PEMBELAJARAN SOCIAL SHORT SEMESTER


Trensains (Pesantren Sains) adalah konsep sekolah yang tidak menggabungkan materi pesantren dengan ilmu umum sebagaimana pesantren modern. Trensains mengambil kekhususan pada pemahaman Al Qur'an, Al Hadist dan Sains kealaman (natural science) dan interaksinya. Poin terakhir, interaksi antara agama dan sains merupakan materi khas Trensains yang tidak ada pada pesantren modern.
Bagi santri Trensains, kemampuan bahasa arab dan inggris menjadi prasyarat dasar, selain para santri juga dituntut mempunyai kemampuan nalar matematik dan filsafat yang memadai. Proyeksi kedepan bagi para alumni Trensains adalah ilmuwan sains kealaman, teknolog, dan dokter yang mempunyai basis Al Qur'an yang kokoh.
Dalam melaksanakan visi dan misinya, SMA Trensains menerapkan konsep adapt-adopt kurikulum yaitu kurikulum 2013, kurikulum cambridge, dan kurikulum kearifan pesantren sains. Selanjutnya kurikulum tersebut disebut kurikulum semesta. Kurikulum semesta menghendaki setiap santri  menempatkan Al Qur’an sebagai kajian utama dalam pengembangan sains. Selain itu, santri terus dipacu  agar memilki ketrampilan berpikir ilmiah yang baik, mereka akan dilatih melalui program-program unggulan (My Qur’an, E-UP, B-UP, A-UP, E-Camp, A-Camp, Fismat Camp, tahjud fisika, observasi AAS dll.) dengan tujuan agar memiliki kompetensi dibidang Al Qur’an, IPA dan bahasa  asing.
Pembelajaran  berbasis pendekatan metakognitif dan saintifik  merupakan  basis pengembangan pembelajaran di SMA Trensains Tebuireng. Pendekatan saintifik merupakan suatu proses pembelajaran yang dirancang  agar santri dengan aktif mampu mengonstruksi konsep, hukum atau prinsip dengan melalui beberapa tahapan dalam mengamati, merumuskan setiap masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang ditemukan. Pengembangan pendekatan saintifik  di SMA Trensains dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada para santri dalam mengenal, memahami berbagai macam materi dengan menggunakan pendekatan ilmiah. Sehingga santri tidak tergantung pada informasi searah yang di sampaikan oleh guru.
Sedangkan strategi metakognitif dalam pembelajaran yang dikembangkan di SMA Trensains  meliputi tiga tahap, yaitu : merancang apa yang hendak dipelajari; memantau perkembangan diri dalam belajar; dan menilai apa yang dipelajari.  Strategi metakognitif  ini digunakan pada semua bidang studi. Hal ini bertujuan  untuk mengarahkan santri agar bisa secara sadar mengontrol proses berpikir dalam pembelajaran. Untuk merancang pembelajaran yang berkaitan dengan kemampuan metakognitif, sekolah  menerapkan strategi ini secara infuse (tambahan) dalam pembelajaran dan bukan merupakan pembelajaran yang terpisah. Disamping itu sekolah juga mengembangkan pembelajaran berbasisis jejaring tema yang sama dalam mengembangkan pembelajaran metakognitif.
Selain hal tersebut diatas, SMA Trensains juga memadang penting untuk memberikan pengetahuan sosial kepada para santri. Hal itu bertujuan agar mereka mampu mengaplikasikan ilmunya, serta sebagai bekal dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Tujuan utama  pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial ialah untuk mengembangkan potensi santri agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi dalam kehidupan, selain kemampuan nalar matematik dan sains yang telah mereka miliki.
Dari uraian diatas, sekolah memandang perlu untuk membekali para santri dengan ilmu geografi, ekonomi, sosiologi, dan kesenian sebagai bekal mereka dalam berinteraksi dengan lingkungan masyarakat. Pembelajaran ilmu sosial tersebut terangkum dalam program “Social Short Semester” dengan rumusan KD essensial yang terangkum dalam silabus pembelajaran ilmu sosial di SMA Trensains.