Makna Dibalik Pengukuhan Guru Besar Sang penggagas Trensains


smatrensains.sch.id-Penggagas SMA Trensains Tebuireng, Prof. Agus Purwanto, D.sc , telah di kukuhkan sebagai guru besar pada 25 November 2020. Sebelumnya beliau adalah aktivis dakwah sekaligus dosen Instituk Teknologi Sepuluh Nopember yang telah menyelesaikan studi doktornya di Universitas Hiroshima Jepang.

Gus Pur, begitu sapaan akrabnya telah membawa pengaruh besar terhadap penyelenggaraan pendidikan di SMA Trensains Tebuireng. Pasalnya para santri selalu diajak bernalar secara ilmiah, kritis, dan filosofis dengan harapan lahirnya generasi yang luar biasa umat umat Islam. Dengan keteladanan yang selalu beliau contohkan, tak jarang warga Trensains menyebutnya sebagai Kyai Sains.

“Beliau adalah pribadi yang berkomitmen tinggi, disiplin ,ikhlas ,dan pantang menyerah. Beliau ibarat memungut debu untuk menghasilkan gunung, sehingga apa yang diusahakannya sedikit demi sedikit dapat terlaksana, terutama dalam usahanya merintis dan membangun SMA Trensains Sragen. Hal ini mengajarkan kepada kita, bahwa banyak sifat-sifat yang layak kita teladani” tutur Ustadz Abdul Ghofur, Waka sarana prasarana dan guru kimia SMA Trensains Tebuireng.

“Dengan diterbitkannya buku Ayat Ayat Semesta dan didirikan SMA Trensains merupakan hal yang sangat mendasar dalam membangun kesadaran umat akan pentingnya ayat ayat kauniyah dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kini seakan terlupakan. Disisi yang lain, capaian Guru Besar yang telah diperoleh sang pengagas Trensains tentunya menjadi kebanggaan dan inspirasi tersendiri bagi seluruh santri Trensains untuk selalu berkerja keras dalam mewujudkan segala impian, sementara itu bagunan keteladanan yang beliau contohkan tentunya dapat memicu semangat bagi para santri, sehingga mereka menjadi umat islam yang akan kembali unggul dalam capaian ilmu pengetahuan dan teknologi. Itulah makna dibalik pengukuhan guru besar sang pengagas Trensains.” lanjut tutur Ustadz Ghofur.

…………………………

Tim Go-Pro 2020

KYAI SAINS, KINI DIKUKUHKAN SEBAGAI GURU BESAR BIDANG FISIKA TEORI PERTAMA ITS

 


smatrensains.sch.id-Penggagas Pesantren Sains (Trensains) kini menyandang gelar Guru Besar setelah dikukuhkan dalam sidang terbuka pada tanggal 25 November 2020, sebelumnya selama 12 tahun beliau berkeliling kota untuk mengenalkan karya besarnya yang diuraikan dalam buku  Ayat-Ayat Semesta (AAS) dan Nalar Ayat-Ayat Semesta (NAAS) sebagai prototype baru dalam dunia pendidikan, serta  gagasan baru dalam dunia kepesantrenan yang kemudian dikenal sebagai konsep Pesantren Sains. Gagasan ini kemudian diamini oleh KH. Salahuddin Wahid dengan mendirikan SMA Trensains Tebuireng.

Pengukuhan Prof. Agus Purwanto bersama dengan 7 kawan sejawatnya di ITS, prosesi ini dihadiri oleh Rektor, Ketua dan Sekretaris Dewan Professor serta para Professor yang dikukuhkan dipandu oleh duta tama, Prof. Agus Zainal Arifin, S.Kom, M.Kom. Pada kesempatan ini, orasi ilmiah yang disampaikan berjudul “Teori Kuantum: Dari Al-Ghozali Hingga Einstein, Dari Kehendak Bebas Tuhan Hingga Teleportasi Multi-Qubit” yang diawali dengan penjelasan mengenai fisika teori,

“Fisika teori jika diibaratkan kota bisa dibagi menjai beberapa sekat yaitu bidang material, nuklir, dan partikel yang memiliki 2 pendekatan, secara eksperimen dan teori. Fisika secara umum terdiri dari fisika klasik yang mana diungkapkan oleh Galileo-Newton hingga akhir abad 19 yaitu Mekanika-Newtonia, Maxwellian yang bersifat deterministik. Selanjutnya, fisika modern dimulai abad 20 membahas kuantum dan relativitas yang bersifat probabilistik. Fisika sejatinya identik dengan Natural Philosophy dalam pengembangan sainsnya tidak sekedar berbicara teknis saja” ungkap guru besar pertama dibidang fisika teori.

Sesuai dengan judul orasi ilmiah yang dibuat, beliau menjelaskan terkait teleportasi kuantum dalam islam yaitu pemindahan istana Ratu Bilqis di hadapan Nabi Sulaiman AS. Dalam kitab “Tahafutul  Falasifah” karya Abu Hamid Al-Ghozali yang artinya,

“bahwa apa yang kita terima sebagai sebab-akibat bukan dari sesuatu yang niscaya pada kami. Ini bukan itu, itu bukan ini. Keberadaan sesuatu tidak meniscayakan keberadaan yang lain. Ketiadaan sesuatu tidak meniscayakan ketidakberadaan yang lain”

Disimpulkan, jika ada sesuatu yang mengalami keruntutan, Tuhan menakdirkan bukan ada didalam dirinya sendiri. Kuantum sendiri adalah sesuatu yang melanggar kausalitas/ kehendak tuhan. Tuhan berkehendak bebas, maka tuhan pensiun setelah menciptakan alam semesta. Oleh sebab itu, pemikiran fisika klasik relevan dengan modern.

Masyarakat di era ini terpaku pada sebuah ungkapan untuk tidak belajar sains “kelak saya mati tidak akan ditanyai Hukum Newton, Boyle,dll”. Maka dibutuhkan pendekatan secara agama dalam mengembangkan Ilmu Pengetahuan Alam yang telah dirangkumnya dalam Buku Ayat-Ayat Semesta dan Nalar Ayat-Ayat Semesta.

Sebagai pesan untuk Institusi yang menaungi Kyai Sains ini, hendaknya ITS melibatkan pesantren dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Sejarah Pesantren di Indonesia dimulai 500 tahun lalu dengan berbasis salaf kemudian bermetamorfosa menjadi pesantren modern, selanjutnya pesantren sains. Pesantren sains adalah pesantren yang mengembangkan dialektika sains dan agama, seperti yang disampaikan ulama sains kealaman, KH. Agus Purwanto

“Sejarah Pesantren di Indonesia dimulai 500 tahun lalu dengan berbasis salaf kemudian adanya kesadaran akan perlawanan kolonial lahirlah pesantren modern yang melahirkan tokoh-tokoh nasional. Untuk gagasan-gagasan diatas tidak hanya wacana dan rasa-rasanya masih ada yang kurang dari santri, maka dibangunlah pesantren bergenre baru, pesantren sains yang ada di Sragen dan Jombang. Selanjutnya, pesantren sains adalah pesantren yang ada dialegtika sains dan agama. Sehingga, tidak aneh bila santri untuk mendapat nobel, santri tidak hanya berbicara halal/haram maupun politik, tapi juga mengemban ilmu pengetahuan. Maka, hendaknya ITS melibatkan pesantren dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.”

…………………………………………………………………………

Reporter: Nadiah Salma

Editor: Abdul Ghofur


Pendaftaran Santri Baru Tahun Pelajaran 2021-2022





APA ITU TRENSAINS?

Trensains (Pesantren Sains) adalah konsep sekolah yang tidak menggabungkan materi pesantren dengan ilmu umum sebagaimana pesantren modern. Trensains mengambil kekhususan pada pemahaman al Qur'an, al Hadist dan Sains Kealaman (natural science) dan interaksinya. Poin terakhir, interaksi antara agama dan sains merupakan materi khas Trensains yang tidak ada pada pesantren modern.

Bagi santri Trensains, kemampuan bahasa arab dan inggris menjadi prasyarat dasar, selain para santri juga dituntut mempunyai kemampuan nalar matematik dan filsafat yang memadai. Proyeksi kedepan bagi para alumni Trensains adalah dipersiapkan agar para santri bisa tembus ke PTN (Perguruan Tinggi Negeri) atau PTA (Perguruan Tinggi Asing) ternama di bidang saintek, engineering, medisinal, dan bidang sains kealaman lainnya agar kedepan dapat mendorong lahirnya ilmuwan sains kealaman, teknolog, dan dokter yang mempunyai basis al Qur’an, dan keimuan yang kokoh serta memiliki kedalaman filosofis serta keluhuran akhlaq. SMA Trensains Tebuireng hanya membuka satu jurusan yaitu IPA (Ilmu Pengetahuan Alam)

Berikut ini adalah informasi lebih lanjut tentang SMA Trensains Tebuireng (Klik disini) atau klik gambar berikut!



BAGAIMANA CARA MENDAFTAR KE SMA TRENSAINS TEBUIRENG?
Untuk mengetahui informasi pendaftaran santri baru SMA Trensains Tebuireng dan beberapa unit pendidikan di lingkungan Pesantren Tebuireng klik tautan berikut (disini), atau klik gambar berikut!




Wawancara Eksklusif: Jalan Hidup Sang Pengagas Trensains Hingga Capaian Guru Besar


www.smatrensains.sch.id- Guru besar merupakan puncak dari tingkatan seorang dosen, Penggagas Pesantren Sains (Trensains) mendapat gelar Guru Besar dalam bidang Fisika Teoritik berdasarkan SK Guru Besar nomor 74921/MPK/KP/2020. Sebelumya Prof. Agus Purwanto, D.Sc. meraih gelar doktor dari Universitas Hirosima jepang pada usia 38 tahun dan berencana menjadi professor 7 tahun kemudian. Namun, karena kesibukan beliau juga sebagai seorang aktivis dakwah sehingga gelar Guru Besar baru bisa direalisasikan pada tahun ini (2020).

Sepulang dari jepang, penggagas Trensains yang akrab disapa Guspur (akronim dari Agus  Purwanto) itu yang merupakan seorang aktivis dakwah dan akademisi telah ditunggu umat dan mengharuskannya banyak keliling kota bahkan negara untuk urusan dakwah. Beliau memutuskan untuk berhenti berdakwah dengan menulis buku yang berisi kajian dalam berdakwah (ceramah) untuk menjawab pertanyaan masyarakat luas. Pada tahun 2008 terbitlah buku Ayat-Ayat Semesta dengan itu berdalih berhenti dakwah, undangan ceramah dan pembicara semakin berdatangan, seperti yang diungkapkannya

“Niat awal saya menulis buku untuk berhenti berdakwah karena saat ceramah pertanyaanya serupa, saya berpikir dengan menulis buku  jadi orang bisa tau dari baca buku saja sekaligus menjawab pertanyaan. Alih-alih berhenti berdakwah, malah undangan ceramah, bedah buku, pemateri semakin berdatangan”

Pada tahun 2008-2012 pengajuan guru besar terhalang syarat-syarat administrasi. Ditahun 2013 beliau disibukkan dengan realisasi Trensains di Sragen dan Tebuireng, sehingga memutuskan untuk meninggalkan administrasi guru besar. Saat Trensains telah meluluskan santri (2017) dan didukung para asatidz sudah berpengalaman dalam mengurus Trensains, Sang Penggagas Trensains itu meminta izin untuk mengurus administrasi Guru Besar (2018).

