Cerpen: Bukan Sebuah Dendam

Kontributor : Khatrin Nada Arika

Tak ada perilaku yang lebih menyakitkan dibanding dengan sebuah kata yang menusuk sukma hingga mampu membuat binasa. Ya, sesuai dengan pepatah "Mulutmu Harimaumu," begitulah kerja dari ucapan tanpa pemikiran.

-oOo-

Sebuah sepeda jengki khas zaman kolonialisme telah berdiri dengan gagahnya menunggu sang pengemudi yang sedang memakai kaus kaki. Walaupun sepeda jengki itu sudah berumur sangat tua, nyatanya Raiya sangat menyukainya. Raiya, gadis sekolah menengah pertama yang menyukai sejarah. Bukan karena Raiya senang mengungkit masa lalu, tapi karena ia sangat menyukai bagaimana hidup kuno seperti di masa lalu, tanpa teknologi yang semakin memperbudak umat manusia jika tak pandai memanfaatkannya.

"Bude, Aya, berangkat. Assalamu'alaikum." Teriaknya dari ambang pintu rumah tanpa cat itu, setelah sebelumnya ia mencium tangan Sang bude yang sedang memasak di kompor tanah liat.

"Iya, Kak. Wa'alaikumussalam." Jawab Sang Bude pada keponakanannya yang tidak pernah lupa mencium punggung tangannya, Bude, saat berangkat ke sekolah. Karena apa? Karena itu adalah salah satu kunci agar Raiya mudah menerima ilmu dengan baik saat di sekolah nanti.

Kayuhan pedal terus membuat sepeda kuno itu bergerak mendekati gudang ilmu. Sebuah tempat yang setiap pagi akan selalu dikunjungi sang pengemudi sepeda jengki. Tempat yang selalu menyenangkan bagi Raiya. Walaupun di dalam sana banyak perilaku yang tidak sesuai dengan kepribadiannya. Tak masalah, katanya.

"Pagi, Pak." Tak lupa Raiya selalu menyapa Pak satpam yang bertugas membantu siswa menyebrang jalan setiap pagi dan siangnya.

Bisa saja, kan, sebuah sapaan menjadi suplemen dihari ini, kata Raiya.

Bel jam pertama berbunyi setelah Raiya menurunkan standar sepeda kunonya. Hari ini, Raiya beruntung. Karena tidak jadi mencetak rekor terlambat masuk sekolah untuk yang kali pertamanya.

"Bahasa Indonesia," ucap Opan, ketua kelas, saat membaca lembar jadwal pelajaran di samping lemari kayu milik kelas, "Bu Devi ada, nggak?" Lanjutnya.

"Kayaknya ada, tadi aku liat motor beliau ada di parkiran samping." Jawab Raiya, salah satu penghuni kelas.

"Ya, udah, PJ bahasa, Slamet, jemput Bu Devi, ya!" Perintah Opan pada Slamet yang sedang duduk di bangku pojok belakang. Slamet dengan sigap langsung pergi meninggalkan ruang kelas 11 IPS 2 menuju ke ruang guru. Dengan percaya dirinya ia langsung mengucap permisi dan salam tanpa mengetuk pintu ruang guru terlebih dahulu. Padahal jelas-jelas tertulis, dan tercetak tebal,

'Ketuk, permisi, salam, utarakan.'

Tapi sayang, sepertinya Slamet tidak membudayakan literasi, atau mungkin karena saking bersemangatnya pagi ini, sampai lupa kebiasaan bertamu di ruang guru.

"Slamet, ya," tebak salah seorang guru, "bisa baca, Nduk? Ketuk dulu, ya." Tegur guru tersebut pada Slamet yang kini wajahnya terlihat kebingungan. Ya, Slamet tidak menyadari kesalahan apa yang ia perbuat saat ini, hingga ditegur oleh guru yang paling di takuti.

"Oh, nggeh, Pak," ucap Slamet saat tahu apa kesalahannya barusan, dan akhirnya ia meminta maaf. "Maaf, Pak. Saya mencari Bu Devi." Tutur Slamet memberitahu keperluannya datang ke ruang guru.

"Oh, ada. Bu Dep, dicari Slamet." Seru salah satu guru.

"Oh, iya, sebentar, Met. Terima kasih, ya, sudah mengingatkan. Saya ada tugas untuk kalian.  Tugasnya, tuliskan impian kalian kedepannya, dan bagaimana cara menggapainya. Di lembaran, ya. Nanti saya akan ke kelas."

"Oh, nggeh, Bu. Akan saya sampaikan keteman-teman. Terima kasih, Bu. Assalamu'alaikum."

Slamet pun kembali ke kelas dengan berlari, melewati beberapa kelas yang mayoritas telah dimasuki oleh guru mata pelajaran mereka masing-masing.

"Piw, piw. Ada tugas gaes, suruh nulis impian dan cara kalian menggapainya di selembar kertas. Nanti Bu Devi bakalan masuk."

"Met, lembaran hvs boleh, nggak?" Tanya Raiya yang duduk di bangku belakang.

"Buku tulis aja, deh, Ya'. Cari aman." Jawab Slamet.

Dengan penuh semangat, Raiya menuliskan impian besar dalam hidupnya di selembar kertas bergaris. Entah mengapa, ia selalu senang jika bisa berbagi impian pada siapa saja, apalagi itu guru favoritnya, Bu Devi. Guru bahasa Indonesia yang mengajarkan Raiya tentang sastra.

"Yha.. Sok sok-an mau jadi relawan pengajar di pedalaman, emang bisa?" Celoteh Opan, Sang Ketua Kelas, saat mengintip tulisan Raiya, siswi pendiam dengan berjuta impian dikepalanya.

"Emang kenapa?" Tanya Raiya santai, tidak membalas rendahan dari Opan. Bukannya Raiya mengalah, hanya saja ia tidak ingin mencari masalah. Karena ia bukanlah tipe orang yang suka dengan keributan yang merajalela.

"Sok banget mau jadi pahlawan." Celetuk Opan lagi saat ia telah kembali ke bangkunya. Namun, Raiya selalu menjawab segala cercaan dari orang lain dengan santainya.

"Inget ini, Opan. Tunggu kabar saya tentang apa yang kamu rendahkan pada saya saat ini."

Mendengarnya, Opan terdiam. Ada sebuah cercaan yang sebenarnya ingin ia lontarkan, namun terhalang oleh perkataan Raiya yang terlontar dengan penuh keyakinan.

-oOo-

"Raiya Andrina, akan ditempatkan di Pulau Maluku, bersama enam relawan lainnya."

Raiya Andrina. Raiya yang dalam bahasa sansekerta berarti aliran, dan Andrina yang berarti berani dalam bahasa Yunani. Raiya Andrina, manusia yang selalu membawa aliran manfaat bagi sekitarnya, dan berani dalam memperjuangkan impiannya.

Opan, saya masih ingat dengan apa yang kamu rendahkan tentang saya dibangku kelas dulu. Bukannya saya dendam, hanya saja saya tidak ingin mengecewakan kamu dan teman-teman, yang telah mengetahui apa impian besar saya di masa depan saat itu. Terima kasih, ya, atas rendahan yang berhasil kamu utarakan waktu itu, suplemen redahannya sangat manjur.

Esok, hari Sabtu, Raiya dan enam relawan lain akan berangkat ke Maluku, tempat mereka mengabdi menyucurkan peluh. Tanah pertama yang akan Raiya jejaki sebagai relawan milik negeri. Bahagia. Bukan lagi menjadi sebuah kata yang mampu mewakilkan perasaannya saat ini, karena beribu mimpi masih menunggunya di ujung negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *