Pernah Jadi Aktivis Kampus, Nyai Farida Ceritakan Kisahnya dengan Gus Sholah

Kontributor: Arina

smatrensains.sch.id-Minggu, 26 September 2021, Pondok Pesantren Tebuireng 2 mendapatkan kunjungan dari Nyai Farida Shalahuddin Wahid, istri dari pengasuh Pondok Tebuireng ke-7, almarhum Gus Sholah. Nasihat-nasihat disampaikan Nyai Farida di Masjid Shalahuddin Al-Ayyubi dan dihadiri oleh warga Pondok Pesantren Tebuireng 2, tak terkecuali 829 santrinya yang sedang emngenyam pendidikan di SMA Trensains maupun SMP SainsTebuireng.

Tidak hanya menyampaikan petuah untuk santri Tebuireng 2, Nyai Frida juga berkenan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari santri.  Satu diantaranya adalah pertanyaaan dari Sohifah, santri putri kelas 12, yang bertanya tentang tips awet muda Nyai Farida, yang masih terlihat cantik dan bugar diusianya yang ke 77 tahun. 

"Tipsnya adalah dengan berwudhu setiap kali keluar. Saya menjaga diri dengan membersihkan tubuh dzohir yaitu dengan selalu berwudhu. Selain itu saya juga tetap rutin olahraga sampai saat ini. Dulu saya bersama Gus Sholah selalu keliling kompleks sampai 4 kilometer. Yang terakhir, memakan makanan yang bagus. Bukan makanan yang enak, melainkan makanan yang berkualitasa."

Kemudian Nyai Farida juga menjawab pertanyaan menganai patriarki, yang dilontarkan oleh Amanda, santri kelas 11. Amanda bertanya menganai pandangan sebagian orang yang mengatakan bahwa perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi karena akan menyamai derajat pria, dan pada ujungnya perempuan akan berakhir di dapur. Nyai Farida menjawab,

"Kalau seorang perempuan, calon ibu, tidak mau sekolah tinggi-tinggi, bagaimana anaknya? Carilah ilmu setinggi langit untuk mendidik anak, karena didikan seorang ibu yang berpendidikan akan berbeda dengan yang tidak."

Selain pertanyaan di atas juga ada pertanyaan dari Keivano, santri kelas XI. 

"Banyak yang berkata bahwa almarhum Gus Sholah sangat disiplin dan dapat me-manage waktu dengan baik. Bisa Nyai ceritakan sedikit mengenai kebiasaan-kebiasaan Gus Sholah dalam me-manage waktu atau berkas-berkas beliau?"

"Banyak kebiasaan-kebiasaan Gus SHolah yang dapat ditiru. Kalau kebiasaan sehari-harinya, setiap pagi bangun jam tiga, langsung tahajud bersama saya. Kemudian dzikir sampai shubuh. Kalau kalian amati, tangan Gus Sholah ketika di dalam mobil atau dalam suatu acara selalu bergerak. Beliau sedang membaca wirid.

Setelah shubuh, Gus Sholah membuat kliping mengenai hal-hal penting yang diambil dari koran, kemudian dijilid. Gus Sholah juga rutin nderes bersama saya minimal satu juz tiap hari. Sekarang saya merasa kehilangan karena harus melakukan semuanya sendiri," jawab Nyai Farida atas pertanyaan Keivano

Pertanyaan selanjutnya diajukan oleh santri putra kelas X, yang bertanya mengenai tips parenting yang baik. Nyai Farida menjawab bahwa anak harus diarahkan sesuai dengan hal yang diminatinya. Kalau anak menyukai ilmu sosial, jangan paksa dia untuk menjadi dokter. Anak adalah barokah untuk orang tua sehingga harus dididik dengan baik. 

Pertanyaan kelima sekaligus pertanyaan terakhir yang disampaikan adalah pertanyaan yang diajukan oleh Farah, santri kelas XII. Farah ingin tahu tentang bagaimana pertemuan pertama kali Gus Sholah dan Nyai Farida.

"Gus Sholah dulu aktif di ITB, saya di UI, dan bertemu saat acara kampus. Karena sesama aktivis kampus, pemikiran saya dan Gus Sholah bisa cocok, " jawab Nyai Farida, menjadi penutup dari sesi tanya jawab.

Setelah santri puas dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, Nyai Farida berfoto dengan seluruh santri yang hadir. Kemudian acara ditutup dengan do'a yang dipimpin oleh Ustadz Halim.

Leave a Reply

Your email address will not be published.