Pengajuan guru besar membuahkan hasil pada tahun ini, perjalanan beliau dimulai pada bulan Agustus 2018 dengan mengajukan di tingkat universitas (ITS), setahun kemudian masuk pengajuannya. Tanggal 27 Maret 2020 dipersilahkan senat guru besar ITS untuk menyampaikan visi mis terkait guru besar. Pada 29 September 2020 SK Guru besar tersebut turun. Kesan yang beliau rasakan saat itu,

“Perasaan lega, satu urusan terselesaikan”

Menjadi Guru besar, puncak dari tingkatan seorang dosen bukanlah hal yang mudah karena harus melewati tingkatan sebelumnya (Asisten Ahli, Lektor, Lektor kepala) selain itu syarat administrasinya harus terpenuhi. Syarat administrasi menjadi Guru besar adalah jumlah angka kredit kumulatif paling rendah dosen berpendidikan doktor atau yang sederajat sebesar 850 yang terdiri dari 2 unsur kum  yaitu, unsur utama ada Pendidikan, Pelaksanaan Pendidikan, pepenelitian, pengabdian masyarakat, pengembangan diri dan unsur penunjang, serta publikasi internasional terakreditasi dengan nama pertama.

Menurut penggagas Trensains yang akrab disapa Gus Pur “syarat publikasi internasional terakreditrasi dengan nama pertama, biasanya yang menjadi kesulitan utama seorang dosen saat mengajukan Guru Besar”

Untuk setiap naik jenjang tingkatan jabatan, salah satu syaratnya menyertakan artikel. Artikel yang membawa Gus Pur menjadi Guru Besar adalah beliau menulis artikel tentang jenis-jenis entangled state, dengan entanglement terbitan suatu keadaan stage membuat kriteria dan klasifikasi menghitung jumlah multipartistage sebagai dasar untuk mengkaji teleportasi kuantum.

“Menjadi seorang Guru besar merupakan tannggung jawab dan kewenangan menjadi promotor mahasiswa S3 juga memberi pengaruh ke akreditasi prodi jurusan pada universitas dan produksi penelitian publikasi paten. Untuk Trensains, adanya kepercayaan masyarakat lebih karena penggagasnya kini seorang professor yang membangun kultur ilmiah sejak dini sehingga spirit keilmiahan terbawa ke jenjang selanjutnya dan menghasilkan ilmuawan kealaman” pungkas Prof. Agus Purwanto, D.Sc. saat diwawancarai Tim melalui Video Conferencing Zoom

"Tasawuf  tanpa fikih itu gila, fikih tanpa tasawuh itu dusta. "  Pungkasnya.

.............................................................

Pewarta: Nadiah Salma

Publisher: A. Ghofur


Isyarat Langit Mbah Liem untuk Gus Sholah: ngaji al-Hikam

 


Tahun 1987, Gus Dur bersama Mbah Liem datang ke rumah Gus Sholah. Seperti ditulis sendiri oleh Gus Sholah dalam sebuah buku, kedua tokoh besar ini lama menanti kepulangan Gus Sholah di rumahnya.

Ada apa gerangan sampai Gus Dur dan Mbah Liem rela menunggu berjam-jam? Mbah Liem dipercaya sebagai salah satu wali. Nama lengkap beliau adalah KH Muslim Rifa’i Imampuro pencetus ungkapan NKRI Harga Mati. 

Keduanya ternyata hendak mengabarkan berita penting: Gus Sholah akan menggantikan pamannya KH Yusuf Hasyim (Pak Ud) sebagai pengasuh Ponpes Tebuireng.

Gus Sholah tentu saja kaget mendengar isyarat langit yang disampaikan Mbah Liem. Latarbelakang Gus Sholah adalah arsitek lulusan ITB. Bukan jebolan pesantren seperti Gus Dur.

