RESENSI BUKU “ORIGIN”

JUDUL BUKU            : Origin ; diterjemahkan dari Origin

PENULIS                     : Dan Brown

TAHUN TERBIT         : Oktober 2019

PENERBIT                  : Penerbit Bentang

JUMLAH HALAMAN : 512 hlm

PERESENSI                 : Andina Safitri Innayah

           

Buku ini ditulis oleh Dan Brown, penulis novel Best seller “The Da Vinci Code”. Risetnya dalam bidang seni, arsitektur, dan sejarah sangat memukau dalam tiap halamannya. Dalam buku ini, Brown membahas peratnyaan besar, Tuhan, sains, dan juga masa depan dunia. Karya terbarunya ini menuai pujian dari banyak pihak.

Buku ini membahas presentasi mengenai temuan yang dianggap akan mengguncang iman para pendengarnya. Temuan yang di klaim dapat menjawab dua pertanyaan fundamental eksistensi manusia. “Darimana asal kita ?” dan “Kemana kita akan pergi?”. Presentasi ini digelar secara langsung melalui internet dan disiarkan secara langsung ke seluruh dunia.

Presentasi akan disampaikan oleh Edmond Kirsch, seorang miliarder seklaigus ilmuwan bidang komputer, di Museum Gunggenheim, Spanyol. Kirsch yang seorang ateis,membuat temuannya menjadi kontroversial. Ditambah dengan keterlibatan Ambra Vidal, seorang calon ratu Spanyol, sebagai pembawa acara presentasi tersebut. Seorang profesor sekaligus sahabat Kirsch, Robert Langdon, pun turut diundang dan menjadi pengisi materi.

Namun, segalanya berubah menjadi ketidakteraturan. Kirsch terbununh sesaat sebelum dia menyampaikan gagasan terbesarnya diatas podium. Tokoh-tokoh agama terbunuh secara tragis dan kaum fanatika mulai menebar ancaman. Profesor Langdon dituduh terlibat dalam pembunuhan dan menvulik tunangan calon raja Spanyol. Dalam waktu yang sangat terbatas, Langdon harus membuktikan bahwa dia tidak bersalah, sekaligus mengungkapkan apa sebenarnya temuan Kirsch yang membuatnya harus kehilangan nyawa.

Setelah berhasil tertangkap, temuan Kirsch berhasil menyulut kobaran konflik dan berbagai spekulasi tak masuk akal. Gagasannya menuai reaksi dari banyak pihak. Sebagian besar pendukungnya adalah penganut ateisme, agnostik, serta sekulerisme. Dan dipihak lain berdiri tegak para agamawan serta pengikut setianya. Mereka menentang keras terhadap temuan tersebut. Dikarenakan Kirsch meluncurkan kritik keras terhadap keyakinan agama dan membuat prediksi berani, “Abad agama hampir berakhir”.

Buku ini mengajak pembacanya untuk berfikir kritis terhadap pemikiran-pemikiran yang disampaikan didalamnya. Serta berfikir terhadap segala kemungkinan yang ada. Pembaca dituntut untuk bisa menyeimbangkan peran antara sains dan agama juga memperkokoh iman.

Di sisi lain, penulis juga memperkenalkan banyak karya seni dari seniman klasik maupun modern. Melalui tur yang dipandu oleh ‘Winston’, hal ini menjadi sangat menarik karena dia adalah sebuah Artificial Intelegence atau kecerdasan artifisial. Melalui kisah petualangan yang seru dan mendebarkan, penulis juga memberikan wawasan tentang berbagai bangunan historial, musik klasik, serta lukisan terkenal dan cerita dibaliknya.

Penulis juga memberikan peringatan bahwa Artificial Intelegence berkembang dengan amat cepat serta menipu, dan juga bahwa panduan yang ketat perlu diterapkan terhadap kemampuannya untuk berinteraksi dengan dunia manusia. Tantangannya bukan tentang akses cepat terhadap data, melainkan kemampuan untuk memahami hubungan serta keterkaitan dari berbagai gagasan dan data.

Menariknya, gaya Bahasa yang santai di pembahasan yang bisa dianggap berat ini, membuat alur kisah petualangannya menjadi seru. Namun, banyak istilah yang mungkin tidak bisa dipahami oleh sebagian pembaca awam.

Buku ini memberi pelajaran bahwa kita harus teguh pada pendirian yang pantang menyerah dalam mewujudkan mimpi sekalipun dianggap mustahil. Bahwa Tuhan turut andil dalam penciptaan alam semesta dan takdir setiap makhluk hidup.

“Sains yang baik akan meruntuhkan agama kegelapan sehingga agama terang dapat berkembang.”

Demikian penafsiran Dan Brown terhadap kutipan William Blake.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *