Cerpen: Tak Spesial

Kontributor: Haliza Fitriana

Hal besar bukanlah segalanya

Dilihatnya rak sepatu dengan teliti, tapi yang dicari tak juga terlihat. Kemana kiranya sepatunya pergi. Tidak mungkin sepatu jalan sendiri tanpa kaki. Ah iya, baru teringat dirinya bertukar sepatu dengan teman kemarin. Dikenakannya sepatu teman di kedua kaki itu. Kaki yang selalu mengantarkan dirinya kemanapun ingin pergi.

Dilangkahkan kaki keluar bangunan. Melihat ibu kos yang sedang menyapu halaman, sapaan salam keluar dari bibirnya, sebagai bentuk rasa hormat kepada beliau. Ditemani dengan ransel hitam dan sepasang sepatu teman, dirinya berjalan ke kampus. Menyusuri jalan desa yang asri dengan udara segar di pagi hari, sudah cukup membuat dirinya bahagia. Baginya, bahagia tak melulu tentang hal besar, mewah, bahkan luar biasa. Kesederhanaan yang tulus, sudah lebih dari cukup untuk menjadi fondasi kebahagiaan itu sendiri.

Kesederhanaan hal itu kerap kali mengingatkan dirinya akan sesosok makhluk Tuhan. Sosok ini bukanlah orang yang berjasa dalam hidupnya, tapi sosok ini telah membuat dirinya melihat dunia dalam sudut pandang yang berbeda. Hingga tak jarang, banyak orang yang sangsi akan pemikiran pemuda ini.

Mengambil rute yang berbeda dari yang lain untuk berangkat ke kampus, sudah biasa bagi dirinya. banyak kawan heran mengapa dirinya lebih memilih rute yang lebih jauh hanya untuk pergi ke kampus. Dengan melewati jalan tikus, yaitu gang-gang sempit, sampailah dirinya di Pasar Legi. Bukan, pasar ini tidak manis seperti namanya. Pasar Legi merupakan satu di antara pasar yang berdiri di kota ini.

Dihampirinya salah satu pedagang kecil di pasar, pedagang yang menjajakan makanan tradisional yang lezat ini, Kelanting namanya. Pedagang itu sedang melayani salah seorang pembeli dan tak sadar kalau dirinya sudah sampai di depan lapak.

" Mbok, tumbas klantink 10.000 mawon. "

" Nggeh mas." ujar si Mbok.

Pandangannya tak lepas sedetikpun dari pedagang Kelanting. Diperhatikannya setiap gerak-gerik si Mbok. Dari mengelap daun pisang yang dijadikan sebagai wadah, hingga ritualnya. Bukan ritual, kebiasaan lebih tepatnya. Kebiasaan yang tak lazim bagi kebanyakan pedagang lain. Si Mbok selalu meneteskan gula merah cair ke atas tanah atau jalan. Sekiranya setetes atau dua tetes setiap ada 1 orang pembeli yang membeli dagangannya.

Banyak desas-desus yang beredar mengenai kebiasaan Si Mbok. Entahlah yang baik maupun yang buruk.

" Saya melakukan ini semata-mata hanya ingin berbagi kepada sesama makhluk ciptaan Gusti Allah. Saya sering melakukannya berulang kali, tapi saya tidak pernah merasa rugi atau terbebani sedikitpun. Meskipun hanya dengan setetes gula merah cair, banyak semut yang bisa merasakan manfaatnya. Toh apa yang saya berikan kepada semut, tidak pernah sebanding dengan nikmat yang Allah berikan kepada saya setiap detiknya." Begitulah kiranya ucapan yang selalu dilontarkan si Mbok tiap kali ada yang bertanya alasan di balik kebiasaan beliau.

Bagi Si Mbok tak perlu hal besar untuk diberikan kepada sesama dengan tujuan ingin dipuji. Hanya dengan hal kecil dan sederhana untuk diberikan kepada semut misalnya, Si Mbok sudah sangat bersyukur karena bisa menyisihkan sedikit rezekinya untuk dibagikan kepada sesama. Pada dasarnya. sedekah tak pernah dilihat dari apa yang kita berikan. Sejatinya, hakikat sedekah terletak pada niat yang tulus.

"Berbagilah dengan apa yang kamu miliki"

"Berbuat baik, apapun keadannya

Dari Abu Dzar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun juga walau engkau bertemu saudaramu dengan wajah berseri” (HR. Muslim no. 2626).

Leave a Reply

Your email address will not be published.