Tahun 1999, Gus Sholah mengenang kembali peristiwa unik di atas:

“Secara akal sehat saya kurang percaya apa yang dikemukakan oleh Mbah Liem. Dari mana jalannya saya akan menjadi kiai Tebuireng. Kepada Mbah Liem saya menjawab apapaun kalau memang Allah SWT menghendaki, maka apapun bisa terjadi. Saya tidak mengganggap serius perkataan Mbah Liem dan terbukti kini 12 tahun kemudian Pak Ud masih tetap menjadi Kiai Tebuireng.”

Ya, 12 tahun kemudian (1987-1999) isyarat langit itu belum terwujud. Namun siapa sangka pada tahun 2006 Pak Ud sendiri yang kemudian meminta Gus Sholah menggantikannya sebagai pengasuh Ponpes Tebuireng. 

Ternyata dibutuhkan 19 tahun untuk membuktikan kebenaran isyarat langit dari Mbah Liem. Sejak 2006 sampai wafatnya Gus Sholah di awal 2020, beliau menjadi Kiai dan mengasuh ponpes Tebuireng peninggalan kakeknya Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari, persis seperti isyarat langit yang disampaikan Mbah Liem.

Lahumul Fatihah...

Kita mungkin menolak sebuah ketentuanNya karena, seperti kasus Gus Sholah di atas, kita tidak merasa siap dan secara logika tidak masuk akal. Namun jikalau itu sudah menjadi keputusanNya, pada saatnya akan terjadi dengan caraNya dan dalam waktu yang dipilihkanNya. Percayalah!

Syekh Ibn Athaillah mengingatkan kita:

‎لاَ يَــكُنْ تَــأَخُّرُ أَ مَدِ الْعَطَاءِ مَعَ اْلإِلْـحَـاحِ فيِ الدُّعَاءِ مُوْجِـبَاً لِـيَأْسِكَ؛ فَـهُـوَ ضَمِنَ لَـكَ اْلإِجَـابَـةَ فِيمَا يَـخْتَارُهُ لَـكَ لاَ فِيمَا تَـختَارُ لِـنَفْسِكَ؛ وَفيِ الْـوَقْتِ الَّـذِيْ يُرِ يـْدُ لاَ فيِ الْـوَقْتِ الَّذِي تُرِ يدُ

Janganlah karena keterlambatan datangnya pemberian dari-Nya kepadamu, sedangkan engkau telah bersungguh-sungguh dalam berdoa, itu menyebabkan engkau berputus asa. Sebab, Tuhan pasti mengabulkan permintaanmu dengan cara yang Dia pilih, bukan dengan cara yang engkau pilih. Dia akan mengabulkan permintaan itu pada waktu yang Dia kehendaki, bukan menurut waktu yang engkau kehendaki.”

‎لاَ يـُشَـكِّكَــنَّكَ فيِ الْـوَعْدِ عَدَمُ وُقُــوْعِ الْـمَـوْعُـوْدِ ، وَ إِنْ تَـعَـيَّنِ زَمَنُهُ ؛ لِئَـلاَّ يـَكُوْنَ ذَ لِكَ قَدْحًـا فيِ بَـصِيْرَ تِـكَ ، وَ إِخْمَـادً ا لِـنُورِ سَرِ يـْرَ تِـكَ

“Janganlah karena tiadanya pemenuhan atas apa-apa yang dijanjikan, padahal telah jatuh waktunya, membuatmu ragu terhadap janji-Nya; agar yang demikian itu tidak menyebabkan bashirah (pancaran illahiyyah dalam hati)-mu  buram dan cahaya sirr (pancaran rahasia illahiyyah)-mu padam!”

