarah tentang islam (tentang Rasulullah) masih sangat lemah.

8. Sebelum mengunduh/mengambil/menimba ilmu dari Fuqoha, disuruh kenal berteman dulu, dan dekat dahulu. 

9. Ilmu itu ibarat garam, dan akhlak itu adalah tepung. Maka harus imbang diantara keduanya.

10. Lebih baik adalah orang itu memilih mempunyai adab dibandingkan dengan mempunyai ilmu yang banyak.

11. Bahwa seorang figur (guru/kyai) tidak diperkenankan mendatangi tempat-tempat buruk. Maksudnya adalah Hobinya di tempat itu. Hal ini akan menimbulkan su'odhon orang akan jauh lebih kuat, dari pada khusnudhonya. Kecuali apabila dia sedang bertugas dan ada amanah yg harus ia kesitu, itu soal lain. Dalam kitab ini adalah yg dihindari adalah merusak muru'ah seorang guru/kyai tersebut. Kecuali guru/kyai tersebut bisa menetrasilir image buruk itu dalam lingkunganya.

12. Belajar itu adalah ibadah yang terbaik. 

13. Pada saat situs Tuhan itu sangat jarang di download oleh manusia, seperti zaman ptera milenial seperti saat ini, maka kitab ini adalah menjadi sarana untuk mengingatkan hal itu, untuk kembali pada Tuhan.

14. Adab itu kepada Allah SWT. Kita menjaga semuanya karena Allah.

15. Kita menghormati guru, harus. Apabila ada pandangan yang lain/berbeda dengan guru kita, tidak jadi masalah, namun soal adab, kembalilah pada Adab kita kepada Allah. Pantaskah kita seorang murid mendebat pada guru kita, maka kembalilah pada Adab kita pada Allah SWT. 

16. Pengukuran adab bukan diukur dari sesama atau guru kita, namun pertanggung jawaban adab adalah pertanggung jawaban kita pada Allah SWT. Yang bisa mengukur adab ini semua adalah keilmuan yang dimiliki oleh kita sendiri. 

17. Carilah ilmu sebanyak-banyaknya sehingga kita mampu mengukur adab kita, apakah sudah bisa dan sesuai adab kita dipertanggung jawabkan di mata Allah SWT. Karena semua kembali pada Allah SWT.

(Amin Zein)