Tabik,


Nadirsyah Hosen

(Pengurus Cabang Istemewa NU Australia-Selandia Baru)


Dari Santri Untuk Negeri

 


Oleh: Muhibatul Mas'ula*)  

*) Santri Kelas XII Sains 3 Pesantren Tebuireng 2/SMA Trensains Tebuireng


Indonesia menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Santri YANG DIKENAL sebagai kaum bersarung adalah salah satu tonggak perjuangan negeri ini. Jika pada zaman dahulu santri ikut serta mengusir penjajah untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Maka santri sekarang harus mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa dengan berbagai upaya terutama dalam bidang pendidikan.

Aset Bangsa

Keberadaan santri sebagai aset bangsa adalah hal yang tidak dapat dipungkiri. Sejarah telah mencatat peran aktif dan kepeloporan santri dalam menghadapi berbagai penjajahan dan penindasan di masa lalu. Semangat yang menggebu dan tekad yang kuat mendorong para santri menjadi penentang dalam penindasan dan kezaliman.

Para santri pada abad milenial tidak lagi berjuang dengan mengangkat senjata. Mereka menjadi pendorong pembangunan Indonesia. Menuntut ilmu dengan tetap berpedoman pada Al-Quran dan Hadist. Maka lahirlah generasi yang cinta pada tanah air dan setia untuk membela negara. Karena itu merupakan bentuk dari sebagian iman.

Tidak hanya sebagi tonggak kemajuan bangsa, tapi santri sebagai generasi muda adalah tonggak perjuangan islam, sebagaimana Rasulullah SAW pun berjuang untuk berdakwah, memerdekakan seluruh umat dari belenggu kesesatan dan kezaliman berada dalam usia yang muda. Para sahabat setia Assabiqun al-Awalun yang senantiasa setia mendampingi perjuangan Rasulullah Saw juga berusia muda, bahkan Ali Bin Abi Thalib pada masa itu masih menginjak usia belasan tahun. begitulah cerminan keberadaan peran santri untuk menjaga Kesatuan negeri ini.

Generasi Penerus Perjuangan Ulama

Permasalahan mengenai kemunduran moral dan menurunnya nilai keagamaan yang sedang marak di masyarakat menjadi salah satu polemik bangsa. Nilai-nilai nasionalisme akan memudar terutama pada generasi muda. disinilah santri turut berperan menjaga kesatuan bangsa. Dengan mengimplementasikan Al-Quran dan Hadist di kehidupan bersama masyarakat.

Berdasarkan kutipan dari laman inilah.com Bapak Joko Widodo mengatakan bahwa harapan pemuda islam adalah pemuda dengan pemikiran-pemikiran milenial, dengan inovasi yang melihat visi ke depan, yang peduli mengenai NKRI, toleransi, dan kebhinekaan negeri. Beliau menyatakan generasi seperti ini merupakan pewaris perjuangan para ulama, penerus dakwah KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan.

Calon Pemimpin Bangsa

Berbagai permasalahan yang sedang dihadapi negri ini, tak terpungkiri dalam bidang politik. kasus korupsi, penyalahgunaan kekuasaan,dan nepotisme semakin merajalela.maka diperlukan pemimpin yang akan menjaga amanah, yaitu pemuda yang cinta pada tanah air, menghormati jasa para pahlawan terdahulu, dan senantiasa mengusahakan yang terbaik bagi bangsanya. Untuk memimpin bangsa diperlukan pemimpin yang memahami agama. karena agama adalah pedoman sempurna untuk berkehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Santri menjadi sosok yang sempurna untuk menjadi pemimpin. Maka santri berpotensi besar menjadi pemimpin bila mana berpegang teguh pada syariat islam. Islam sebagai agama yang Rahmatan lil’alamin. telah mengatur sedemikian rupa mengenai ketatanegaraan dan kepemimpin yang tercermin dari Rasulullah Saw. Santri tidak hanya didukung dalam bidang intelektual tapi juga dalam bidang spiritual, dan mampu memahami permasalahan sosial dan humanis di masyarakat.